Arsip Kategori: Puisi

Kawanku dan Kebebasan di Ujung Pena

Penulis: Zendy Titis

Kawanku mati dibunuh
Setelah ia menulis tentang coreng moreng di muka negeri
Kawanku mati dibunuh
Karena berdoa dalam media massa tentang matinya keadilan di negeri ini
Kawanku mati dibunuh
Karena ia terlalu menjadi manusia!

Sudah kunasehati dia agar menjadi setengah binatang
Macam para mahkluk berseragam yang baik jalannya
Macam makhluk tak berwibawa yang hobi berburu manusia lemah nan tak beruang

Agaknya kawanku itu lupa kita di mana
Hoi! Kita di negeri yang tak punya hak atas mulut kita sendiri!
Kita di negeri yang rakyatnya tak punya hak atas kebebasan ekspresi!

Kebebasan hanya milik mereka yang punya peluru dan yang berdasi
Kebebasan hanya milik mereka yang bersepatu lars
Kebebasan membunuh, mengancam, menodong, memaki, memborgol, menghadang kebenaran!

Kebenaran yang ada di setiap titik dalam kalimat bernada kritis.
Ada di setiap koma yang ditorehkan untuk terus melanjutkan penguakan praktik binatang,
Ada di setiap tanda tanya yang tak habis pikir murahnya harga sebuah nyawa?
Kebenaran ada di setiap tanda seru yang ditandaskan untuk menyerukan bahwa kami tak takut ancaman!
Kau yang takut! Pada pena kami dan tulisan-tulisan bernyawa keadilan harga mati!

Kawanku itu Udin, Naimullah, Agus, Jamaluddin, Ersa, Alfred, Herliyanto, Adriansyah
Kawanku dibunuh
Tapi tidak pernah mati
Mereka hidup, di ujung pena kita yang terangkat abadi

 

Selamat Hari Pers Internasional!

(tunggu dan) dengarkan ceritaku

Penulis: Christine

(perpisahan)
katamu, hidup tak pernah kehabisan cerita. Ia selalu mengerami masalah-masalah yang tak pernah
gagal menetas. seiring bertambahnya umur, ia tumbuh,
sengaja tersesat, lalu-lalang,
kesana, kesini, dan tidak sengaja
mempertemukan kita.

aku dan kau akan saling
melihat, mendengar, meraba
simpati, empati, jatuh hati
lelah, muak, jengah, nyinyir
dan diam-diam menasihati.

(pertemuan)
akhirnya, aku masih menjadi matamu yang menabung
cerita kepedihan petani, pelayan, pembantu, pemulung,
pengamen, pengemis, pengamat, dan pemimpi
yang ingin kuliah setinggi-tinggi
kau.

Sajak Tembok Tua

Oleh : Wasesa Rizky

Apa itu kekuasaan?
Apa itu keadilan?

Mengapa berisik sekali orang-orang ini?

Tembok tua nan gagah menjulang di depanku.
Menyombongkan kekuatannya.
Angkuh akan besar dirinya dan betapa aku tidak berarti di depannya.

Kau tahu? Sekali tendang mampus kau!
Kau tinggi namun rapuh. Kau besar namun ringkih.

Lihat dirimu!
Membusuk oleh zaman.
Ditinggalkan, diasingkan.
Berdiri tegap sendirian di antara padat rerumputan.
Tak acuh!

Namun kenapa kau masih mengagungkan dirimu?
Apa kau berkuasa?
Apa kekuasaanmu?

Lihat dirimu!
Serat jamur dan akar lumut mengerogoti setiap inci dari badanmu.
Semut pun enggan membuat pelabuhannya di dirimu.
Tapak cicak pun tak membekas di permukaan.

Namun kenapa kau masih bicara keadilan?
Apa yang kau berikan?
Apa yang kau hidupi?
Apa keadilanmu?

Kau cuma omong kosong!
Matilah kau ditelan peradaban!

Daftar Khayalan Petani

Penulis : Christine

di dalam khayalanku,
1. kau seorang mahasiswa.
2. kau masih belajar dan dapat ilmu.
3. kau masih diberi sangu dan bisa makan.
4. kau masih berdoa dan dapat didengar.
5. kau masih berontak dan bisa diaminkan.
6. kau masih menjadi aktivis dan keluar-masuk desa.
7. kau masih bertanya dan aku menjawab.
8. aku masih bertanya dan kau tak bisa menjawab.

di luar khayalanku,
1. kau seorang maha polos sampai belum bisa menjadi siswa.
2. kau masih banyak bicara sampai belum bisa menulis.
3. kau masih diteteki ibumu sampai belum bisa merasa.
4. kau masih disuapi bapakmu sampai belum bisa bernyali.
5. kau masih dikencingi pejabat sampai belum bisa berdikari.
6. kau masih menjilat kepedihan kami, tapi kami masih butuh kau bimbing.
7. aku masih terenyuh ketika kau datang, menangisiku, lalu pulang ke kota.
8. aku masih belum mendengar kau berorasi di kota.

khayalanku masih berisi
blablabla dan bla!

habislah kata-kataku sekarang.
tapi, boleh aku tanya kau satu hal :
“apa arti sejahtera bagimu?”

