Kategori: Cerpen

Kesatria Piningit

Penulis: Lupa Ingatan/Administrasi Bisnis 2014 Uang ratusan juta dollar dikeluarkan pemerintah Amerika untuk membiayai peluncuran satelit pendeteksi aura manusia. Ribuan ilmuwan berkumpul mengadakan diskusi terbuka untuk menemukan alat pembaca pikiran manusia jarak jauh–yang tentunya mampu mendeteksi lebih cepat daripada satelit. Agen-agen rahasia seluruh negara dikerahkan ke pelosok dunia: ke dusun, pulau-pulau hasil reklamasi, bahkan hingga ke mal-mal di Antartika. Dimanakah Kesatria Piningit? Begitulah berita yang menjadi headline koran maupun liputan utama dalam siaran televisi dalam sebulan ini. Tidak hanya media lokal, media mancanegara pun seperti sedang kebanjiran liputan. Bahkan berita di internet juga tak kalah sengit. Setiap portal berita memiliki persepsi masing-masing tentang sosok yang dicari tersebut. Satu per satu orang mengaku menjadi pahlawan yang ditunggu tersebut dengan sejuta alibi: mulai dari didatangi malaikat dalam tidur hingga menemukan batu ajaib dalam genggamannya saat keluar dari kamar mandi.Akun media sosial pun heboh. Hanya saja kali ini tidak lagi saling menuduh, justru saling mengklaim diri sendiri. Seluruh orang di penjuru dunia sepertinya sedang kebakaran jenggot. Bahkan pinguin di Antartika dan beruang kutub utara ikut gelimpungan. Maklum, saat ini jaringan internet sudah bisa diakses di kandang mereka. Dan aku muak. ** Langit menghitam. Awan putih yang selalu berarak bersama burung-burung pemakan biji kini tak pernah lagi muncul. Sepertinya semua manusia sudah lupa kapan terakhir kali melihat langit sebiru lautan. Mungkin itulah yang membuat kornea mata mereka semakin menghitam dan burung-burung pun nampak...

Read More

Jangan Rebut Lapangan Kami

Oleh: Ria Fitriani “Diah, sekarang sih ..” seru seorang bocah. “Ah, iya ..” jawab Diah. “Diah, awas jangan sampai gagal! Nanti tim kita bisa kalah .. “seru bocah yang lainnya. “Tenang saja! Tenagaku besar, kamu tak perlu khawatir .. “ucap Diah dengan nada penuh percaya diri. Ia pun mendapatkan bola kasti di genggamannya menggunakan kayu pemukul dengan kuat. Bola melambung jauh, semua anggota tim lari ke zona aman. Tim Diah kembali menang pertandingan. Suara riuh sorak sorai anak-anak polos ini sangat meramaikan suasana di lapangan desa Mojo Mulyo sakit itu. “Diah!” Panggil seseorang dari balik pohon jambu. “Ah, Sigit! Kau membuatku kaget saja. ” “Maaf Di, dia dia. Kamu lagi ngelamun ya? Oh ya, kapan kamu pulang? Baru datang ya? “ “Iya nih git, aku baru datang tadi pagi. Nanti mampir ya, aku bawa oleh-oleh dari Jogja. “Asiik, dibawain oleh-oleh ya? Siap lah, aku pasti mampir. Oh ya, kamu sedang apa Di di sini sore-sore?” “Emm.. cuma jalan-jalan sore aja sih, he he. Kangen tempat ini, tempat biasa kita main dulu sama anak-anak kampung. Tidak terasa ya, kita sudah sebesar ini. Bahkan teman kita sudah ada yang menikah, si Anis..hahaha.” “He he he.. iya Di, waktu memang cepat sekali berlalu. Kamu sudah jadi anak kuliahan, aku jadi buruh pabrik di desa sebelah, yang lain pun punya cerita sendiri-sendiri juga.” Sigit benar, kami semua memiliki kisah sendiri-sendiri selepas lulus dari Sekolah Menegah Atas. Ada yang melanjutkan ke jenjang Perguruan Tinggi di...

