Kategori: Cerpen

Setiap Orang Jadi Pengajar, Perguruan Tak Akan Pernah Mati

Penulis: Helmi Naufal Z. Cuk gendeng! 1 seru para penonton dalam hati. Bocah itu sungguh lincah. Di ajang sepak bola Tarkam tahun ini, bocah bernomor punggung lima itu menjadi idola. Bahkan hingga babak final ini berlangsung, bocah itu selalu menjadi nyawa dalam setiap pertandingan. Ketika bola sedang dikuasainya, seluruh penonton hening dan termengu. Hatinya berdebar-debar menantikan kreasi apa yang akan ia ciptakan. Goblok kon!” 2 umpat Arga menyaksikan seorang pemain terkena cedera. “Boncil memang piawai bermain bola. Hingga tak seorang pun dalam tim itu bisa mengimbangi cara bermainnya. Tapi kalau seluruh temannya cedera, bisa-bisa kandas tim payah itu! Toh...

Read More

Biasa Sekolah Di Warung

Penulis: Helmi Naufal Pagi itu, tergambar wajah gagah matahari dari sepasang jendela kamar rumah Iwan. Iwan baru bangun karena teriakkan ibunya dari luar kamar yang terdengar seperti gelegar guntur, saat itu jam dinding menunjukkan pukul 06.45 Waktu Indonesia Sehat. Yang artinya 15 menit lagi pelajaran di sekolah Iwan dimulai. Dengan santai tangan kiri Iwan mengucek-ucek dua bola mata secara bergantian dan tangan kanannya mengambil sebuah handphone yang berada tidak jauh dari tempatnya tidur. “Gil, enteni diluk. Aku lagek tang,” 1 ketik pesan singkat Iwan kepada sahabatnya yang setiap hari nebeng ke sekolah. Setelah mengirim pesan singkat, Iwan memasukkan buku,...

Read More

Satu Kisah Sedih pada Suatu Musim Kemarau

Penulis: Dinda Indah Asmara Matahari musim kemarau terasa terik menyengat kulit. Tapi langit begitu biru indah. Burung-burung terbang bebas dan berkicau saling sahut menyahut. Anak-anak berkulit gosong tertawa riang sambil menerbangkan layangan aneka bentuk dan warna di sawah bekas dipanen. Biru, merah, hitam layangan biasa berbuntut sangat panjang atau gapangan yang besar menari-nari di atas. Kemarau, ah… Aku selalu suka kemarau. Langitnya selalu begitu indah entah siang atau malamnya. Jika siang hari ia begitu semarak oleh burung-burung dan layangan, malam hari kelap kelip bintang membentang bagaikan lampu pesta menghias malam. Aku juga suka angin sepoinya yang kini tengah membelai...

Read More

Tanah Sengketa

Oleh: Joko Iwan Pagi buta ketika semua orang masih sibuk dengan indahnya pulau kapuk, diriku telah bangun terlebih dahulu. Kubuka tirai jendelaku yang sederhana agar suasana dalam rumah terasa lebih menyegarkan. Di luar tampak langit masih berwarna biru gelap tanda sang surya hendak bangkit dari peraduannya. Di bawah jendela telah tampak ayam-ayamku tengah mengais-ngais tanah untuk mencari cacing sebagai santapan paginya. Kurasakan pula angin pagi yang dingin menerpa wajahku untuk menghilangkan rasa kantukku. “Pak, sarapannya sudah siap.” Suara nan lembut tiba-tiba terdengar dari belakangku. Aku pun membalik badan, kulihat seorang wanita berdiri sambil membawa piring di tangannya. “Ya, Bu....

Read More

Telah Mati

Penulis : Karima Styorini Hari ini kawanku mati. Dadanya sesak, napasnya tersengal-sengal, tubuhnya pucat membiru. Kalimat terakhir yang sempat ia ucapkan dengan susah payah setelah perdebatan kami, Perhatikan Tan Malaka. Aku masih mencari-cari maksud petuah terakhir kawanku itu, hingga matahari melingsir ke peraduannya petang ini, yang kutahu hanya siapa Tan Malaka, sisanya masih teka-teki yang tak kunjung kutemu jawabannya. Beberapa waktu sebelum kawanku mati, aku sempat berdebat dengannya. Siang yang gerah. Hampir tiga puluh menit aku terpanggang terik matahari, menunggu seorang kawan yang katanya ingin bertemu. Membahas sesuatu yang penting, begitu ucapnya empat jam yang lalu. Kalau bukan karena...

Read More