Kategori: Sastra

Biasa Sekolah Di Warung

Penulis: Helmi Naufal Pagi itu, tergambar wajah gagah matahari dari sepasang jendela kamar rumah Iwan. Iwan baru bangun karena teriakkan ibunya dari luar kamar yang terdengar seperti gelegar guntur, saat itu jam dinding menunjukkan pukul 06.45 Waktu Indonesia Sehat. Yang artinya 15 menit lagi pelajaran di sekolah Iwan dimulai. Dengan santai tangan kiri Iwan mengucek-ucek dua bola mata secara bergantian dan tangan kanannya mengambil sebuah handphone yang berada tidak jauh dari tempatnya tidur. “Gil, enteni diluk. Aku lagek tang,” 1 ketik pesan singkat Iwan kepada sahabatnya yang setiap hari nebeng ke sekolah. Setelah mengirim pesan singkat, Iwan memasukkan buku,...

Read More

Satu Kisah Sedih pada Suatu Musim Kemarau

Penulis: Dinda Indah Asmara Matahari musim kemarau terasa terik menyengat kulit. Tapi langit begitu biru indah. Burung-burung terbang bebas dan berkicau saling sahut menyahut. Anak-anak berkulit gosong tertawa riang sambil menerbangkan layangan aneka bentuk dan warna di sawah bekas dipanen. Biru, merah, hitam layangan biasa berbuntut sangat panjang atau gapangan yang besar menari-nari di atas. Kemarau, ah… Aku selalu suka kemarau. Langitnya selalu begitu indah entah siang atau malamnya. Jika siang hari ia begitu semarak oleh burung-burung dan layangan, malam hari kelap kelip bintang membentang bagaikan lampu pesta menghias malam. Aku juga suka angin sepoinya yang kini tengah membelai...

Read More

Tanah Sengketa

Oleh: Joko Iwan Pagi buta ketika semua orang masih sibuk dengan indahnya pulau kapuk, diriku telah bangun terlebih dahulu. Kubuka tirai jendelaku yang sederhana agar suasana dalam rumah terasa lebih menyegarkan. Di luar tampak langit masih berwarna biru gelap tanda sang surya hendak bangkit dari peraduannya. Di bawah jendela telah tampak ayam-ayamku tengah mengais-ngais tanah untuk mencari cacing sebagai santapan paginya. Kurasakan pula angin pagi yang dingin menerpa wajahku untuk menghilangkan rasa kantukku. “Pak, sarapannya sudah siap.” Suara nan lembut tiba-tiba terdengar dari belakangku. Aku pun membalik badan, kulihat seorang wanita berdiri sambil membawa piring di tangannya. “Ya, Bu....

Read More

Kawanku dan Kebebasan di Ujung Pena

Penulis: Zendy Titis Kawanku mati dibunuh Setelah ia menulis tentang coreng moreng di muka negeri Kawanku mati dibunuh Karena berdoa dalam media massa tentang matinya keadilan di negeri ini Kawanku mati dibunuh Karena ia terlalu menjadi manusia! Sudah kunasehati dia agar menjadi setengah binatang Macam para mahkluk berseragam yang baik jalannya Macam makhluk tak berwibawa yang hobi berburu manusia lemah nan tak beruang Agaknya kawanku itu lupa kita di mana Hoi! Kita di negeri yang tak punya hak atas mulut kita sendiri! Kita di negeri yang rakyatnya tak punya hak atas kebebasan ekspresi! Kebebasan hanya milik mereka yang punya...

Read More

Dua Mimpi

Penulis: Christine (dahulu) aku ingat, malam itu kau mendinginkan tangan dengan mimpi yang tak mampu kau lihat dengan mata terbuka. kau paham tak harus selalu membuat ibumu menangis sambil menyuci dasi para om-om bergelar doktor demi membayar dua lusin sks beserta isi perutmu. atau adikmu yang rela tak sekolah karena harga kampus negeri sama dengan dengan tiga kali upah bulanan ibumu, tapi masih lebih murah dari mimpimu menjadi sarjana pertanian. yah, tak ada jaminan beasiswa bagi seluruh manusia sejenis kau di negeri ini. yah, memang hak mendapatkan pendidikan itu hanya candaan di mata hukum. (sekarang) di makammu, malam ini...

Read More