Arsip Kategori: Cerpen

Satu Kisah Sedih pada Suatu Kemarau

Oleh: Dinda Indah Asmara

 

Matahari musim kemarau terasa terik menyengat kulit. Tapi langit begitu biru indah. Burung-burung terbang bebas dan berkicau saling sahut menyahut. Anak-anak berkulit gosong tertawa riang sambil menerbangkan layangan aneka bentuk dan warna di sawah bekas dipanen. Biru, merah, hitam layangan biasa berbuntut sangat panjang atau gapangan yang besar menari-nari di atas.

Lanjutkan membaca Satu Kisah Sedih pada Suatu Kemarau

Tanah Sengketa

Oleh: Joko Iwan

Pagi buta ketika semua orang masih sibuk dengan indahnya pulau kapuk, diriku telah bangun terlebih dahulu. Kubuka tirai jendelaku yang sederhana agar suasana dalam rumah terasa lebih menyegarkan. Di luar tampak langit masih berwarna biru gelap tanda sang surya hendak bangkit dari peraduannya. Di bawah jendela telah tampak ayam-ayamku tengah mengais-ngais tanah untuk mencari cacing sebagai santapan paginya. Kurasakan pula angin pagi yang dingin menerpa wajahku untuk menghilangkan rasa kantukku.

Lanjutkan membaca Tanah Sengketa

Telah Mati

Hari ini kawanku mati. Dadanya sesak, napasnya tersengal-sengal, tubuhnya pucat membiru. Kalimat terakhir yang sempat ia ucapkan dengan susah payah setelah perdebatan kami, Perhatikan Tan Malaka. Aku masih mencari-cari maksud petuah terakhir kawanku itu, hingga matahari melingsir ke peraduannya petang ini, yang kutahu hanya siapa Tan Malaka, sisanya masih teka-teki yang tak kunjung kutemu jawabannya.

Beberapa waktu sebelum kawanku mati, aku sempat berdebat dengannya.

Siang yang gerah. Hampir tiga puluh menit aku terpanggang terik matahari, menunggu seorang kawan yang katanya ingin bertemu. Membahas sesuatu yang penting, begitu ucapnya empat jam yang lalu. Kalau bukan karena ia kawan karibku, aku tak akan menunggunya selama ini.

Lanjutkan membaca Telah Mati

Kesatria Piningit

Penulis: Lupa Ingatan/Administrasi Bisnis 2014

Uang ratusan juta dollar dikeluarkan pemerintah Amerika untuk membiayai peluncuran satelit pendeteksi aura manusia. Ribuan ilmuwan berkumpul mengadakan diskusi terbuka untuk menemukan alat pembaca pikiran manusia jarak jauh–yang tentunya mampu mendeteksi lebih cepat daripada satelit. Agen-agen rahasia seluruh negara dikerahkan ke pelosok dunia: ke dusun, pulau-pulau hasil reklamasi, bahkan hingga ke mal-mal di Antartika. Dimanakah Kesatria Piningit?
Begitulah berita yang menjadi headline koran maupun liputan utama dalam siaran televisi dalam sebulan ini. Tidak hanya media lokal, media mancanegara pun seperti sedang kebanjiran liputan. Bahkan berita di internet juga tak kalah sengit. Setiap portal berita memiliki persepsi masing-masing tentang sosok yang dicari tersebut. Satu per satu orang mengaku menjadi pahlawan yang ditunggu tersebut dengan sejuta alibi: mulai dari didatangi malaikat dalam tidur hingga menemukan batu ajaib dalam genggamannya saat keluar dari kamar mandi. Lanjutkan membaca Kesatria Piningit

Jangan Rebut Lapangan Kami

Oleh: Ria Fitriani

“Diah, sekarang sih ..” seru seorang bocah.

“Ah, iya ..” jawab Diah.

“Diah, awas jangan sampai gagal! Nanti tim kita bisa kalah .. “seru bocah yang lainnya.

“Tenang saja! Tenagaku besar, kamu tak perlu khawatir .. “ucap Diah dengan nada penuh percaya diri. Ia pun mendapatkan bola kasti di genggamannya menggunakan kayu pemukul dengan kuat. Bola melambung jauh, semua anggota tim lari ke zona aman. Tim Diah kembali menang pertandingan. Suara riuh sorak sorai anak-anak polos ini sangat meramaikan suasana di lapangan desa Mojo Mulyo sakit itu.

“Diah!” Panggil seseorang dari balik pohon jambu.

