Kategori: Cerpen

Tak Ingin Berseragam

Penulis : Dea Kusuma Riyadi “Bapak, Besudut ingin sekolah.” Bapak hanya diam, seakan tak mendengar permintaanku. Ia masih mengumpulkan tanah untuk membuat gundukan di bawah pohon Setubungini. Aku melihat sekeliling, sudah banyak gundukan tanah di sini, tapi Bapak memaksa untuk tetap membuat gundukan baru. Mungkin karena terlalu sulit mencari pohon Setubung baru sehingga ari-ari adik keempatku yang lahir beberapa jam lalu harus dikubur di sini, bersama ari-ariku dan teman-teman sebayaku. “Bapak, Besudut ingin sekolah,” aku masih mencoba membujuk bapak. Namun, sekali lagi ia hanya diam. Ia menghampiri adik ketigaku yang sedang menggigil di gubuk. Memang sudah beberapa hari ini...

Read More

Toni ingin Sekolah, Mbak..

Penulis : Ria Fitriani Ilustrasi oleh : Fadhila Isniana “Mak, apa Mamak bahagia di sini? Apa Mamak merasa nyaman sekarang? Mak, putra Mamak yang paling kecil, si Toni, sekarang dia sudah besar Mak. Dia pernah bilang padaku kalau dia ingin melanjutkan sekolah ke SMA Mak. Dia ingin pintar katanya. Aku tak bisa berkata apa-apa Mak, aku hanya tersenyum sambil menatap lekat cahaya matanya yang teduh itu. Aku tahu Mak, Toni memang anak yang cerdas. Beberapa hari yang lalu dia dengan semangatnya bercerita tentang pemerintahan kita yang tidak memihak rakyat kecil. Saat itu aku bisa melihat cahaya matanya yang berapi-api. Aku tak tahu apa yang dia dapatkan di sekolah, aku juga tak mengerti apa-apa tentang ceritanya Mak, tentang pemerintah, birokrasi, dan lain sebagainya. Mak, aku harap Mamak bahagia. Mamak harus bahagia sekarang. Mamak tak usah khawatir tentang aku, Ayu, Rachmad, dan Toni. Aku sudah mengorbankan segalanya demi mereka Mak, aku ikhlas. Aku bahkan tak lagi memikirkan masa depanku sendiri sekarang. Asalkan adik-adikku itu bisa makan, aku sudah senang. Aku bahagia Mak…” Kata-kataku untuk Mamak menggiringku pada memori lima tahun yang lalu. Ketika angin sore berhembus membelai lembut wajahku, menerpa kerudung hitamku yang lusuh itu. Udara kota yang bercampur polusi adalah makananku sehari-hari. Di sinilah, di tempat ini. Lima kilo meter setidaknya dari gubuk tempatku tinggal bersama keluargaku yang kucintai. Aku berjalan menyusuri tepian jalan, mencoba mencari, menjemput rezeki ilahi. Sebuah...

Read More

Sebenarnya, Rindu

  Penulis: Dea Kusuma Riyadi Ilustrasi Oleh Ria Fitriani Semilir angin Bulan Januari membelai lembut wajahku yang nampak menua. Dinginnya menyejukan kumisku yang mungkin lebih mirip Pak Raden, salah satu teman Si Unyil di tontonan favoritku semasa kecil dulu. Ada aroma tanah basah di setiap hembusannya. Daun-daun nampak tersenyum manis dengan warnanya yang hijau, langit pun terasa damai dihiasi mendung-mendung putih yang nampak berbaris. Sebuah rasa syukur yang luar biasa membuncah di dadaku. Aku sudah lupa kapan terakhir kali aku melihat alam seindah ini. Duniaku hanya sebatas ruang pengap bertembok kusam dengan barisan besi di bagian depan, ya setidaknya begitulah untuk beberapa tahun belakangan ini. Seorang wanita yang semakin rapuh dimakan usia nampak sedang memberi makan ayam-ayam yang ia pelihara di samping rumah, beberapa meter di depanku. Langkahnya nampak lebih lambat daripada ketika aku melihatnya meninggalkanku sendirian bersama orang-orang galak di sana 7 tahun silam. Sebenarnya aku tak ingin kembali ke tempat ini lagi. Aku sangat membenci wanita itu, wanita yang sudah membiarkanku berada di masa sulitku sendirian. Niat itu sangat kuat tertanam di hatiku bahkan hingga tadi pagi pun niat itu masih berkobar. Namun, semua amarahku padam ketika seseorang yang mengantarku ke tempat ini tadi, lelaki setengah baya yang sering kupanggil Pak Jono, bercerita tentang wanita tua itu. Cerita yang selama ini hanya kuanggap sebagai mimpi. Mengapa hanya mimpi? Karena sebenarnya aku sangat mencintai jalan cerita itu. Namun,...

