Kategori: Cerpen

Proyek Rumah Langit

Penulis: Jatikuning “Presiden akan membuatkan istana untuk kalian di langit!” Seorang pria paruh baya dengan baju dinas yang baru keluar dari laundry-an mengangkat tinggi-tinggi tangannya sambil mendelik ke atas. Senyum manisnya tak ketinggalan. Meski ia mencoba untuk tetap terlihat tegas dan berwibawa. Di belakangnya, dua ajudan berpakaian pekat membawa setumpuk selebaran kertas berwarna biru. “Enak kan punya rumah di langit, Mad?” Pak Lurah menjawil lengan Somad. Somad memang punya mimpi untuk memiliki rumah di langit. Setiap kali ia menengok ke atas, entah ketika ia bermain layang-layang, memandang pesawat lewat, menerawang melalui jendela kelasnya yang tak berdaun, atau saat hendak...

Read More

Anak Kecil dan Bolanya

Penulis: Iko Dian Wiratama Hari Kamis bulan lalu ada hari libur nasional. Rindu akan kehangatan keluarga yang sudah tak terbendung lagi telah memburuku untuk pulang ke kampung halaman. Ruang perkotaan yang padat telah menutup ruangku untuk berkomunikasi pada keluarga. Hiruk-pikuk perkotaan justru sering kali melahirkan keterasingan berbalut keramaian. Hutan beton yang menjulang tinggi alih-alih menyajikan keindahan justru menyisakan sajian lorong-lorong penindasan. Hamparan padi yang hijau dan suara tonggeret yang memecah kesunyian hutan selalu membuatku rindu. Entah apa yang membawa ku berada dalam ruang perkotaan yang sebenarnya tidaklah lebih baik dari kampung halaman ku. Terkadang itu pula yang membuat ku...

Read More

Dongeng

Penulis: Meyulinda Krisnawati ​Pada suatu pagi yang cerah ketika semilir angin yang berhembus melewati sela-sela rimbunnya hutan. Tinggallah seekor serigala yang gagah tengah berjalan sambil sesekali mengendap-endap mengamati situasi di sekelilingnya. Mencoba memastikan apakah keadaan sudah aman atau belum. Bukan tanpa alasan serigala melakukan itu. Perlahan serigala mendekati pohon dimana terdapat sarang burung pada salah satu rantingnya. ​“Akhirnya aku bisa makan enak hari ini.“ gumamnya seraya tersenyum licik. Terdapat tujuh sampai delapan butir telur di sarang itu. Jumlah yang cukup banyak untuk menjadi delapan anak burung nantinya. Tanpa rasa bersalah, dilahapnya telur-telur itu tanpa tersisa. Tak puas dengan satu...

Read More

Pawon

Penulis: Dinda Indah Asmara Suara cetik api terdengar. Titik api memberi sedikit lihat dalam ruangan gelap pekat. Dimar yang telah nyala lalu dipindahkan ke atas meja. Cahayanya jadi semakin meluas dan mata lebih leluasa untuk melihat isi ruangan. Temboknya yang berbata merah, panci-panci berpantat hitam yang digantung berjejeran, rak piring kayu, juga gentong tanah liat dekat pawonan kini terlihat meski dalam keremangan. Ruangan itu adalah dapur yang sederhana. Orang Jawa menyebutnya pawon. Tangan keriput yang juga menyalakan dimar tadi lalu meraih blarak. Gerakannya menimbulkan suara kresek kresek yang agak riuh. Segenggam daun kelapa kering berhasil ia ambil. Ia lalu...

Read More

Setiap Orang Jadi Pengajar, Perguruan Tak Akan Pernah Mati

Penulis: Helmi Naufal Z. Cuk gendeng! 1 seru para penonton dalam hati. Bocah itu sungguh lincah. Di ajang sepak bola Tarkam tahun ini, bocah bernomor punggung lima itu menjadi idola. Bahkan hingga babak final ini berlangsung, bocah itu selalu menjadi nyawa dalam setiap pertandingan. Ketika bola sedang dikuasainya, seluruh penonton hening dan termengu. Hatinya berdebar-debar menantikan kreasi apa yang akan ia ciptakan. Goblok kon!” 2 umpat Arga menyaksikan seorang pemain terkena cedera. “Boncil memang piawai bermain bola. Hingga tak seorang pun dalam tim itu bisa mengimbangi cara bermainnya. Tapi kalau seluruh temannya cedera, bisa-bisa kandas tim payah itu! Toh...

Read More