76 tahun yang lalu, tepatnya hari ini sejarah perjuangan terjadi di Surabaya. Bermula pada 27 Oktober 1945 beberapa pekan setelah peristiwa sakral Indonesia. Di mana sekutu memenuhi langit Surabaya dengan selebaran yang memaksa tentara Indonesia untuk menyerahkan senjata. Sekitar 200 prajurit Indonesia tewas atas insiden penyerangan yang dilakukan sekutu pada 28 Oktober 1945. Bentrokan terus berlanjut pasca prajurit Indonesia dan pihak sekutu gagal melakukan perundingan pada 29 Oktober 1945.

Pertempuran kian memanas pada 30 Oktober 1945 ketika A.W.S. Mallaby yang merupakan brigadir jenderal Britania yang tewas karena pengepungan oleh prajurit Indonesia Mansergh, yakni pengganti Mallaby mengeluarkan ultimatum akan melakukan bombardir di Kota Surabaya apabila pihak Indonesia menolak untuk menyerahkan senjata. Tentu, rakyat Surabaya tidak gentar dengan ancaman tersebut. Hingga puncaknya, pada 10 November 1945 terjadi pertempuran pasukan Inggris mulai melakukan penggempuran Kota Surabaya dari darat, laut bahkan udara. Pada insiden pertempuran tersebut, puluhan ribu rakyat Surabaya serta pejuang menjadi korban dan gugur. Hingga pertempuran berakhir pada 28 November 1945. Selanjutnya pada 10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan yang merupakan bentuk mengenang jasa-jasa para pahlawan yang telah berkorban untuk Indonesia.

Arti penting pahlawan ialah sebagai pejuang yang mempertahankan kekokohan pondasi bangsa. Perjuangan tersebut yang harus dikenang dan diteladani oleh semua generasi. Untuk saat ini, semua generasi mampu menjadi pahlawan pada ukurannya masing-masing. Makna pahlawan tidak terpaku pada siapa yang paling depan dalam mengangkat senjata,  namun siapa yang mampu menjadi penyelamat untuk masing-masingnya.

Support system di masa pandemi

Di tengah hiruk pikuk berbagai persoalan di masa pandemi, terdapat satu problematik yang kian mencuat ke permukaan, yaitu terkait kesehatan mental. Laporan UNICEF pada Oktober 2021 yang berjudul The State of The World’s Children 2021, On My Mind : promoting, protecting and carring for children’s mental health, kesehatan mental anak-anak dan pemuda hanya seperti gunung es yang terlihat puncaknya. Hal ini dapat diartikan bahwa hanya sebagian kecil yang dapat dilihat dan yang lainnya tersembunyi bahkan tidak terlihat. Kesehatan mental memiliki arti penting khususnya bagi anak-anak di dunia, karena merupakan bentuk investasi positif. UNICEF menjelaskan, “As a result, many millions of children and young people struggle in silence, thwarted by stigmas and misunderstanding“. Banyak anak dan remaja yang berjuang dalam diam, dan terhalang oleh stigma negatif masyarakat tentang kesehatan mental. Hal ini pada akhirnya dapat menjadi bom waktu yang dapat meledak kapan saja di masa mendatang.

Berdasarkan survei internasional yang dilakukan oleh UNICEF dan Gallup- terhadap anak-anak dan orang dewasa di 21 negara yaitu, sekilas hasilnya pada laporan The State of The World’s Children 2021– dijelaskan bahwa adanya median 1 dari 5 yang berusia 15-24 tahun yang menyatakan sering merasa depresi bahkan memiliki minat yang rendah dalam berkegiatan. Dampak pandemi terhadap kesehatan serta kesejahteraan mental semakin terlihat memburuk hingga saat ini. Secara global UNICEF memaparkan setidaknya terdapat 1 dari 7 anak mengalami dampak langsung dengan adanya karantina dan 1,6 miliar anak terdampak dari pemberhentian proses belajar mengajar. Gangguan-ganguan lain sebagai dampak pandemi yang terjadi terlihat pada adanya kecemasan anak muda seputar keuangan keluarga, kesehatan dan masa depan.