Read More

Sebenarnya, Rindu

Penulis : Dea Kusuma Riyadi Ilustrator : Ria Fitriani Semilir angin Bulan Januari membelai lembut wajahku yang nampak menua. Dinginnya menyejukan kumisku yang mungkin lebih mirip Pak Raden, salah satu teman Si Unyil di tontonan favoritku semasa kecil dulu. Ada aroma tanah basah di setiap hembusannya. Daun-daun nampak tersenyum manis dengan warnanya yang hijau, langit pun terasa damai dihiasi mendung-mendung putih yang nampak berbaris. Sebuah rasa syukur yang luar biasa membuncah di dadaku. Aku sudah lupa kapan terakhir kali aku melihat alam seindah ini. Duniaku hanya sebatas ruang pengap bertembok kusam dengan barisan besi di bagian depan, ya setidaknya begitulah untuk beberapa tahun belakangan ini. Seorang wanita yang semakin rapuh dimakan usia nampak sedang memberi makan ayam-ayam yang ia pelihara di samping rumah, beberapa meter di depanku. Langkahnya nampak lebih lambat daripada ketika aku melihatnya meninggalkanku sendirian bersama orang-orang galak di sana 7 tahun silam. Sebenarnya aku tak ingin kembali ke tempat ini lagi. Aku sangat membenci wanita itu, wanita yang sudah membiarkanku berada di masa sulitku sendirian. Niat itu sangat kuat tertanam di hatiku bahkan hingga tadi pagi pun niat itu masih berkobar. Namun, semua amarahku padam ketika seseorang yang mengantarku ke tempat ini tadi, lelaki setengah baya yang sering kupanggil Pak Jono, bercerita tentang wanita tua itu. Cerita yang selama ini hanya kuanggap sebagai mimpi. Mengapa hanya mimpi? Karena sebenarnya aku sangat mencintai jalan cerita itu. Namun,...

Read More

PRASETYA BASUKARNA (Jalan Pengabdian Sang Putra Dewa Surya)*

Penulis : R.Seta Panggala (Budayawan) Basukarna atau yang lebih dikenal dengan nama Adipati Karna, kakak tertua Pandawa, lahir dari seorang putri raja (Dewi Kunti). Ia lahir dari mantra suci yang disebut Aji Dipa, pemberian Resi Druwasa. Basukarna lahir atas anugerah Dewa Surya, lalu dibuang dan ditemukan oleh seorang kusir kuda bernama Adirata. Sang anak dari Dewa Surya tumbuh menjadi pribadi yang otodidak, berani karena benar, berjuang sendiri tanpa mengandalkan bantuan keluarganya, dan kesatria yang tahu membalas budi. Di dalam hatinya, timbul rasa rela berkorban demi menangnya kebenaran meskipun mengorbankan jiwa dan nama baiknya. Pada saat tumbuh besar, dia terikat karena janji setianya pada para Kurawa karena Prabu Suyudana (kakak tertua Kurawa) mengangkatnya sebagai Bupati, dengan syarat dia harus berjanji untuk setia pada Kurawa. Basukarna pun menyanggupinya karena kagum pada kebaikan para Kurawa yang berani mengangkatnya, yang hanya seorang putra kusir kuda, menjadi seorang Bupati di daerah bagian Ngastina bernama Ngawangga. Basukarna tidak tahu bahwa itu sebenarnya adalah akal-akalan Kurawa. Pihak Kurawa melihat Basukarna sebagai seorang kesatria pilih tanding yang bisa diandalkan. Sehingga, kurawa berkeinginan agar Basukarna ada di pihak Kurawa dengan cara memberi jabatan pada Basukarna sebagai Bupati di daerah Ngawangga agar nantinya Basukarna akan memihak Kurawa sebagai senjata untuk melawan Pandawa. Jikalau, Pandawa sebagai pewaris yang sah menuntut haknya atas tahta Ngastina dari Kurawa. Setelah sekian lama, Basukarna yang telah bergelar Adipati Karna mulai menyadari kebusukan Kurawa dan...

Read More