Sumber : investmenteurope.net

Kebebasan berekspresi kembali seperti esepsi yang kering setelah pencekalan dan penolakan yang diilakukan beberapa ormas keagamaan pada pertunjukan musik dan bedah buku sebulan ini. Penolakan ini menyangkut kelengkapan administrasi dalam perizinan acara . Namun, dalam subjektifitas saya, bukan persyaratan izin yang menjadi alasan, tapi konten dari kegiatan itusumbernya. Kegiatan tersebut tidak cocok dilaksanakan karena melanggar norma dan menghina agama, seperti penolakan terhadap konser Lady Gaga yang rencananya dilaksanakan pada tanggal 2 uni 2012 di Stadion Gelora Bung Karno.

Gaga ditolak tampil karena melabeli diri sebagai Mother Monster dan fansnya sebagai LittleMonster.Pelabelan ini menimbulkan stigma Gaga sebagai pemuja setan dan akan melakukan ritual-ritual pemujaan setan ketika berpentas. Mereka melihat aksi panggung dan lirik lagu Gaga yang terlalu berbahaya bila dilihat, didengar, apalagi dicerna. Interpretasi Gaga kepada Judas dalam lagu berjudul Judas dan menyebut telah bercinta dengan Judas dianggap telah menghina agama kristen.

Namun, kita melihat sudut lain dari penolakan terhadap Gaga, bahwa penolakan itu tidak mewakili seluruh warga negara Indonesia. Banyak penikmat musik bahkan penggemar berat Gaga yang sudah menunggu konser bertajuk GAGA BORN THIS WAY tersebut. Mereka yang pro menganggap ini hanya konser musik, ini murni entertainment dan bisnis semata, sebagian menilai terlalu berlebihan kalau ada ritual pemujaan setan dikonser Gaga nantinya.

Denny Sakrie, salah satu pengamat musik Indonesia, dalam acara Indonesia Lawyers Club TVOne (ILC TVOne) menjelaskan lirik dan sebutan Mother Monster danLittle Monster hanya sebatas metafora dan murni bisnis saja. Masalah aksi panggung Gaga yang nyentrik, Denny mencontohkan Alice Cooper yang membasahi tubuhnya dengan cairan merah seperti darah dalam setiap aksi panggungnya dan itu hanya pernak-pernik panggung saja yang tidak perlu dilebih-lebihkan.

Kerangka genealogi yang terjadi di masyarakat dalam menyajikan suatu pemaknaan, baik pendapat pro dan kontra tidak bisa dijadikan kebenaran objektif. Kurang bijak kalau kita hanya melihat sesuatu dari bungkusnya, lalu memutuskan bahkan cenderung mengalihkan detail. Dalam ILC TVOneminggu lalu, beberapa narasumber menyebut tidak mengenal Lady Gaga dan tidak perlu kenal Lady Gaga. Saya tidak tahu Lady Gaga kalau Mariah Carie baru saya tahu, he-he-he gurau Karni Ilyas, pembawa acara ILC TVOne. Bahkan, pemimpin Nadhatul Ulama (NU) menjelaskan 1000 Lady Gaga datang ke Indonesia tidak akan mempengaruhi iman dan akhlak warga NU.

Kalau kita mengikuti acara tersebut, beberapa pernyataan yang disampaikan narasumber bernilai relativisme. Relatif karena kerangka genealogi sudah memainkan peran narasumber dengan mengakui tidak memperhatikan detail secara persuasif. Menurut Michael Foucalt, dalam memainkan kerangka genealogi harus memperhatikan detail dari setiap kejadian sejak awal terjadinya, tanpa membungkusnya dengan bermacam-macam kepentingan. Bagi mereka yang kontra Gaga mungkin sudah kenal siapa Gaga dan penolakan Gaga murni untuk menjaga moralitas bangsa tanpa kepentingan apapun, mungkin.

Relativisme meyakini tidak ada kebenaran objektif, yang ada hanya pemaknaan-pemaknaan. Sesuatu selalu ditentukan oleh makna yang ada didalamnya. Maknalah yang memuat sesuatu berubah dari keberadaan yang tidak jelas menjadi objek yang dikenali (Geliner, Ernest. Dikutip dari buku Beragama Dalam Belenggu Kapitalisme).

Melihat perdebatan yang terjadi di masyarakat merupakan konsekuensi dari demokrasi. Masyarakat berhak memilih dan memutuskan mana yang benar dan mana yang salah terhadap segala sesuatu, termasuk kasus Gaga ini. Ketetapan sampai fatwa yang dikelurkan organisasi di luar pemerintah tidak menjadi kepatuhan seluruh warga negara karena semua bernilai relatif. Masyarakat sudah semakin sadar apakah ketetapan dan fatwa yang dikeluarkan bisa mengakomodasi semua warga negara atau hanya kelompok mayoritas saja. Serangan kaum relativisme ini dapat menjadi positif bila tujuannya adalah membongkar kepalsuan-kepalsuan yang selama ini disembunyikan untuk mempertahankan status.

Sebagai penikmat seni, beberapa seni pertunjukan daerah erat dengan ritual-ritual mistis, contohnya Jarang Kepang. Ketika saya melihat pertunjukan itu, saya mengangap itu sebagai hiburan dan karya seni saja. Namun sekali bila asumsi-asumsi yang muncul belakangan ini hanya ingin menguji kecerdasan warga negara Indonesia dalam menerima berbagai macam informasi.

Penulis : Yogi Fahri Prayoga