Kategori: Puisi

SekBer

Penulis: Nurbaiti Permatasari   Sekilas kukenal aroma debu ini Debu yang mengelola mahasiswa-mahasiswi negeri ini Tersenggol penghirupan setiap hari Merekonstruksi menyongsong mimpi Namun, ihwal acara pun senjang Tiap bucu dungu tercipta Kaki bergerak, mulut mengumpat Mata memincing, telinga mendengar Namun, seolah tiada namun ada Ambang pintu terbuka Diam tak bersua Asa rasanya sia-sia Bungkam dan pirsa   Ini eigendom kita Tuan nyonya hidup di dalamnya Bukan batu tak bersuara   Ini nyawa demi tak guna Lalu lalang tiap hari Dekil sampai gundahan tak henti Lirikan tak berarti Gugahan hati seperti mati   Aku bungkam Melihat tuan-nyonya jadi patung Tiada...

Read More

KAU MAHASISWA

Penulis: Esa Kurnia A. Aku mencintaimu Indonesiaku Meski warna merah putihmu sudah mengusam Meski warna putih pada benderamu sudah menghitam Dan warna merah pada benderamu telah menghijau   Aku tetap mencitaimu Indonesiaku Meski telah mereka cabik-cabik hijau pegununganmu Meski sudah mereka lahap bukit-bukit kapurmu Meski telah mereka renggut jati diri manusiamu Hai para komprador koorporasi asing Kamu yang lapar akan daging merah segar Masihkan kau merasa nyaman berkeliaran ditengah padatnya beton-beton tinggi itu? Masihkah kau sibuk untuk meminta kebutuhan golonganmu? Masihkah kau berdebat soal benar dan salah atas kepentinganmu?   Sedang, jauh di pedalaman sana Ada anak kecil, ibu...

Read More

Langgas

Penulis: Ganis Harianto Senja mengendap-endap tenggelam Seluk beluk kehidupan mulai berpulang Seakan semua tak lagi terang Mengiringi keheningan malam   Kami masih di tempat, tidak mengumpat Mencari waktu bertukar pendapat Membuat pemikiran bulat Yang digunakan sebagai alat Di sini bukan bui Membatasi waktu sesuka hati Kami butuh inspirasi Agar bisa berprestasi   Saat ini kami terdiam Bisa jadi mencari informasi Menciptakan suatu kondisi Yang tidak lagi kelam   Rekonstruk pemikiran Perubahan peraturan Jangan medali Otak-otak para...

Read More

Runtuh

Penulis: Zendy Titis Ini otomatis senoktah yang disumbang asa Dihias gelegak angka dan aksara Tapi apa karena ia runtuh tiba-tiba Mungkinble runtuh bernyanyi biadab Dari ruangnya, ingini terbit mentari pagi Yang semangat menyongsong kemudi Dari ruang yang runtuh itu Dari ruang yang diruntuhkan itu!   Bangsamu, Cukup pernah kenal si kancil yang nakal Rumus sederhana imparsial Hafal Pancasila Dan tahu arti kata ‘sekolah’ Meski ‘negeri Cina’ tak pernah berhenti mengiang   Tapi kau makan bangsamu Dan minum dari peluh mata...

Read More

Ilusi Demokrasi

Penulis : Ganis Harianto Muncul sudah dua buah nama Yang memimpin satu tahun ke depan Terpilih karena suara mahasiswa Dipercaya untuk kesejahteraan Memang tidak mudah Tak semudah mengedipkan mata Membuat pikiran gundah Di kala mendengar dialektika mereka Layaknya rapat paripurna Mencari titik tengah untuk dieksekusi Namun siapa mengira? Ternyata sudah berkongsi! Hey… Iya, kamu… Dimana posisimu? Mencari solusi? Hmmm… Atau mungkin Hanya bisa mengklarifikasi Mulut-mulut kami para...

Read More