Written by  Hesti Rahmadhani

Pemilihan calon legislatif menjadi ritual pembuka pesta demokrasi. 9 April 2014 tak luput dari permainan kotor para aktor. Membeli suara rakyat seakan menjadi hal lumrah dalam pesta 5 tahunan ini. Berbagai modus dilancarkan demi sebuah tahta. Tak heran jika kemudian parlemen hanya berisi serigala-serigala berbulu domba.

Iwan Fals pernah mengatakan bahwa pemilihan umum adalah sebuah harapan. Satu suara adalah satu harapan. Saya setuju pernyataan tersebut. Meski seringkali konsekuensi harapan itu adalah kekecewaan. Seperti halnya ketika pilihan kita ternyata korupsi, ya sudah, laporkan ke komisi pemberantasan korupsi, bantulah mengungkapkan. Apakah kemudian kita harus tetap memilih? Tidak harus, memilih atau tidak memilih itu adalah pilihan, dengan catatan harus memiliki alasan yang logis.

Ada lebih dari 214.5 juta warga punya hak memilih di tahun ini versi Komisi Pemilihan Umum. 30% dari total jumlah pemilih adalah pemilih muda. Demografi yang sangat signifikan, suara mereka sangat berpengaruh dalam menentukan hasil pemilu. Berbagai lini bergerak menyelamatkan suara pemilih muda. Gerakan pendidikan pemilih muda digalakkan disetiap penjuru negeri. Mulai dari memberikan informasi terkait pemilu bersih melalui media digital sampai turun ke jalan melakukan aksi untuk negeri.

Namun ironis, ketika masa depan akan ditentukan oleh generasi muda, banyak generasi muda malah mengikuti arahan para serigala berbulu domba yang haus akan kekuasaan parlemen. Itu terjadi di KAMPUS saya. Mahasiswa yang notabene adalah kaum intelektual, agent of change, seringkali menjadi simbol progresifitas, dan selalu dianggap kreatif, inovatif, penerus bangsa, ternyata suaranya mudah saja dipermainkan.

Alternatif PINDAH PILIH yang diberikan KPU untuk mahasiswa atau warga luar kota yang berada di kota Malang, agar mereka dapat menggunakan hak pilih mereka, ternyata dimanfaatkan berbagai pihak. Di KAMPUS saya, suara mahasiswa pindah pilih dibeli 50 ribu untuk memilih satu serigala berbulu domba. Lebih ironis lagi, ketika seorang mahasiswa di kampus saya yang seringkali berkoar-koar tentang demokrasi, seringkali turun ke jalan berdemo mengatas namakan perubahan untuk negeri, mengaku berideologi, tergabung dalam organisasi pemuda beraliran agama bahkan dia pernah menjadi pemimpin di miniatur negara, dia memobilisasi kawan-kawan sealirannya untuk memilih satu lagi serigala berbulu domba. Dimanakah intelektualitas para mahasiswa ini? Suara mahasiswa dibeli? Demokrasi benar-benar bergeser, dan itu terjadi di kampus saya.

Mengutip pendapat Denny J.A, Munafrizal Manan menjelaskan bahwa ada tiga tantangan bagi negara demokrasi baru seperti Indonesia. Ketiga tantangan tersebut adalah; pertama, paradoks demokrasi. Sistem demokrasi memberikan kemungkinan kepada semua pemimpin untuk menjadi pemerintah jika mereka memenangkan Pemilu. Maka menurutnya, meraih suara terbanyak dalam pemilu adalah satu-satunya mekanisme untuk memerintah sebuah negara demokrasi. Sejauh dibenarkan oleh hukum, seorang pemimpin akan menjalankan bermacam-macam cara agar mendapat suara terbanyak.

Tantangan kedua adalah absennya pemerintah. Transisi ke demokrasi ditandai oleh sentimen yang sangat kuat terhadap anti atas kontrol pemerintah. Sebelum demokrasi, pemerintah hadir dimana-mana, mengawasi, mengekang sekaligus memenjarakan warganya. Namun setelah transisi, peran pemerintah dapat bergeser ke titik ekstrem berikutnya. Pemerintah terasa absen dimana-mana. Masyarakat seolah berjalan tanpa kendali dan arahan pemerintah.

Sedangkan tantangan terakhir bagi negara demokrasi adalah kurangnya komitmen para pemimpin yang sudah terpilih secara demokratis. Tidak semua pemimpin, bahkan yang terpilih secara demokratis sekalipun, bersungguh-sungguh mengkonsolidasikan demokrasi. Sebagian besar dari mereka justru menghancurkan demokrasi.

Untuk menjawab tantangan itulah yang menjadi tugas mahasiswa sekarang. Demokrasi yang baik itu tak pernah berhenti berproses. Sudah saatnya mahasiswa memilih pemimpin yang berintegritas. Pemimpin yang berani menyuarakan anti korupsi dan anti pelanggaran HAM dengan lantang. 9 Juli 2014, Pemilihan Presiden menanti, masihkah suara mahasiswa dibeli? Pilihan kita dipertanyakan, suara kita dipertaruhkan.