Rutinitas pagiku telah selesai dua jam lalu. Sudah dua bulan siklus hidupku begini-begini saja. Bangun, mandi, makan, melamun adalah kegiatan konstanku. Suasana rumah begitu senyap padahal aku sudah menyalakan televisi di depanku. Keributan dari arah dapur pun tidak membantu untuk menghidupkan suasana rumah ini. Agaknya suasana hatiku tidak begitu bagus. Aku duduk melamun sambil mengamati berbagai kudapan yang disajikan ibu di meja makan, rasanya seperti menunggu sesuatu yang tak kuketahui.

Aku menatap kosong layar televisi yang menayangkan acara komedi yang lebih menyerempet ke arah bodoh. Bertanya-tanya siapa yang dapat menggiring dunia pertelevisian Indonesia menjadi lebih baik. Aku muak melihat sampah-sampah yang membuat skandal malah tersenyum sumringah di depan kamera. Benar-benar buruk. Memilih untuk mengambil buku TTS, aku memilih menyibukkan diri dengan mengerjakan soal-soal.

“Yang tidak dimiliki oleh pemerintah. 8 huruf,” monologku.

Berpikir sejenak, kemudian menuliskan huruf tersebut pada kolom. “K. E. A. D. I. L. A. N. Yah benar keadilan,” ucapku pelan.

“Penyangkalan. 6 huruf menurun,” monologku kembali.

Pemikiranku langsung tertuju pada kata denial. Denial. Denial. Denial. Ketika ingin mencocokkan kata tersebut pada kolom, suara yang dikeluarkan oleh televisi membuyarkan perhatianku. Manik mataku memperhatikan seorang pria berjas rapi yang sedang membuka acara berita. Akhirnya aku tahu, apa yang sejak tadi aku tunggu-tunggu. Berita tentang diriku.

…kasus ini dihentikan karena tidak adanya bukti yang cukup. Pelaku berinisial RK tidak akan ditahan dan hanya dikenai wajib lapor ke kepolisian. Senin, 4 februari lalu, korban yang berinisial MR melaporkan RK ke kepolisian setempat atas dugaan tindak pelecehan…

Hening. Telingaku seketika berdengung keras. Ini bukan yang aku harapkan. Apa orang-orang gila ini sedang membuat lelucon? Kenapa tiba-tiba? Aku benar-benar terkejut. Aku bahkan tidak bisa menangis saking terkejutnya. “Sial hahah,” gumamku.

Teriakan ibu dari arah dapur membuatku reflek mematikan televisi. Tanganku yang masih memegang pulpen seketika gemetaran. “Miro, makan siang hampir jadi cepat kesini!” teriaknya. “Iya bu!” jawabku sambil berjalan kearah dapur. Dipikiranku saat ini bertanya-tanya bagaimana reaksi ibu nantinya apabila mengetahui hal tadi. Apa ibu akan mempercayaiku?

***

Aku sibuk mencoret-coret kertas sambil menunggu masakan ibu matang. Tersisa sup yang belum tersaji di atas meja. Aroma sedap merebak ke seluruh sudut ruangan. Membuatku semakin merasa lapar. Aku baru menyadari bahwa hanya ada aku dan ibu yang ada di rumah. Tidak terlihat keberadaan adikku sejak pagi tadi.

“Ibu, Maru kemana?” tanyaku pada ibu yang sedang mencuci piring sembari menunggu supnya matang.

“Pergi. Adikmu akhir-akhir ini sangat sibuk. Ibu tidak tahu apa yang dilakukannya. Dia tidak mengatakan apapun pada ibu,” jawabnya seadanya.

“Ohh…” aku menanggapi ibu.

“Aku sedikit khawatir terhadap Maru. Maru banyak diamnya belakangan ini. Aku juga sempat melihat dia menangis kemarin, Bu. Apa jangan-jangan dia dibully, ya?” tanyaku sedikit panik.

“Hustt! Jangan berkata seperti itu! Adikmu laki-laki, dia pasti lebih bisa menjaga dirinya sendiri,” intonasi ibu sedikit naik saat menjawab pertanyaanku.

Aku hanya diam enggan menanggapi ibu. Takut pembicaraan ini dapat memperkeruh suasana di rumah ini. Aku akan bertanya langsung kepada Maru nanti. Sekarang, aku bingung bagaimana cara mencairkan ketegangan antara aku dengan ibu.

“Ibu…” cicitku.

Hening.

“Ibu…” panggilku lagi. Masih tidak ada jawaban dari ibu.

“Ibu, habis ini aku ingin pergi keluar,”

“Kemana?”

“Tidak tahu. Kemana pun? Aku ingin melihat langit secara langsung. Sudah lama aku tidak keluar dari rumah.”

