Kategori: Puisi

Celoteh

Penulis: Ryu/Administrasi Publik 2014 “Nyatanya tidak demikian!”, sergahku pada diri sendiri Kau pikir perut akan kenyang dengan makan pasir?? “Goblok!!” dadaku sesak penuh emosi Kau ini badut atau apa? Perutmu terlalu buncit untuk bisa memeluk kami Janganian memeluk, melirik pun tak sudi Rupanya kau untung banyak sejak merebut lahan kami Kau tukar puluhan petak sawah kami dengan ratusan ribu saja Kau dirikan dinding-dinding beton berlapis baja Kau bilang mau mengikuti tuntutan zaman Apa kau sudah edan? Besok apa yang kami makan?? Ingin kusumpal mulut kotormu itu dengan segumpal tanah lumpur, Tuan Sebab terlalu muak kami dengan narasi kapitalismu Maka enyahlah saja dari tanah moyang kami Karena kami tak butuh gedung-gedung tinggi Kami hanya butuh sekepal...

Read More

Murka Sang Ibu Pertiwi

Penulis: Ganis Harianto/ Administrasi Publik 2012 Senandung senyumnya bergulir lama sudah Tak ada kata berucap Tentang apa yang dirasakan Terpendam syahdu kasih sayang Layaknya dekap bidadari suci Perlahan menghampiri Menghampiri kami tiada henti Namun kai ini ia meronta Kala lelah tak kunjung reda Dimana-mana ada tumpukan bata Hingga tak kuat lagi raganya Menahan jajaran kubus dan persegi di tubuhnya Namun kali ini ia menghujat Kala kemarahannya meletup Tubuhnya luka dicabik Hingga tak kuat lagi raganya Menahan perih tiap keruk butir di tubuhnya Namun kali ini ia berteriak Kala kesaktiannya memuncak Sekujur tubuhnya penuh lubang Hingga tak kuat lagi raganya Menahan nyeri bulunya dicabuti hingga botak Andai saja kita sadar Andai saja kita tau Andai saja kita mengerti Andai kepekaan itu kita miliki Mungkin ibu pertiwi tidak akan seperti ini Dihakimi tanpa henti Mungkin kemurkaannya bisa diantisipasi Terlambat Ibu tak sanggup dengan kenakalan kita Teriaknya menghembus membuat tumbang Rontanya menggetar membuat runtuh Tangisnya mengucur membuat luapan Lukanya memuncrat membuat genangan Sampai kapan kita seperti ini? Tiada berbakti pada ibu pertiwi Bukan menjaga malah melucuti Hingga waktu menjawab nanti Diam-diam ia tak sanggup lagi Lalu,...

Read More

Untuk Siapa?

Penulis: Kurir Literal/Hubungan Internasional 2013 Meski hebat, ia juga manusia, makin hari makin tua. Juga pikun Baginya, revolusi tak ada lagi hangus dibakar api yang disulutnya sendiri Apa yang bisa kami mengerti dari segala rupa pongahnya bangunan-bangunan kokoh ibukota? Kian tinggi dan jauh dari rumput tanpa pernah hidup dari tanya pada rumput Suara rumput adalah harapan sebelum harapan diinjak-injak gagahnya sepatu lars Kemanusiaan tercerabut dari akar-akar Di Rembang, juga di Chiapas. Apalagi di Jakarta Kemudian mempertanyakan keadilan dimana gerangan mereka simpan Kemudian membagi-bagikan keranda di tepi-tepi jalan raya Mekar dan gemetar Rumput sudah kadung bergoyang Terus bertanya apa itu adil, juga keadilan Memahami arti menjadi martir dan ia malah bertanya “untuk siapa?” Setelah itu ia justru tak ada Oh hei, Seseorang masih ngotot meminta datangnya juru selamat. Tak perlu Lumut sudah bertumbuhan di dinding waktu Justru hantu-hantu berdatangan mengetuki...

Read More

Sampai Jumpa

  Oleh: Iko Dian W/ Administrasi Bisnis 2015 Kehidupan tidak sama dengan perubahan Manusia tidak sama dengan alam Semua yang bermula akan mati Namun perubahan tidak Mereka abadi Perubahan berada diseluruh penjuru bumi Ketika aku berfikir negatif pada perubahan Tanpaa sadar aku telah menghakimi sebuah perubahan Yang mana lebih mudah? Berusaha meminta alam agar selalu bersahabat Agar tidak terjadi bencana dimana-mana Atau menjaga sikap serakah kita? Manusia kian merasa senang dengan kepraktisan Alam menangis karena semakin terabaikan Haruskah menunggu sampai danau mengering Melihat hutan menjadi gundul menggersang Atau mengingat sawah yang telah menjadi gedung Semua hanya peduli pada yang abadi Sang perubahan membuatmu lupa pada alam Semua mendambakan alam Tapi semua lebih mendambakan perubahan Sampai jumpa semuanya Dimana perubahan sudah didepan mata Dan alam dibelakang...

Read More

Aku Bukan Bicara Tentang Tanah

Penulis: DebbyLian/ Ilmu Administrasi Publik 2012 Ruh-ruh yang menjadi perdebatan dialektika Masih terasa manis di lidah Masih terasa lumat untuk dikoyak Dilumat masak-masak hingga terbilang kenyang Kenyang melumat jeritan-jeritan pecangkul tanah Kenyang menjejali tuan-tuan tanah Kenyang memabukkan penguasa Semesta menjadi saksi, kala cangkul ditancapkan Sejak tanam paksa hingga repelita Nasib kita tak pernah berubah Kita tetap sebagai pribumi, pemasok nasi tapi sering tersisih Terbuai swasembada namun berujung dusta Ketika tuan bilang tanah kita kaya, kau duakan aku dengan dia Kau cekokkan kita dengan senjata, berdalih modernisasi era duaribu Tak taukah tuan, tanah saja kita tak punya? Hilang dilahap gedung bertingkat Kita butuh tanah, untuk berladang Kita butuh air, untuk menyiram Tapi yang kudapat beton untuk mengganjal perut-perut yang kelaparan Proyek-proyek baru dibangun Menancapkan akar-akarnya pada tanah kering tandus Berjejal penuh sesak Menghimpit jaring-jaring makanan Memutus rantai kehidupan Para priyayi berdialektika, tentang ilmu yang selaras dengan alam Namun, semua sirna belaka Ketika ekonomi tetap diagungkan Tampaklah New York dari balik jendela apartemen tuan Padahal kau tahu masih di tanah rakyat, kau...

Read More