Persimpangan Harapan Negeriku

Oleh: Muhammad Nuril Mubin/Ilmu Administrasi Publik

Ketika negeriku bergejolak
Dengan hamburan opini yang berdampak
Membuat tatanan sosial membengkak
Dan membawa gelombang problema menyentak

Ketika negeri subur dibuat hancur
Oleh kekuasaan yang penuh lumpur
Pemimpinnya tidur tersungkur
Hingga masyarakatnya tak pernah akur

Ketika negeri kaya terasa miskin
Tanah ibu pertiwi hanya dibuat main
Sementara teori dijadikan agenda berangin
Akhirnya negeri yang kaya dikuasai orang lain

Kekuasaan dijadikan penindasan
Tapi hukum negeriku belum tegak tanpa landasan
Sehingga kaum berada semakin banyak berlian
Kaum tak punya hanya penuh dengan titipan

Saat ini negeriku gersang dan memudar
Mengikis jiwa yang telah hidup mengakar
Sumber kedaulatan hidup berkeadilan telah pudar
Oleh ketimpangan dan kicauan yang membongkar

Seakan kata-kata menjelma jadi senjata sakti
Yang membentuk doktrinasi untuk membenci
Padahal Pancasila telah menjadi bukti
Yang menyatukan nusantara di tanah ibu pertiwi

Negeriku.. masihkah kau punya harapan?
Harapan yang menyatukan meski banyak persimpangan
Harapan yang mensejahterakan meski banyak penderitaan
Dan harapan yang membuat mesra perbedaan

Ketika kegelisahan bertumpuk dalam ingatan
Hanya harapan yang mendorong tindakan perubahan
Semua itu bukan mimpi dalam angan
Tapi wujudkan dalam kenyataan yang mensejahterakan

Aku teringat ketika reformasi bergelora
Kaum muda menggebu bersuara
Menyuarakan tatanan sosial tanpa sandiwara
Mereka gandrung pergerakan yang sejahtera

Aku berharap semua elemen bangsa
Sadar dan bergerak merubah tatanan yang ada
Dengan kemurnian dasar negara tercinta
Untuk bersama mewujudkan harapan bangsa

Negeriku..
Harapan adalah ketika kita melakukan sesuatu
Maka persimpangan harapan mestinya pemersatu
Saatnya bersatu bergerak maju
Dalam hidup yang fana memberi makna untuk Negeriku…

Pendidikan untuk Angka

Penulis: Abal abal

Pendidikan yang terpaku angka
Pendidikan yang tak berarti
Bila tak didampingi angka
Tapi yang diutamakan
hanya angka tanpa pemahaman
Jika tak mendapatkan angka besar
maka kamu adalah kegoblokan!

Memang begitu istimewa angka-angka ini
Sudah jadi jiwa pendidikan
Maka benarlah sungguh benar
Akan terlahir pikiran-pikiran dan
jiwa-jiwa pengemis
Yang meminta tanpa usaha berarti
Lantas bagaimana jika aku tak menginginkan angka?
Apakah akan kau anggap aku tak berpendidikan?

Senandung Bisu

Oleh Athika Fady

Aku ingat enam lima
Membunuh atau dibunuh adalah pilihan
Gertakan itu mencabut nuraniku
Aku meragu tetapi aku harus
Wanita menari, aku anggap gerwani
Petani mengarit, aku anggap palu arit
Langsung siksa dan perkosa!
Perintah Yang Mulia
Sekarang tentang tanda
Serdadu teriak “ANJING!”
Aku jawab “GILA!”
Senjata terangkat, aku bersiap
Kusuruh mereka menggali
Untuk tempat terakhir kali
Badannya lebur, tinggal napas dibalur sadar
Berondong peluruku pun harus tepat sasaran
Malam gulita jadi saksi bisu
Aku menembak, aku mengayau
Hanya sekali tebas
Langsung tewas
Mauku kasihan
Tapi serdadu angkat senjata
Menodong setiap titik nyawaku
Membunuh naluriku
Negeri biadab kuserapah!
Tirani empat windu yang perintahku
Mencipta stigma di alam pikirku
Aku tunduk, mengangguk
Lima satu yang lalu masih jadi bekas
Mungkin samar, tetapi lagi
Potongan nuraniku kembali pulang
Mengucap sesal yang tertambat