Penulis : Danar Yudhitya P.

Dewasa ini, kondisi alam memperlihatkan keadaan yang semakin kritis dengan munculnya kerusakan berkepanjangan karena eksploitasi manusia yang tiada henti. Eksploitasi tersebut bermula dari pola pikir mengenai penaklukan alam yang telah dibawa oleh manusia sejak zaman purba. Bahkan di saat ini, seringkali manusia mengatasnamakan kemajuan untuk membenarkan tindakannya dalam merusak ekosistem. Contoh kecilnya, sistem pertanian modern yang menggunakan pestisida dan pupuk artifisial yang menyebabkan terganggunya kegemburan tanah. Bentuk lain perusakan alam yang secara masif, terstruktur dan sistematis banyak dilakukan oleh para cukong korporasi.

 Fenomena kerusakan alam Indonesia

Jika mengacu pada Indonesia yang memiliki kekayaan alam melimpah, relasi manusia dengan alam tak lebih baik keadaannya. Kebakaran hutan yang terjadi di Sumatera dan Kalimantan merupakan realitas perusakan alam yang tak bisa dipungkiri. Pembakaran tersebut merupakan kegiatan pembersihan lahan (Land Clearing) gambut yang dilakukan oleh korporasi dengan tujuan untuk ditanami tumbuhan kelapa sawit yang merupakan salah satu komoditi terbesar dalam ekspor Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) Riau mencatat, pada tahun 2012 jumlah lahan perkebunan kelapa sawit mencapai 2.372.402 hektar atau seperempat dari luas wilayah Riau. Jumlah tersebut tentu terus akan bertambah. Untuk lahan gambut di Riau hanya mencapai 5 hektar, sedangkan lahan yang dikelola masyarakat sebesar 1350 hektar. Dengan pembanguan pabrik berskala besar tersebut pasti akan menimbulkan kerusakan tanah, air dan udara di lingkungan sekitar.

Hal serupa juga dilakukan oleh PT. Tirta Wahana Bali Internasional yang akan melakukan reklamasi di Tanjung Benoa Bali demi menambah pundi-pundi laba perusahaan. Mereka tak memperdulikan kerusakan ekosistem terumbu karang di tempat tersebut. Selain itu, reklamasi tersebut juga akan menyebabkan tenggelamnya Tanjung Benoa oleh air rob (banjir oleh air laut). Terbukti dari pengurukan di pulau Serangan untuk pembangunan jembatan jalan by pass, air rob menenggelamkan permukiman warga ketika air pasang datang. Bahkan untuk pengurukan di Tanjung Benoa, investor mengambil tanah dari pesisir pantai di Kabupaten Lombok Timur yang pastinya akan menambah kerusakan ekosistem bahari.

Keadaan yang lebih nahas lagi di alami oleh tanah yang paling subur di daerah Indonesia, yaitu tanah Papua. PT. Freeport Indonesia melakukan ekspoloitasi besar-besaran sejak tahun 1967 saat keran pasar bebas dibuka oleh Orde Baru. Anak perusahaan dari PT. Freeport McMoRan asal Amerika Serikat ini telah mengambil lahan lebih dari 2,6 juta hektar, diantaranya 119.435 hektar merupakan kawasan hutan lindung dan 1,7 juta hektar lainnya adalah kawasan hutan konservasi.

Beberapa realitas diatas merupakan fenomena kerusakan alam Indonesia yang disebabkan oleh keserampangan manusia dalam pemanfaatan alam. Hal ini tidak lepas dari pandangan manusia modern dalam melihat alam sebagai sebuah obyek yang dapat di eksploitasi sesukanya demi keberlangsungan hidup dari subyek (manusia) itu sendiri.

