Kategori: Sastra

Pawon

Penulis: Dinda Indah Asmara Suara cetik api terdengar. Titik api memberi sedikit lihat dalam ruangan gelap pekat. Dimar yang telah nyala lalu dipindahkan ke atas meja. Cahayanya jadi semakin meluas dan mata lebih leluasa untuk melihat isi ruangan. Temboknya yang berbata merah, panci-panci berpantat hitam yang digantung berjejeran, rak piring kayu, juga gentong tanah liat dekat pawonan kini terlihat meski dalam keremangan. Ruangan itu adalah dapur yang sederhana. Orang Jawa menyebutnya pawon. Tangan keriput yang juga menyalakan dimar tadi lalu meraih blarak. Gerakannya menimbulkan suara kresek kresek yang agak riuh. Segenggam daun kelapa kering berhasil ia ambil. Ia lalu...

Read More

Setiap Orang Jadi Pengajar, Perguruan Tak Akan Pernah Mati

Penulis: Helmi Naufal Cuk gendeng! 1 seru para penonton dalam hati. Bocah itu sungguh lincah. Di ajang sepak bola Tarkam tahun ini, bocah bernomor punggung lima itu menjadi idola. Bahkan hingga babak final ini berlangsung, bocah itu selalu menjadi nyawa dalam setiap pertandingan. Ketika bola sedang dikuasainya, seluruh penonton hening dan termengu. Hatinya berdebar-debar menantikan kreasi apa yang akan ia ciptakan. Goblok kon!” 2 umpat Arga menyaksikan seorang pemain terkena cedera. “Boncil memang piawai bermain bola. Hingga tak seorang pun dalam tim itu bisa mengimbangi cara bermainnya. Tapi kalau seluruh temannya cedera, bisa-bisa kandas tim payah itu! Toh dia juga tidak bisa bermain sendiri. Ia akan kerepotan mencari, merebut, dan menguasai bola seorang diri.” ocehnya kesal. Dewo tak menghiraukan ocehan kawannya itu. Ia tetap larut dalam pertandingan bola Antar Kampung itu. Arga dan Dewo memang penikmat sepak bola, khususnya sepakbola Tarkam. Dalam satu bulan ini tak sekalipun mereka mangkir untuk menonton pertandingan di lapangan bola. Letaknya yang berada di belakang paguron 3 mereka, menjadikannya cukup berjalan kaki untuk pergi kesana. Teman-teman di paguron pun seringkali turut menonton liga Tarkam ini bersama mereka. Tetapi khusus hari ini mereka hanya pergi ke lapangan berdua. Teman-temannya sedang latihan bela diri di paguron. Tidak sulit bagi anak-anak paguron mendapat izin dari guru mereka. Apalagi untuk menonton liga Tarkam yang tidak setiap hari ada. Jangankan untuk pergi menonton sepak bola. Meminta izin untuk keluar...

Read More

BIASA SEKOLAH DI WARUNG

Oleh: Helmi Naufal Pagi itu, tergambar wajah gagah matahari dari sepasang jendela kamar rumah Iwan. Iwan baru bangun karena teriakkan ibunya dari luar kamar yang terdengar seperti gelegar guntur, saat itu jam dinding menunjukkan pukul 06.45 Waktu Indonesia Sehat. Yang artinya 15 menit lagi pelajaran di sekolah Iwan dimulai. Dengan santai tangan kiri Iwan mengucek-ucek dua bola mata secara bergantian dan tangan kanannya mengambil sebuah handphone yang berada tidak jauh dari tempatnya tidur. “Gil, enteni diluk. Aku lagek tang,” 1 ketik pesan singkat Iwan kepada sahabatnya yang setiap hari nebeng ke sekolah. Setelah mengirim pesan singkat, Iwan memasukkan buku, alat tulis, HP dan rokok ke dalam tas. Saat keluar kamar, raut wajah Iwan tampak lelah setelah semalam suntuk begadang hanya untuk menonton wayang kulit di rumah Pak Carik. Dengan ritual sederhananya, cuci muka dan gosok gigi, Iwan memakai satu-satunya seragam putih abu-abu dan kemudian memacu motor bututnya ke rumah Agil. Jalan ke rumah Agil tidak begitu bagus, juga tidak begitu jelek, jadi biasa saja. Bersama motor bututnya, Iwan hafal betul dimana letak jalanan yang berlubang, letak jalanan aspal yang mulus, sampai jalan yang diberi pelepah pisang menuju rumah Agil. Menikmati liak-liuk motor, diiringi suara merdu khas motor 2 Tak. Sesampainya di rumah Agil, mulut Iwan mulai berkomat-kamit memanggil sahabatnya sembari memberhentikan motornya di pelataran depan rumah Agil. Agil bergegas keluar rumah dan bergegas berangkat sekolah dipayungi awan putih tebal...

Read More

Satu Kisah Sedih pada Suatu Kemarau

Oleh: Dinda Indah Asmara   Matahari musim kemarau terasa terik menyengat kulit. Tapi langit begitu biru indah. Burung-burung terbang bebas dan berkicau saling sahut menyahut. Anak-anak berkulit gosong tertawa riang sambil menerbangkan layangan aneka bentuk dan warna di sawah bekas dipanen. Biru, merah, hitam layangan biasa berbuntut sangat panjang atau gapangan yang besar menari-nari di atas.   Kemarau, ah… Aku selalu suka kemarau. Langitnya selalu begitu indah entah siang atau malamnya. Jika siang hari ia begitu semarak oleh burung-burung dan layangan, malam hari kelap kelip bintang membentang bagaikan lampu pesta menghias malam. Aku juga suka angin sepoinya yang kini...

Read More

Tanah Sengketa

Oleh: Joko Iwan Pagi buta ketika semua orang masih sibuk dengan indahnya pulau kapuk, diriku telah bangun terlebih dahulu. Kubuka tirai jendelaku yang sederhana agar suasana dalam rumah terasa lebih menyegarkan. Di luar tampak langit masih berwarna biru gelap tanda sang surya hendak bangkit dari peraduannya. Di bawah jendela telah tampak ayam-ayamku tengah mengais-ngais tanah untuk mencari cacing sebagai santapan paginya. Kurasakan pula angin pagi yang dingin menerpa wajahku untuk menghilangkan rasa kantukku. “Pak, sarapannya sudah siap.” Suara nan lembut tiba-tiba terdengar dari belakangku. Aku pun membalik badan, kulihat seorang wanita berdiri sambil membawa piring di tangannya. “Ya, Bu....

Read More