Pakaian atau busana bukan lagi menjadi fungsi penutup bagian tubuh manusia, melainkan beralih menjadi kebutuhan sosial yang harus dipenuhi setiap orang, khususnya kaum hawa atau perempuan. Pakaian juga merupakan salah satu identitas diri dalam hal bersosialisasi dengan masyarakat luas. Perkembangan trend mode berbusana pun nampaknya selalu tak luput dari sorotan kaum yang satu ini.

Dinilai wajar, memang seharusnya. Namun di sisi lain,pencitraan akan diri mereka pun akan lahir seiring pertumbuhan gaya berpakaian dari masa ke masa. Tentunya kondisi ini memberikan suatu pemikiran kritis untuk kehidupan sosial yang dilakukan oleh kita semua. Yaitu Karakter seseorang dibentuk dari sepotong pakaian. Miris memang, namun itulah fakta sebenarnya yang terjadi di lingkungan sekitar kita.

Dewasa ini telah menyorot bahwa prioritas masyarakat dalam hal berpakaian akan sangat tergantung pada keadaan sosial lingkungan sekitar. Segmentasi pasar bukan lagi mementingkan kebutuhan namun lebih kepada trend berbusana pada setiap era.

Pribadi atau karakter seorang wanita seolah dibentuk melalui trend berbusana yang sedang menjadi top ranking dalam kehidupan sosial mereka, terutama para perempuan remaja yang masih terbilang cukup labil. Mereka inilah makanan empuk bagi para kompetitor pakaian untuk menjual produknya ke pasaran.

Keterasingan. Itulah kata yang pas diperuntukkan bagi mereka yang mempunyai selera mode rendah. Demi mendapat perhatian dari sesamanya maupun lawan jenis atau bahkan suatu kelompok sosial, mereka akan berupaya semaksimal mungkin untuk melakukan suatu perubahan di dalam dirinya dalam hal mengikuti gaya berbusana maupun berpakaian.

Jelas sekali, pribadi mereka yang sebenarnya akan tertutupi oleh kuatnya arus trend berbusana yang ada. Masalah akan semakin kompleks ketika kita tak mampu membuat perubahan itu menjadi salah satu kreatifitas yang dapat dimanfaatkan sebagai proyeksi pengenalan diri terhadap dunia luar.

Sudah terlampau jauh saat kita sebagai kaum hawa berfikir realistis bahwa mode berpakaian adalah hambatan untuk memantulkan jati diri yang sebenarnya dalam sebuah cermin hidup. Alangkah naif memang, apabila pengagum busana no. 1 ini memerintahkan dirinya untuk tampil beda pada dunia sosial yang jelas-jelas selalu melahirkan hal baru yang terkadang kurang dapat diterima oleh akal sehat.

Lalu, jejak apalagi yang tertinggal dari sederet kompleksitas antara perempuan dan pakaian. Masih terpatri kuat bahwasanya perempuan akan sangat percaya diri di tengah  lingkungannya apabila gaya berbusana mereka sama dengan kondisi mode yang lagi populer saat itu. Dan hal tersebut sepertinya sudah menjadi rumusan baku untuk latar belakang pribadi kaum hawa sendiri.

Sebenarnya kepribadian itu akan lahir dari cara pandang kita dalam menjalani kehidupan ini. Cukup dengan sebuah pakaian menjadi referensi dalam memperlihatkan karakter diri kita yang sebenarnya bukan menjadi tolak ukur untuk memulai langkah hidup sosial kita. Diterima atau tidak dalam suatu kelompok sosial masyarakat ditentukan oleh tingkah laku dan perbuatan, bukan pakaian yang kita kenakan.

Suatu metode pembelajaran tersendiri memang, jika sanggup untuk berupaya memaksimalkan potensi yang dimiliki daripada harus bersembunyi di balik selembar kain yang bernama pakaian. Meskipun trend mode berbusana dari waktu ke waktu akan terus mengalami perubahan danberpengaruh pada perubahan sektor sosial kita. Namun, tetaplah pada kebanggaan akan jati diri masing-masing individu. Layaknya perahu di lautan, jangan mudah terbawa arus jika kita tidak sanggup untuk mengarunginya.

Penulis : Anita Aprilia