Kategori: Cerpen

Secuil Kisah Negeri Kolam Susu

Penulis: Rethiya A “Dia punya raga. Aku punya jiwa. Dia punya raga. Aku punya jiwa. Tanah Surga namanya.” Sayup-sayup angin dingin menyapu suara antah brantah. Menjadikan Lenang dalam dengkurannya tertegu. Tak kala matanya melotot menyibak Tanah Surga. Benar-benar surga memang. Angin bersilir diantara padang rumput dan danau. Mega-mega putih menggumpal menjadikanya ketenangan. Mata melotot Lenang mulai tertimang-timang melanjutkan dengkurannya. Ketika suara “dorrrr!” menyentaknya. Membuat matanya melotot menghadap tebing tinggi diujung Tanah Surga. Ketika ia bangun, kakinya melangkah membelah Tanah Surga. Hati Lenang keruh, ketakutan mengelilinginya. Tebing diujung ternyata tumpukan semut-semut hitam tak bernyawa. Ia tengok arah lain. Berekor-ekor Tembukur...

Read More

Kesatria Piningit

Penulis: Lupa Ingatan/Administrasi Bisnis 2014 Uang ratusan juta dollar dikeluarkan pemerintah Amerika untuk membiayai peluncuran satelit pendeteksi aura manusia. Ribuan ilmuwan berkumpul mengadakan diskusi terbuka untuk menemukan alat pembaca pikiran manusia jarak jauh–yang tentunya mampu mendeteksi lebih cepat daripada satelit. Agen-agen rahasia seluruh negara dikerahkan ke pelosok dunia: ke dusun, pulau-pulau hasil reklamasi, bahkan hingga ke mal-mal di Antartika. Dimanakah Kesatria Piningit? Begitulah berita yang menjadi headline koran maupun liputan utama dalam siaran televisi dalam sebulan ini. Tidak hanya media lokal, media mancanegara pun seperti sedang kebanjiran liputan. Bahkan berita di internet juga tak kalah sengit. Setiap portal berita...

Read More

Jangan Rebut Lapangan Kami

Penulis: Ria Fitriani “Diah, sekarang sih ..” seru seorang bocah. “Ah, iya ..” jawab Diah. “Diah, awas jangan sampai gagal! Nanti tim kita bisa kalah .. “seru bocah yang lainnya. “Tenang saja! Tenagaku besar, kamu tak perlu khawatir .. “ucap Diah dengan nada penuh percaya diri. Ia pun mendapatkan bola kasti di genggamannya menggunakan kayu pemukul dengan kuat. Bola melambung jauh, semua anggota tim lari ke zona aman. Tim Diah kembali menang pertandingan. Suara riuh sorak sorai anak-anak polos ini sangat meramaikan suasana di lapangan desa Mojo Mulyo sakit itu. “Diah!” Panggil seseorang dari balik pohon jambu. “Ah, Sigit! Kau membuatku kaget saja. ” “Maaf Di,...

Read More

Untuk Bayiku Yang Tak Bernama

Penulis : Zendy Titis D. A Aku berangkat kerja. Kumasuki lapis demi lapis pagi seiring dengan kayuhan pedal sepedaku. Dulu, jalanku sepagi ini bukanlah hiruk pikuk lalu lintas yang macet. Melainkan hamparan sawah royo-royo[1] dengan kabut yang setengah terangkat. Kini, harus kurelakan kenangan sepuluh tahun silam itu. Mereka telah menguap bersama harapan terakhir yang tersisa di hati perempuan tua sepertiku. Aku harus mengikhlaskan sejuk silir padi yang setiap hari membantu napas kami. Aku dan seluruh petani yang dulu menggantungkan hidupnya pada persawahan di desa kami. Aku terus mengayuh, sesekali kurasakan kontraksi pada perutku. Setelah keberangkatan suamiku ke Malaysia, aku...

Read More

Teruntuk Kau Yang Tak Pernah Datang

Penulis : Zendy Titis “Sudah kubilang dia nggak mungkin datang, Kuv. Ayo balik!” “Enggak.” Kutepis tangan Lisa, kakakku. “Kuv… ayo pulang… dia nggak akan datang. Oke?” Suara kakakku melembut, tapi aku tetap bergeming, lalu menatapnya sengit. Biasanya dengan seperti ini, dia akan langsung mengalah. Perlahan aku mendengar langkah-langkah kakinya menjauh. Pelayan mengambil cangkir-cangkir kosong di depanku. Dua ampas kopi terendap di sana selagi aku menunggunya. Nya, pronomina dari dia yang pergi tanpa bekas selain kenangan. Kenangan yang kusesap bersama kepul kopi panas setiap pagi. Nya yang tertinggal di setiap getir bubuk kopi yang tak ikut larut. Yang kukira telah...

Read More