Kategori: Cerpen

Perempuanku

1943 Aku tak pernah hina seperti yang selalu kautuduhkan padaku. Ingin rasanya kusumpal mulutmu dengan serbet lusuh berlumuran muntahku. Tidakkah kau sekali saja mengerti? Oh, bukan mengerti. Itu masih terlalu jauh. Tidakkah sekali saja terlintas dipikiranmu tentangperilaku busukmu padaku? Kau terang-terangan menjarah harga diriku. Kau perlakukan aku tak ada harganya demi mengenyangkan nafsumu yang liar dan serakah ketika kukatakan tak mau. Manusia ataukah binatang kau itu sejatinya? Bahkan mungkin binatang lebih mulia daripada kau. Iblis pun mungkin lebih mulia daripada kau! Ketika aku meraung-raung kesakitan kau malah mengisap dalam-dalam puntung rokok yang menyala sambil tertawa riang menyaksikanku kesakitan. Aku ini si pesakitan. Tidakkah pernah kau melihatku sebagai manusia yang juga sama sepertimu? Mulanya berjam-jam. Aku menunggu sesuatu entah apapun itu menjemputku dan menjauhkanku dari tempat yang mulai kucurigai ini. Kemudian menjadi berhari-hari. Seorang berseragam mendekatiku yang gemetar di pojokan kamar. Perlahan dia menyentuh bibirku yang memucat. Kuhempaskan tangannya kemudian ia membalas lebih keras. Masih kucoba memberontak dan melindungi diriku yang kekuatannya tak sampai setengah dari kekuatan lelaki berseragam tadi. Ia malah balik menyerangku. Akupun tak berdaya dan menuruti kemauannya. Tolol. Sungguh tolol. Aku hanya mampu menggulirkan air mata. Lelaki berseragam sama silih berganti mendatangiku. Dari berhari-hari menjadi berbulan-bulan. Aku sekarang mengerti. Manusia-manusia berseragam yang tak berperikemanusiaan itu telah memperkerjakanku sebagai Jugun Ianfu, wanita jalangnya. Bah, masih mending dipekerjakan, tapi aku telah diperdayakan alias diperbudak alias diperbinatangkan. Apakah di luar...

Read More

Hatiku Disana, Bukan Disini

Secercah harapan muncul, matahari pagi merona tersenyum begitu anggunnya. Kapas putih melayang indah di langit. Membentuk deretan benda yang sebentar berubah mengikuti pola pemikiranku. Menyaksikan kuasa Tuhan di dataran permadani hijau ini menggambarkan kenyamanan penuh optimisme yang melahirkan sebuah kenyataan hidup begitu indah. Udara masih sangat bersahabat begitu tertib masuk dan keluar dari paru-paru. Sungguh membuat nyaman segalanya. Saat akhir pekan inilah selalu kusempatkan untuk menyandarkan tubuhku sejenak. Istirahat dari lelahnya berpetualang mencari pengalaman baru setiap hari. Hanya di hari ini. Minggu yang indah, minggu yang sempurna, minggu yang sejuk, namun juga minggu yang kosong. Lekukan bibirku sekejap berubah menjadi perahu terbalik. Aku terhenyak saat pikiranku menyapa minggu yang kosong. Tarikan napas panjang bergelut dengan nuraniku. Kosong dan gelap. Mataku menyapu alam sekitar, sejak dua tahun lalu tak ada yang  berubah dari tempat  ini. Hijau berbintik merah karena diantara rumput terdapat bunga mawar merah yang tumbuh dengan cantiknya. Mengisyaratkan sebuah lukisan Tuhan Yang Maha Agung. Hanya saja langit berbisik merdu kepadaku. Telinga ini seakan menangkap dengan jelas gaung yang diteriakkan oleh pengisi alam. Kebersamaanku dengannya hanya sebentar. Katanya “hatiku disana bukan disini”. Air mata meleleh jatuh menuruni mulus melewati pipi. Dan kata-kata itulah yang saat ini dibisikkan lagi oleh langit. Akankah mereka menginginkan aku untuk jatuh pada sakit yang kurasakan dulu. “Sudah cukup kau melampiaskan semua kekecewaanmu terhadapku”. Aku terdiam, suara berat laki-laki di samping seakan mengiris tajam pendengaranku....

Read More

Bolehkah?