Henrietta Fore selaku Direktur Eksekutif UNICEF berpendapat “18 bulan terakhir merupakan waktu yang sangat berat bagi kita terutama bagi anak-anak. Berbagai peraturan karantina secara nasional yang dilaksanakan di berbagai negara, serta pembatasan mobilisasi karena pandemi, berdampak pada anak-anak yang harus merelakan waktu berharga-mereka, terpisah dari keluarga, teman, sekolah, dan bermain”. Lanjutnya, Henrietta Fore menjelaskan bahwa sebelum pandemi banyak anak yang telah terbebani masalah kesehatan mental tanpa jalan keluar.

Sebelum pandemi sekalipun, telah banyak anak yang terbebani masalah kesehatan mental yang tidak memiliki jalan keluar. Berbagai macam investasi yang dilakukan pemerintah dunia untuk kesehatan mental dirasa masih sedikit. Belum banyak yang mengaitkan bidang kesehatan mental yang baik dengan kualitas seseorang di masa depan”.

Peran diri sendiri sebagai pahlawan dalam kesehatan mental

Di era sekarang ini, definisi pahlawan tidak selalu dengan mengangkat senjata untuk melawan maupun mempertahankan negara. Hal ini bisa dilakukan dengan menjadi pahlawan untuk diri sendiri. Peran tersebut dapat dimulai dari skala terkecil yakni mencintai diri sendiri. Sejak 2017, UNICEF melakukan kampanye yang bertajuk Love Myself. Dikutip dari CNN Indonesia, kampanye ini bertujuan untuk mendorong segala potensi dan membuang batasan dari anak muda, serta mengakhiri kekerasan terhadap anak-anak dan remaja di dunia.

I want to hear your voice, no matter who you are, where you’re from, your skin colour, gender identity : speak yourself ” – Kim Nam-joon. Salah satu pesan pidato yang disampaikan untuk anak muda pada sidang PBB ke-73 di New York, 2018 silam.

Kampanye yang dilakukan oleh UNICEF ini merupakan bentuk dukungan pada permasalahn-permasalah mental yang sering dialami oleh anak muda dunia. Dengan menyebarkan pesan positif, diharapkan banyak pihak yang mulai peduli dengan kesehatan mental. Hal ini karena salah satu faktor yang menyebabkan kesehatan mental anak muda dunia mengalami penurunan ialah, adanya stigma masyarakat. Stigma negatif dari masyarakat inilah yang mendasari bahwa perlu adanya pemahaman tentang kesehatan mental.

Mencintai diri sendiri memiliki arti penting dalam kehidupan. Seperti yang diungkapkan oleh Margaret Paul, bahwa mencintai diri sendiri adalah sikap memahami kebenaran nilai dalam diri, dan mengerti apa yang sebenarnya ada dalam diri. Bukan berati menilai diri pada tampilan fisik atau performa diri, namun pada keyakinan untuk menerima diri, pengendalian dan penguasaan diri, serta rasa hormat yang tujukan kepada diri sendiri.

Hal ini memberi keyakinan baru bahwa mencintai diri sendiri merupakan langkah awal dalam menjaga kesehatan mental seseorang. Berbagai kesibukan yang dilakukan dengan tekanan-tekanan yang ada membuat siapa saja akan mudah mengalami kelelahan baik fisik ataupun mental. Tentunya ini akan berujung pada masalah kesehatan mental. Pada hari pahlawan ini, menjadi pahlawan untuk kesehatan mental diri merupakan satu perwujudan mencintai diri sendiri yang bisa dimulai-serta dipertahankan.

 

Penulis: Dila Frilana

Editor: Aldo Manalu

Ilustrator: Syadza Qothrunnada