Kategori: Sastra

Tanah Sengketa

Oleh: Joko Iwan Pagi buta ketika semua orang masih sibuk dengan indahnya pulau kapuk, diriku telah bangun terlebih dahulu. Kubuka tirai jendelaku yang sederhana agar suasana dalam rumah terasa lebih menyegarkan. Di luar tampak langit masih berwarna biru gelap tanda sang surya hendak bangkit dari peraduannya. Di bawah jendela telah tampak ayam-ayamku tengah mengais-ngais tanah untuk mencari cacing sebagai santapan paginya. Kurasakan pula angin pagi yang dingin menerpa wajahku untuk menghilangkan rasa kantukku. “Pak, sarapannya sudah siap.” Suara nan lembut tiba-tiba terdengar dari belakangku. Aku pun membalik badan, kulihat seorang wanita berdiri sambil membawa piring di tangannya. “Ya, Bu....

Read More

Kawanku dan Kebebasan di Ujung Pena

Penulis: Zendy Titis Kawanku mati dibunuh Setelah ia menulis tentang coreng moreng di muka negeri Kawanku mati dibunuh Karena berdoa dalam media massa tentang matinya keadilan di negeri ini Kawanku mati dibunuh Karena ia terlalu menjadi manusia! Sudah kunasehati dia agar menjadi setengah binatang Macam para mahkluk berseragam yang baik jalannya Macam makhluk tak berwibawa yang hobi berburu manusia lemah nan tak beruang Agaknya kawanku itu lupa kita di mana Hoi! Kita di negeri yang tak punya hak atas mulut kita sendiri! Kita di negeri yang rakyatnya tak punya hak atas kebebasan ekspresi! Kebebasan hanya milik mereka yang punya...

Read More

Dua Mimpi

Penulis: Christine (dahulu) aku ingat, malam itu kau mendinginkan tangan dengan mimpi yang tak mampu kau lihat dengan mata terbuka. kau paham tak harus selalu membuat ibumu menangis sambil menyuci dasi para om-om bergelar doktor demi membayar dua lusin sks beserta isi perutmu. atau adikmu yang rela tak sekolah karena harga kampus negeri sama dengan dengan tiga kali upah bulanan ibumu, tapi masih lebih murah dari mimpimu menjadi sarjana pertanian. yah, tak ada jaminan beasiswa bagi seluruh manusia sejenis kau di negeri ini. yah, memang hak mendapatkan pendidikan itu hanya candaan di mata hukum. (sekarang) di makammu, malam ini...

Read More

Surat dari Tuan

Penulis: Hendra Kristopel Tak tahu diri! Kau terlalu banyak menuntut Keringatmu palsu Tapi mengenyangkanku Untuk apa kau menuntut? Biar saja lapar menggerogotimu Membunuhmu pelan pelan Agar bumiku tak penuh sesak orang-orang bernyali Untuk apa kau menuntut? Biar saja anakmu tak bisa sekolah Menjauhlah dari pendidikan Agar ada yang selalu bisa kubodohi Upah murah, sistem outsourcing, dan tak ada jaminan sosial! Hanyalah sebagian yang telah kupermainkan untukmu Kau masih ingat Marsinah? Satu dari sekian banyak temanmu Yang telah kubuat menghilang Kau terus saja melawan, melancarkan aksi, orasi, puisi perlawanan! Hingga aku gentar juga Tapi camkanlah satu hal Aku selalu bisa...

Read More

(Tunggu dan) Dengarkan Ceritaku

Penulis: Christine (perpisahan) katamu, hidup tak pernah kehabisan cerita. Ia selalu mengerami masalah-masalah yang tak pernah gagal menetas. seiring bertambahnya umur, ia tumbuh, sengaja tersesat, lalu-lalang, kesana, kesini, dan tidak sengaja mempertemukan kita. aku dan kau akan saling melihat, mendengar, meraba simpati, empati, jatuh hati lelah, muak, jengah, nyinyir dan diam-diam menasihati. (pertemuan) akhirnya, aku masih menjadi matamu yang menabung cerita kepedihan petani, pelayan, pembantu, pemulung, pengamen, pengemis, pengamat, dan pemimpi yang ingin kuliah setinggi-tinggi...

Read More