Kategori: Sastra

Runtuh

Penulis: Zendy Titis Ini otomatis senoktah yang disumbang asa Dihias gelegak angka dan aksara Tapi apa karena ia runtuh tiba-tiba Mungkinble runtuh bernyanyi biadab Dari ruangnya, ingini terbit mentari pagi Yang semangat menyongsong kemudi Dari ruang yang runtuh itu Dari ruang yang diruntuhkan itu!   Bangsamu, Cukup pernah kenal si kancil yang nakal Rumus sederhana imparsial Hafal Pancasila Dan tahu arti kata ‘sekolah’ Meski ‘negeri Cina’ tak pernah berhenti mengiang   Tapi kau makan bangsamu Dan minum dari peluh mata...

Read More

Sebenarnya, Rindu

  Penulis: Dea Kusuma Riyadi Ilustrasi Oleh Ria Fitriani Semilir angin Bulan Januari membelai lembut wajahku yang nampak menua. Dinginnya menyejukan kumisku yang mungkin lebih mirip Pak Raden, salah satu teman Si Unyil di tontonan favoritku semasa kecil dulu. Ada aroma tanah basah di setiap hembusannya. Daun-daun nampak tersenyum manis dengan warnanya yang hijau, langit pun terasa damai dihiasi mendung-mendung putih yang nampak berbaris. Sebuah rasa syukur yang luar biasa membuncah di dadaku. Aku sudah lupa kapan terakhir kali aku melihat alam seindah ini. Duniaku hanya sebatas ruang pengap bertembok kusam dengan barisan besi di bagian depan, ya setidaknya begitulah untuk beberapa tahun belakangan ini. Seorang wanita yang semakin rapuh dimakan usia nampak sedang memberi makan ayam-ayam yang ia pelihara di samping rumah, beberapa meter di depanku. Langkahnya nampak lebih lambat daripada ketika aku melihatnya meninggalkanku sendirian bersama orang-orang galak di sana 7 tahun silam. Sebenarnya aku tak ingin kembali ke tempat ini lagi. Aku sangat membenci wanita itu, wanita yang sudah membiarkanku berada di masa sulitku sendirian. Niat itu sangat kuat tertanam di hatiku bahkan hingga tadi pagi pun niat itu masih berkobar. Namun, semua amarahku padam ketika seseorang yang mengantarku ke tempat ini tadi, lelaki setengah baya yang sering kupanggil Pak Jono, bercerita tentang wanita tua itu. Cerita yang selama ini hanya kuanggap sebagai mimpi. Mengapa hanya mimpi? Karena sebenarnya aku sangat mencintai jalan cerita itu. Namun,...

Read More

Sebenarnya, Rindu

Penulis : Dea Kusuma Riyadi Ilustrator : Ria Fitriani Semilir angin Bulan Januari membelai lembut wajahku yang nampak menua. Dinginnya menyejukan kumisku yang mungkin lebih mirip Pak Raden, salah satu teman Si Unyil di tontonan favoritku semasa kecil dulu. Ada aroma tanah basah di setiap hembusannya. Daun-daun nampak tersenyum manis dengan warnanya yang hijau, langit pun terasa damai dihiasi mendung-mendung putih yang nampak berbaris. Sebuah rasa syukur yang luar biasa membuncah di dadaku. Aku sudah lupa kapan terakhir kali aku melihat alam seindah ini. Duniaku hanya sebatas ruang pengap bertembok kusam dengan barisan besi di bagian depan, ya setidaknya begitulah untuk beberapa tahun belakangan ini. Seorang wanita yang semakin rapuh dimakan usia nampak sedang memberi makan ayam-ayam yang ia pelihara di samping rumah, beberapa meter di depanku. Langkahnya nampak lebih lambat daripada ketika aku melihatnya meninggalkanku sendirian bersama orang-orang galak di sana 7 tahun silam. Sebenarnya aku tak ingin kembali ke tempat ini lagi. Aku sangat membenci wanita itu, wanita yang sudah membiarkanku berada di masa sulitku sendirian. Niat itu sangat kuat tertanam di hatiku bahkan hingga tadi pagi pun niat itu masih berkobar. Namun, semua amarahku padam ketika seseorang yang mengantarku ke tempat ini tadi, lelaki setengah baya yang sering kupanggil Pak Jono, bercerita tentang wanita tua itu. Cerita yang selama ini hanya kuanggap sebagai mimpi. Mengapa hanya mimpi? Karena sebenarnya aku sangat mencintai jalan cerita itu. Namun,...

Read More

Ilusi Demokrasi

Penulis : Ganis Harianto Muncul sudah dua buah nama Yang memimpin satu tahun ke depan Terpilih karena suara mahasiswa Dipercaya untuk kesejahteraan Memang tidak mudah Tak semudah mengedipkan mata Membuat pikiran gundah Di kala mendengar dialektika mereka Layaknya rapat paripurna Mencari titik tengah untuk dieksekusi Namun siapa mengira? Ternyata sudah berkongsi! Hey… Iya, kamu… Dimana posisimu? Mencari solusi? Hmmm… Atau mungkin Hanya bisa mengklarifikasi Mulut-mulut kami para...

Read More

Hancurkan Oligarki

Penulis : Ganis Harianto Terkuak sudah wangi melati Ketertundukan luka sebuah peristiwa Terasa geram tak mau lari Karena sebuah retorika Bungkam belum tentu diam Diam mungkin mempersiapkan Revolusi dalam pendidikan Yang tidak mudah digenggam Swasta telah mendominasi Mengerubungi pihak aparatur negeri ini Yang beralasan memperbaiki Namun tak perduli pada konstitusi Kaum muda dipenjara Dalam gelombang liberalisasi Hmmmmm… Putaran otak melaju Sungguh, sudah sangat terasa Tidak… Ini tidak bisa Karena tidak sesuai Dengan ontologi Ki Hajar Dewantara Karena kita telah terjebak dalam jeratan oligarki Hingga kita tidak mampu berdikari Bangkit! Bukan lagi waktunya berbisik Jangan takut kita diusik Jika bisa balik menggigit Diam kau! Para koalisi korupsi Yang hanya bisa membebani Dengan tradisi oligarki Satu suara kami lantang Hancurkan...

Read More