Penulis : Valentinez Hemanona Black coffee”, kataku setelah membolak-balikkan menu. Pelayan itu tersenyum ramah. “Pencinta kopi?” Tanyanya sambil mencatat pesanan. Aku tersenyum menggelengkan kepala. Tiba-tiba mataku terpaku pada laki-laki yang baru saja memasuki cafe ini. Dengan cepat aku menambahkan machiatto ke dalam pesanan. “Aha, pesanan pacar rupanya”, ujar pelayan mengambil menu dan berlalu sambil tersenyum. “Ada apa kamu sama pelayan itu?” Tanyamu sambil menarik kursi di hadapanku. “Biasa, pencitraan cafe baru” “Citra, you really don’t know how beautiful you are, do you?” “Tapi dia tahu pesanan black coffee-ku untuk kamu”, dan kamu tersenyum malu. Memikat. Seperti biasa. Anganku berlarian pada kenangan itu.. Kita bersekolah di SMA yang sama. Saat itu kamu keluar dari ruangan kecilmu itu dengan ceria, wajahmu bersih dan tersenyum. Beberapa bulir air masih tersisa di rambut cepakmu. Sama sekali tidak terpikir dalam benak ku untuk tertarik padamu, tetapi Tuhan selalu punya cara mempertemukan kita. Aku ingat saat pertama kali kamu menyebutkan namamu. Ketika aku bingung setengah mati mencari kalung peninggalan Mama, kamu datang menghampiriku. “Aku Dirga, ini punyamu kan?” Aku menghela nafas lega, mengambil kalung itu darinya. Dirga memperhatikanku melilitkan kalung itu di pergelangan tanganku. “Makasih ya..” Kataku, tersenyum tulus. Dirga balas tersenyum dan kembali bertanya. “Kenapa kalungnya di pake di tangan?” “Supaya lebih deket ke urat nadi” “Di kalungin aja, supaya lebih deket di hati..” Ujarmu mengulurkan tangan dan tetap tersenyum. Aku membalas uluran tangannya,”Citra..”...

Read More

Ada Dia Di Matamu

Penulis : Valentinez Hemanona “Jadi, sampai kapan kita harus menyimpan ini?” Tanyaku. “Entahlah, aku tak tega dengan Tari. Anak-anakku juga..” “Katakan saja! Kalian menikah karena keluarga, lalu mengapa khawatir? Apa kau cinta istrimu?” “Kami menikah memang karena keluarga, tapi Tari orang baik. Dia tidak pernah meminta sepeser pun dari ku”. “Baguslah, dia bisa mandiri tanpa kau..” Kuhisap rokok ku dalam-dalam, Nendra menatapku sinis. “Ada apa? Kau marah padaku? Benar kan kau cinta istrimu itu? Kau cinta pun aku tak apa. Apa peduli ku!” Ujarku risih. Nendra menarik nafas panjang tanpa menggubris pertanyaanku dia berkata,”Matikan rokokmu, Tari dan anak-anakku segera datang!” Tak berapa lama mobil Tari sudah bersiap masuk garasi. Aku berlari membuka pagar dan menunggu Tari memarkirkan mobilnya dengan rapi di garasi. Anak-anak Nendra keluar dari mobil sambil berlari menghampiri Ayahnya. Disusul Tari mencium tangan suaminya. Ah, keluarga yang bahagia. Gumamku dalam hati. Benar kata Nendra, Tari memang wanita yang baik. Saat Nendra membawaku ke rumah ini Ia berkata pada Tari bahwa aku butuh tempat menumpang dan akan membantu pekerjaan rumahnya. Tidakkah itu terasa ganjil? Tidak untuk Tari. Dia tersenyum dan mempersilahkan aku masuk. Kadang aku merasa bersalah terhadap apa yang sudah aku lakukan pada keluarga kecil ini. Tak sampai hati aku menyakiti wanita dan kedua anak Nendra, tetapi apa daya. Perasaan ini sudah tidak dapat menepi. Kadang terpikir untuk berhenti. Mengalah dan mencari kebahagiaan ku sendiri, namun aku...

Read More

Suara Kecil Pekerja Pena

Penulis : Anita Aprilia Derap langkahnya terkesan arogan dan dibuat-buat.  Aku hanya sebagai anak dari induk semang yang tunduk dalam setiap arahan dari mulutnya. Selepas ini bicaraku pasti mendapat cibiran dari orang-orang penting ujung sana. Belum lagi tugasku selesai aku hanya dapat bersimpuh lekang di kaki orang-orang itu. Mulutku ditutup, tanganku dibiarkan dalam ikatan teramat kuat. Dipaksa untuk berbicara dalam rekayasa cerita yang dibuat dalam mata obyektifitas sang induk semang. Aku hanya tertunduk menunggu saat yang tepat untuk menghakiminya. Menghakimi lewat goresan-goresan tinta hitam yang aku buat untuk menyadarkan mereka bahwa aku dan kami adalah bagian dari mereka. Aku sungguh tak kuasa. Sapuan pena tinta hitam ini sudah merasa digerakkan oleh orang-orang itu. Aku sungguh tak mau mengalah dan tak akan bisa berpasrah dengan keadaan. Lantanglah suaraku saat ini. Corongku sudah tersumbat oleh obsesi-obsesi gila orang di luar. Terhalang dalam kekacauan di depan pintu masalah. Percuma mengumbar aroganisme jikalau gertakan itu hanya sebuah imajinasi pencitraan. “Kau buat kandangmu sendiri dan kau hancurkan dengan sekali sapuan angin yang kau lontarkan” aku bergumam. Dan hanya itu yang dapat kuperbuat. Di tempat ini, tanah peraduan ini. Aku menjelma menjadi seorang serdadu perang. Bukan perang melawan kekacauan tapi perang melawan kemunafikan. Mulutku kembali terkunci tapi yang jelas tanganku tetap bergerak mengusik kehidupan sekitar dengan celotehan kecil sekat garis bermakna. Jeritan ini tak perlu berakhir dalam gamang ketidakadilan. Perlu sentuhan lembut untuk melunakkan segalanya....

Read More