Kategori: Puisi

Melayat Nurani

Penulis: Zendy Titis Hai, nurani Apa kabar kau yang kecil dan tak terdengar Lama tak jumpa kau Aku yang tersesat atau kau yang tak lagi sudi menemuiku Terang pun kau di sana Tak lagi terjamah aku yang berbadan manusia Sampai kau keburu sekarat dan mati Acap berisik bisikmu mengganggu: “Pilih uang atau aku pilih kuasa atau aku Pilih perut atau aku pilih nafsu atau aku Pilih aku atau kau tak bedanya binatang!” Hai nurani, tutup mulut! Pilih kau itu gila! Manusia bertingkah manusia itu bukan jamannya! Manusia bernurani tak akan mau mengorup, menipu, membunuh, meracun, menindas, merampas, membungkam, tunduk...

Read More

Celoteh

Penulis: Ryu/Administrasi Publik 2014 “Nyatanya tidak demikian!”, sergahku pada diri sendiri Kau pikir perut akan kenyang dengan makan pasir?? “Goblok!!” dadaku sesak penuh emosi Kau ini badut atau apa? Perutmu terlalu buncit untuk bisa memeluk kami Janganian memeluk, melirik pun tak sudi Rupanya kau untung banyak sejak merebut lahan kami Kau tukar puluhan petak sawah kami dengan ratusan ribu saja Kau dirikan dinding-dinding beton berlapis baja Kau bilang mau mengikuti tuntutan zaman Apa kau sudah edan? Besok apa yang kami makan?? Ingin kusumpal mulut kotormu itu dengan segumpal tanah lumpur, Tuan Sebab terlalu muak kami dengan narasi kapitalismu Maka...

Read More

Murka Sang Ibu Pertiwi

Penulis: Ganis Harianto/ Administrasi Publik 2012 Senandung senyumnya bergulir lama sudah Tak ada kata berucap Tentang apa yang dirasakan Terpendam syahdu kasih sayang Layaknya dekap bidadari suci Perlahan menghampiri Menghampiri kami tiada henti Namun kai ini ia meronta Kala lelah tak kunjung reda Dimana-mana ada tumpukan bata Hingga tak kuat lagi raganya Menahan jajaran kubus dan persegi di tubuhnya Namun kali ini ia menghujat Kala kemarahannya meletup Tubuhnya luka dicabik Hingga tak kuat lagi raganya Menahan perih tiap keruk butir di tubuhnya Namun kali ini ia berteriak Kala kesaktiannya memuncak Sekujur tubuhnya penuh lubang Hingga tak kuat lagi raganya...

Read More

Untuk Siapa?

Penulis: Kurir Literal/Hubungan Internasional 2013 Meski hebat, ia juga manusia, makin hari makin tua. Juga pikun Baginya, revolusi tak ada lagi hangus dibakar api yang disulutnya sendiri Apa yang bisa kami mengerti dari segala rupa pongahnya bangunan-bangunan kokoh ibukota? Kian tinggi dan jauh dari rumput tanpa pernah hidup dari tanya pada rumput Suara rumput adalah harapan sebelum harapan diinjak-injak gagahnya sepatu lars Kemanusiaan tercerabut dari akar-akar Di Rembang, juga di Chiapas. Apalagi di Jakarta Kemudian mempertanyakan keadilan dimana gerangan mereka simpan Kemudian membagi-bagikan keranda di tepi-tepi jalan raya Mekar dan gemetar Rumput sudah kadung bergoyang Terus bertanya apa itu...

Read More

Sampai Jumpa

Oleh: Iko Dian W/ Administrasi Bisnis 2015 Kehidupan tidak sama dengan perubahan Manusia tidak sama dengan alam Semua yang bermula akan mati Namun perubahan tidak Mereka abadi Perubahan berada diseluruh penjuru bumi Ketika aku berfikir negatif pada perubahan Tanpaa sadar aku telah menghakimi sebuah perubahan Yang mana lebih mudah? Berusaha meminta alam agar selalu bersahabat Agar tidak terjadi bencana dimana-mana Atau menjaga sikap serakah kita? Manusia kian merasa senang dengan kepraktisan Alam menangis karena semakin terabaikan Haruskah menunggu sampai danau mengering Melihat hutan menjadi gundul menggersang Atau mengingat sawah yang telah menjadi gedung Semua hanya peduli pada yang abadi...

Read More