Read More

Untuk Bayiku Yang Tak Bernama

Penulis : Zendy Titis D. A Aku berangkat kerja. Kumasuki lapis demi lapis pagi seiring dengan kayuhan pedal sepedaku. Dulu, jalanku sepagi ini bukanlah hiruk pikuk lalu lintas yang macet. Melainkan hamparan sawah royo-royo[1] dengan kabut yang setengah terangkat. Kini, harus kurelakan kenangan sepuluh tahun silam itu. Mereka telah menguap bersama harapan terakhir yang tersisa di hati perempuan tua sepertiku. Aku harus mengikhlaskan sejuk silir padi yang setiap hari membantu napas kami. Aku dan seluruh petani yang dulu menggantungkan hidupnya pada persawahan di desa kami. Aku terus mengayuh, sesekali kurasakan kontraksi pada perutku. Setelah keberangkatan suamiku ke Malaysia, aku tak menyangka Tuhan masih mengizinkanku memiliki keturunan. Mengingat bahwa usiaku kini telah menginjak kepala empat dan ini kehamilanku yang pertama. Padahal kami telah bersiap batin dan rohani ketika tak ada yang sanggup meneruskan silsilah keluarga. Sepanjang lintasan roda yang bergulir pelan, kupegangi perutku seolah menunjukkan pada anakku bagaimana tempat ia dibesarkan kelak. Orang-orang di atas kendaraannya masing-masing menutup hidung. Sesekali tangan mereka mengibas-ibas ke depan. “Nak,” aku berbisik tanpa suara pada janin di rahimku. “Kotamu adalah gembong asap. Asap yang mengepul 24 jam penuh dari cerobong raksasa di suatu tempat di kota ini.” Sepuluh tahun silam, tidak seperti ini. “Pak, apa benar sawah kita itu mau dibeli orang seharga ratusan juta?” tanyaku pada suamiku sepuluh tahun silam. “Menurut Ibu gimana?” Suamiku jarang sekali menjawab dengan ya atau tidak. Ia terlalu...

Read More

Teruntuk Kau Yang Tak Pernah Datang

Penulis : Zendy Titis “Sudah kubilang dia nggak mungkin datang, Kuv. Ayo balik!” “Enggak.” Kutepis tangan Lisa, kakakku. “Kuv… ayo pulang… dia nggak akan datang. Oke?” Suara kakakku melembut, tapi aku tetap bergeming, lalu menatapnya sengit. Biasanya dengan seperti ini, dia akan langsung mengalah. Perlahan aku mendengar langkah-langkah kakinya menjauh. Pelayan mengambil cangkir-cangkir kosong di depanku. Dua ampas kopi terendap di sana selagi aku menunggunya. Nya, pronomina dari dia yang pergi tanpa bekas selain kenangan. Kenangan yang kusesap bersama kepul kopi panas setiap pagi. Nya yang tertinggal di setiap getir bubuk kopi yang tak ikut larut. Yang kukira telah tergilas oleh geraham dan muncul di jamban untuk kemudian terguyur musnah. Namun apalah arti perasaan yang terhimpit antara harapan dan keraguan. “Don’t be a stupid girl.” Dialogku dengan kakakku suatu hari, ketika sebuah pesan singkat tiba-tiba mendarat di ponselku. “Dia ingin ketemu tuh buat mutusin kamu.” Aku bisa menduganya, tapi toh aku tetap menemuinya. Meskipun kuakui aku takut bertemu dengannya, bukan berarti aku tidak menantikan momen-momen ini. Menebak-nebak adalah suatu proses yang membuatku mual. Akan seperti apa dia. Kata apa yang pertama keluar dari mulutnya. Apakah keberadaannya di sini adalah untuk benar-benar pulang, atau ini hanya pertemuan di sela-sela kesibukannya. Aku terantuk-antuk oleh ketidakpastian yang dia buat selama ini. Sejak dia pergi ke ibu kota dan meninggalkanku di kota yang dingin ini, tapi toh kami masih mempertahankan hubungan kami. Meski semua orang...

Read More

Dilema

Penulis : Joko Nur Sulityawan “Naikkan upah kami!” “Naikkan upah kami!” Gemuruh teriakan buruh yang berdemo di depan pabrik tengah menuntut hak-haknya. Mereka meminta pihak perusahaan untuk menaikkan upah mereka sesuai UMR yang ditentukan pemerintah setempat. Mereka mengancam akan melakukan mogok kerja massal jika tuntutan mereka tersebut tak dihiraukan oleh para pemimpin perusahaan. Bagi mereka dengan terkabulnya tuntutan mereka, maka pemerataan kesejahteraan masyarakat akan terwujud. “Pertemukan kami dengan  kaum borjuis  perusahaan yang telah banyak memeras kami dengan upah yang minim!” Seru Siswanto selaku penggerak massa. “Kami  ingin upah yang kami terima selama ini disesuaikan dengan UMR yang ditentukan pemerintah!” Lanjutnya. “Kami sudah muak jika tetap harus menunggu janji-janji perusahaan yang katanya akan membantu kami agar asap di dapur rumah kami tetap mengepul. Nyatanya saat ini pun kondisi kami tak banyak mengalami perubahan yang berarti. Keuangan kami pun tetap tak mampu untuk menutupi kebutuhan kami sehari-hari!” Teriaknya bagai membelah angin membuat buruh yang hadir semakin terbakar jiwanya untuk menjuangkan hak-haknya untuk hidup layak. Keinginan mereka untuk bisa hidup berkecukupan di tengah kerasnya kehidupan khas kota metropolitan semakin membuat mereka lebih termotivasi untuk memperjuangkan hak-hak yang mereka yakini adalah hak mutlak mereka. “Wahai para polisi segera beri jalan untuk kami. buruh nan teraniaya oleh kapitalis-kapitalis di dalam sana!” Teriak Siswanto lantas mendorong polisi yang ada didepannya. “Tapi yang penting Anda harap tenang. Karena saat ini para pemilik perusahaan tengah  mendiskusikan tentang...

Read More