Pemahaman mengenai alam

Secara sadar manusia memberikan perlakuan etisnya hanya pada obyek yang rasional atau yang berakal. Sedangkan alam dihayati oleh manusia sebagai sebuah obyek yang non-rasional. Pandangan tersebut berbasis pada moralitas yang berasal dari pemikiran rasional sehingga hanya pihak bernalar yang mendapat perlakuan etis. Menanggapi hal tersebut, kita dapat merujuk pada teori Arne Naess yang menyatakan bahwa manusia menjadi pelaku moral bukan karena ia makhluk rasional, melainkan karena ia juga memiliki kepekaan emosional. Namun hal itu tidak cukup untuk mendorong manusia akan sadar mengenai keberadaan alam.

Banyak yang mencoba untuk memecahkan masalah ini dan merekomendasikan solusi. Namun kita masih terjebak dalam dikotomi pemikiran antara ekosentrisme, yang menunjukan berbagai kerusakan alam dan kemerosotan lingkungan hidup dengan antroposentrisme, yang menjelaskan relasi antara manusia dengan alam sekitarnya. Jika ingin melakukan rekonstruksi alam yang rusak, kita tidak dapat menyelesaikannya melalui pandangan etis praktis karena akan terjebak dalam pemikiran ekosentrisme yang tanpa memandang kepentingan manusia. Maka perlu disadari melalui pemahaman ontologis mengenai alam. Dengan demikian, revolusi ontologis tentang relasi manusia dengan alam perlu diadakan. Ontologi itu tidak bekerja terpisah antara manusia sebagai subyek yang berkesadaran, dan alam sebagai obyek yang diandaikan sebagai mekanistik dan non-kesadaran.

Permasalahan disekuilibrium manusia dengan alam, dengan penggunaan teknologi yang serampangan yang mengakibatkan kehancuran alam. Persoalan ini dikupas dengan teori Heidegger yang menjelaskan subyek bereksistensi melalui keterlibatannya dengan alam, hendak menciptakan cakrawala baru dalam pemahaman relasional manusia terhadap alam. Heidegger juga menerangkan, bila rasio selalu diperlawankan dengan alam, dan teknologi dibenturkan dengan yang alamiah, maka hal itu membuktikan dualisme usang yang kontradiksi antara ekosentrisme dan antroposentrime.

Ekuilibrium manusia dengan alam dalam pandangan fenomenologi

Ditegaskan sebelumnya, untuk menyoroti  persoalan relasi manusia dan alam dengan metode yang lebih akurat dirasa perlu dilakukan. Namun sebelum membedah relasi tersebut dengan metode fenomenologi,hendaknya dipahami benar metode tersebut memiliki pisau analisis seperti apa. Fenomenologi, memiliki kata dasar fenomena yang diartikan oleh Martin Heidegger sebagai benda yang termanifestasi di dalam kebendaan itu sendiri (itself in itself). Maka dari itu, pemahaman fenomenologi merupakan upaya memahami objek atau benda dengan nilai kebendaan itu sendiri. Merujuk interpretasi Heidegger, mengenai manifestasi ialah menampilkan secara total, tidak terputus atau partikular, realitas tentang fenomena itu. Dengan demikian, fenomena memiliki artian berbeda dengan apa yang tampak. Memang keduanya dapat diobservasikan secara indrawi, tetapi dengan memahami fenomena dapat meleburkan lebih dalam lagi ke realitas subyek yang lebih kompleks. Hal yang tampak belum tentu menunjukan keberadaan subyek sesungguhnya. Sehingga menurut Heidegger, realitas yang tersembunyi dari yang tampak dapat dipecahkan bila dipandang secara fenomenologis, yakni mencari substansi dari keberadaan fenomena tersebut.

Melalui fenomenologi lingkungan, kesadaran manusia memaknai dunia objektif dapat diserap lebih dalam. Tidak hanya itu, keberadaannya di dunia juga diperhitungkan lantaran berpengaruh terhadap bagaimana ia bereksistensi sebagai individu. Keterbatasan fisik dan determinasi alam tidak lagi diterima sebagai pendasaran penaklukan terhadap alam. Hal ini justru menjadi motif terlibat, menghayati alam sebagai ruang manusia menyejarah dan menentukan makna.