“Ah, Sigit! Kau membuatku kaget saja. ”

“Maaf Di, dia dia. Kamu lagi ngelamun ya? Oh ya, kapan kamu pulang? Baru datang ya? ” Lanjutkan membaca Jangan Rebut Lapangan Kami

Untuk Bayiku Yang Tak Bernama

Penulis : Zendy Titis D. A

Aku berangkat kerja.

Kumasuki lapis demi lapis pagi seiring dengan kayuhan pedal sepedaku. Dulu, jalanku sepagi ini bukanlah hiruk pikuk lalu lintas yang macet. Melainkan hamparan sawah royo-royo[1] dengan kabut yang setengah terangkat. Kini, harus kurelakan kenangan sepuluh tahun silam itu. Mereka telah menguap bersama harapan terakhir yang tersisa di hati perempuan tua sepertiku. Aku harus mengikhlaskan sejuk silir padi yang setiap hari membantu napas kami. Aku dan seluruh petani yang dulu menggantungkan hidupnya pada persawahan di desa kami.

Aku terus mengayuh, sesekali kurasakan kontraksi pada perutku. Setelah keberangkatan suamiku ke Malaysia, aku tak menyangka Tuhan masih mengizinkanku memiliki keturunan. Mengingat bahwa usiaku kini telah menginjak kepala empat dan ini kehamilanku yang pertama. Padahal kami telah bersiap batin dan rohani ketika tak ada yang sanggup meneruskan silsilah keluarga. Lanjutkan membaca Untuk Bayiku Yang Tak Bernama

Teruntuk Kau Yang Tak Pernah Datang

Penulis : Zendy Titis

“Sudah kubilang dia nggak mungkin datang, Kuv. Ayo balik!”

“Enggak.” Kutepis tangan Lisa, kakakku.

“Kuv… ayo pulang… dia nggak akan datang. Oke?” Suara kakakku melembut, tapi aku tetap bergeming, lalu menatapnya sengit. Biasanya dengan seperti ini, dia akan langsung mengalah.

Perlahan aku mendengar langkah-langkah kakinya menjauh.

Pelayan mengambil cangkir-cangkir kosong di depanku. Dua ampas kopi terendap di sana selagi aku menunggunya.

Nya, pronomina dari dia yang pergi tanpa bekas selain kenangan. Kenangan yang kusesap bersama kepul kopi panas setiap pagi. Nya yang tertinggal di setiap getir bubuk kopi yang tak ikut larut. Yang kukira telah tergilas oleh geraham dan muncul di jamban untuk kemudian terguyur musnah. Namun apalah arti perasaan yang terhimpit antara harapan dan keraguan.

Lanjutkan membaca Teruntuk Kau Yang Tak Pernah Datang

Dilema

Penulis : Joko Nur Sulityawan

“Naikkan upah kami!”

“Naikkan upah kami!”

Gemuruh teriakan buruh yang berdemo di depan pabrik tengah menuntut hak-haknya. Mereka meminta pihak perusahaan untuk menaikkan upah mereka sesuai UMR yang ditentukan pemerintah setempat. Mereka mengancam akan melakukan mogok kerja massal jika tuntutan mereka tersebut tak dihiraukan oleh para pemimpin perusahaan. Bagi mereka dengan terkabulnya tuntutan mereka, maka pemerataan kesejahteraan masyarakat akan terwujud.

Ice Cream, I Scream

Penulis : Mechelin Dirgahayu Sky

Akhir September 2015. Musim panas tahun ini semakin membakar kulit-kulit manusia. Suhu udara sudah tidak terkontrol lagi. Panasnya matahari tidak lagi hanya membakar kulit, tapi mengukus ruangan-ruangan. Sampai-sampai mendidihkan isi kepala. Ah, sebenarnya bukan hanya karena musim panas dan teriknya matahari saja. Tapi, tugas pembuatan antologi yang setiap tahun rutin anak sastra kerjakan yang membuat kepala rasanya mau meledak.

Kelas sastra mempunyai agenda rutin di setiap tahunnya, termasuk membuat antologi. Sayangnya tahun kemarin senior mereka tidak membuat antologi dan memilih mengundurkan diri sebelum didemisioner. Kelas sastra selalu dianggap sebelah mata. Setiap tahun saja pengikutnya semakin berkurang. Sampai tahun ini, hanya empat orang yang tersisa. Itu pun anggota baru semua.

“Kenapa aku bisa kejebak gini sih!” kesal Kania sambil mengelap peluhnya dengan punggung tangannya secara kasar.