“Berhenti melakukan hal aneh. Apa kamu tidak malu? Apa tidak malu terlihat tetangga? Apa tidak takut dengan cacian para tetangga? Jika kamu tidak malu setidaknya pikirkan adikmu. Bagaimana jika berimbas pada adikmu? Dia masih anak sekolahan. Teman-temannya mungkin saja mengolok-oloknya sekarang karena memiliki kakak yang tidak pandai menjaga diri…” Ibu masih terus melontarkan kalimat-kalimat itu lagi.

Aku menundukkan kepala. Ceramah ibu yang sudah aku hapal naskahnya di luar kepala. Aku merobek kertas memo di samping telepon rumah. Mencoret-coret kertas tersebut untuk melampiaskan perasaanku. Ibu membuatku muak kali ini. Mood ku benar-benar buruk. Air mataku kutahan sekuat mungkin. Enggan melampiaskan amarah ke ibu, aku bergegas ke luar dari rumah. Meninggalkan kertas memo itu diatas nakas bersama ibu yang masih terus mengomel tidak jelas.

***

Aku memutuskan pergi dari rumah dengan sedikit berlari. Takut-takut ibu mengejarku. Saat sudah merasa cukup jauh dari rumah, aku memelankan langkahku. Ku hembuskan nafasku secara perlahan untuk meredakan emosi dan kesedihanku. Cuaca cukup terik siang ini. Langit sangat cantik untuk dilihat secara langsung. Ketika aku sampai pada persimpangan jalan, aku bertemu dengan sekumpulan ibu yang berjalan bergerombol. Aku melemparkan senyumku dan menyapa ibu-ibu tersebut saat melihat ada beberapa orang yang aku kenal sebagai tetanggaku. “Siang ibu,” sapaku mencoba sopan.

Tidak ada yang menanggapi. Hanya tatapan sinis yang aku terima. Mereka berjalan melewatiku dengan berbisik-bisik. Aku mencoba abai dan kembali melangkahkan kaki. Akan tetapi, langkahku terhenti ketika telingaku mendengar bahasan mereka. Bisik-bisik itu terlalu keras untuk disebut bisik.

“Apa ibu-ibu sudah liat berita tadi pagi? ternyata anak pengusaha kayu jati itu tidak bersalah. Dia tidak jadi di penjara,” suara salah satu ibu yang tertangkap telingaku.

“Beneran? Lagian mana mungkin anak sependiam itu melakukan perbuatan tidak senonoh. Dia dibesarkan di keluarga yang religius,” seseorang disampingnya menyahut.

“Yang perempuan saja sepertinya berlebihan. Dari pakaiannya saja terlihat seperti anak nakal,”

“Sepertinya memang anak nakal. Aku sering melihat dia pulang pergi tengah malam. Gatau deh ngapain,” 

Aku kembali memandang lurus ke depan dengan penuh air mata. Berlari sekencang mungkin tak tahu arah.

Beberapa menit kemudian, aku menghentikan langkahku. Telingaku menangkap suara air mengalir dengan deras. Tak jauh dari tempat aku berdiri, aku melihat sosok yang tampak familiar. Perempuan berambut silver yang sedang berdiri di atas jembatan, memandang sungai seorang diri. Tidak salah lagi itu adalah Yua, teman kecilku. Aku buru-buru menghapus air mataku dan segera menghampirinya.

Aku iseng memegang lengannya untuk sekadar mengagetkannya. Dia memang kaget. Bahkan benar-benar kaget. Dia berteriak histeris sebagai tanggapan atas keisenganku. Ketika dia menoleh ke arah ku, kali ini aku yang dibuat kaget. Yua yang menjadi primadona kelas pada zamannya seperti bukan Yua. Wajahnya penuh dengan luka dan lebam, matanya sembab seperti telah menangis 3 hari 3 malam, rambutnya kusut dan patah. Ini bukan Yua yang aku kenal.

Aku hanya diam enggan bertanya apa yang terjadi dengannya. Aku yang sebelumnya juga ingin bertanya tentang kabarnya saat ini sudah terjawab tanpa keluar sepatah kata pun.

“Hai Miro, lama tidak bertemu, ya?” dia memulai percakapan.

“Sudah 8 bulan? Wah aku kira kita adalah soulmate yang tidak terpisahkan, ternyata kau pergi meninggalkanku di kota jelek ini sendirian,” jawabku sedikit menambahkan lelucon.

Yua kemudian tertawa setelah mendengar jawabanku. “Benar. Setelah menikah dengan pria gila itu aku dibawa pergi ke kota seberang,” jawabnya dengan sedikit menekan kata ‘gila’.

Yua memfokuskan pandangannya lagi pada aliran sungai di bawahnya.