Heidegger mengeluarkan gagasan fenomenologis-eksistensialistik mengenai keberadaan Dasein (ada atau eksistensi). Dasein merupakan menempatkan atau memposiskan dirinya di tengah dunia ini. Namun perlu di pahami perbedaan dunia dengan alam. Alam ialah ide primordial yang mendorong Dasein membangun dunianya dengan alam. Dapat disaksikan hal ini telah diterapkan oleh corak kehidupan suku-suku Indonesia dalam menjalani keberlangsungan hidup tanpa harus mengeksploitasi alam secara membabi buta. Gaya hidup mereka yang bergantung pada alam, dengan  cara menebang pohon demi membangun rumah atau sebagai kayu bakar, tapi tidak melupakan kelestariaan alam. Sebagai contoh Suku Samin menjunjung tinggi nilai budaya dalam melakoni kerja sebagai petani dengan tetap menggunakan pupuk urea. Tak kalah dengan Suku Samin, Suku Baduy dalam menyelaraskan relasi manusia dengan alam mempunyai prinsip bahwa penanaman padi hanya diizinkan sekali dalam setahun. Desa Tenganan Pegringsingandi Pulau Bali medapatkan pengunjung sekitar 46.000 turis/tahun, namun penduduk tetap menumpukan kehidupannya pada alam dari hasil pertanian dan perkebunan.

Model-model ideal ekuilibrium manusia dengan alam tersebut bukan karena mereka tidak tersentuh oleh suatu kemajuan teknologi tetapi mereka mengetahui posisi penggunaan ilmu dan teknologi dalam keselarasan dengan alam. Dalam karyanya The Question Concerning Technology, Martin Heidegger menguji pengetahuan manusia tentang teknologi. Ia mengajukan pertanyaan penting tentang teknologi “ batasannya, akibatnya, dan substansinya. Heidegger mempertanyakan: apakah teknologi? Selepas pertanyaan tersebut Heidegger mengulas betapa selama ini manusia sering terkecoh dengan yang dimaksud teknologi. Manusia sering menyederhanakannya sebagai alat yang dipergunakan manusia untuk memudahkan hidupnya. Namun itu bukan esensi dari teknologi. Mengenali entitasnya lebih dari sebatas alat, membuat manusia lebih peka terhadap relasi dirinya saat ia berkesadaraan untuk berteknologi.

Heidegger juga memberikan format ekuilibrium manusia dengan alam yang berjudul membangun kebudayaan modern dan kompatibilitasnya dengan alam. Ia menegaskan sebelum manusia membangun apapun, harus memastikan bangunan tersebut sesuai dengan rasa damai yang merupakan karakter dari alam. Karena segala tindakan manusia berdampak pada alam, dan kerusakan alam yang disebabkan oleh manusia berbalik berdampak pula pada manusia. Dampak yang diterima manusia berupa fisik dan psikis. Pengaruh ke fisik manusia dapat dilihat dari kesehatan jasmani manusia yang telah terkontaminasi oleh deteriorisasi alam. Sedangkan pengaruh ke psikis manusia telah terlihat dari gejala depresi, gundah, patah semangat, dan stres. Manusia yang mengalami gangguan psikis ini biasanya dirasakan oleh mereka yang hidup di perkotaan. Rekonstruksi budaya yang ditawarkan oleh Heidegger bukanlah suatu yang utopia, karena rekonstruksi tersebut dapat menimbulkan kepekaan manusia terhadap lingkungan yang bisa mengangkat kembali kecintaan manusia terhadap kehidupan alam dan manusia. Era manusia yang serakah, penuh teror dan terputus hubungan dari alam harus diakhiri dengan cara membangun kebudayaan baru melalui reformasi ekologi yang membawa gagasan utama, yakni kecintaan terhadap kehidupan.