Tawanya terdengar miris di telingaku. Dengan suara yang serak dia menceritakan sendiri apa yang terjadi pada dirinya. Suaminya yang terkenal baik dan dermawan adalah penjahat berotak udang. Memukulinya tiada ampun setiap saat. Ketika dia meminta tolong kepada tetangga sekitar, tidak ada yang memercayainya. Dia malah disuruh untuk bersyukur karena telah menikah dengan seorang pria dermawan. Keluarganya pun mengatakan bahwa dia melakukan pembualan besar. Ibunya bahkan beranggapan bahwa Yua yang kurang berbakti kepada suaminya sehingga dia selalu kena marah. Tidak ada yang mempercayainya.

Tidak ada air mata yang keluar ketika Yua menceritakan kisahnya. Matanya seperti sudah tidak bisa memproduksi air mata lagi karena telah bekerja extra sebelumnya. Sebaliknya, aku yang menangis mendengarnya. Aku berprasangka bahwa Yua hidup enak setelah menikah dan enggan menemui lagi ke kota ini.

“Bagaimana dengan kasusmu? Apa kau menang?” tanyanya tenang.

Aku semakin menangis histeris mendengar pertanyaannya. Emosiku tidak dapat ku kendalikan. Memikirkan bahwa aku kalah setelah berjuang beberapa bulan. Memikirkan ucapan ibu di dapur yang menyakiti hati. Memikirkan gunjingan dari orang-orang yang aku terima saat menuju tempat ini. Aku kalah. Tidak ada yang memihakku saat ini.

“Mereka bilang aku perempuan yang tidak pandai menjaga diri, penggoda gila yang berusaha bersikap playing victim,

“Bagaimana bisa?!! Apa yang salah denganku?!” teriakku mendongak ke langit.

“Apa yang salah dengan pakaianku? Apa yang salah dengan parfumku? Kenapa dengan jam keluarku? Semua itu tidak ada yang salah. Pria gila itu saja yang tidak mampu mengendalikan nafsu setannya!” aku masih tidak dapat menghentikan tangisku. Aku berjongkok memeluk diriku sendiri dan menyembunyikan muka. Yua membantu menenangkanku.

Hampir setengah jam keheningan terjadi.

“Dunia memang kejam,” Yua mendesis.

“Kita yang kecil ini, dipaksa untuk memahami dunia besar yang penuh dengan kegilaan. Hidup kita seperti film yang memiliki cerita dan alur yang berbeda. Akan tetapi, inti dari film kita ini adalah harus mampu menghadapi kekejaman dunia yang semakin menjadi-jadi,”

Aku hanya diam mendengarkan ucapan Yua yang ada benarnya. Otakku macet saat ini.

“Setiap harinya kita berusaha keras untuk mendaki mencari apa itu yang namanya kebahagian. Dalam perjalanannya, kita mengalami luka baik bersama dengan pasanganmu maupun seorang diri. Atau mendapatkan luka dari pasanganmu?”

“Pada titik tertentu, kita mulai tersadar bahwa mencapai puncak bukanlah akhir dari segala penderitaan. Pada titik puncak tersebut kita tidak akan selamanya berbahagia. Penderitaan akan selalu ada. Semuanya bisa kita lalui jika saja orang terkasih kita ada bersama kita. Tapi bagaimana jika tidak ada? Lebih buruknya, bagaimana jika kunci dari segala penderitaanmu ada pada mereka?”

“Satu-satunya jalan ialah pergi dari zona yang sempat menjadi tempat ternyaman kita tersebut.” Yua melanjutkan ucapannya.

Aku menatap kosong sungai yang makin deras di bawah sana.

Yua kembali membuka suara. “Miro… kita soulmate, kan?” tanyanya sedikit random.

Aku menengok ke arah Yua yang ternyata juga menatap sungai di bawah sana. “Pasti. Ada apa? tanyaku juga.

Dia menggeleng pelan. “Untuk keluar dari zona tersebut kita harus terjun dari puncak itu. Kita harus melakukannya secara inisiatif. Jika tidak, orang-orang kita yang akan mendorong kita untuk terjun bebas tanpa aba-aba.” lanjutnya bercerita.

“Miro..” panggil Yua lirih.

Aku kembali menengok ke arahnya yang masih tetap menunduk ke bawah sana. “Yaa?”

“Jika seperti itu, bagaimana jika bersama-sama saja? dia mengubah atensinya ke arahku. Aku melihatnya tersenyum miris menahan tangis.

“Miro… mau terjun bersamaku?” tanyanya lagi.

Aku memperhatikan bola matanya yang tidak seindah dulu. Penuh kesedihan. Sekelebat kejadian yang aku lalui muncul. Satu-satunya orang yang aku percaya dan aku harapkan untuk percaya padaku, ternyata juga tidak mempercayaiku. Ibu.

Aku tersenyum getir dan menganggukan kepalaku dengan pelan.

“Ayo,” lirihku.

 

END

Penulis: Dewi Fitriah

Editor: Pahlevi Aulia R.

Ilustrasi: Nisrina Salma