Kategori: Opini

Cerita yang Masih Terpinggirkan

Penulis: Iko Dian Wiratama “Workin’ nine to five, what a way to make a livin’. Barely gettin’ by, it’s all takin’ and no givin’. They just use your mind and you never get the credit. It’s enough to drive you crazy if you let it. Nine to five, yeah they got you where they want you. There’s a better life, and you dream about it, don’t you? It’s a rich man’s game no matter what they call it and you spend your life puttin’ money in his wallet.” Cuplikan lirik dari Dolly Parton yang berjudul “9 to 5” tersebut,...

Read More

Ekspresi, Imaji, dan Seni Pembebasan

Penulis: Satria Utama “Pramoedya Ananta Toer’s 92nd Birthday”. Begitulah doodle yang diangkat oleh Google pada hari Senin, 6 Februari 2017. Saya pun tidak akan tahu bahwa hari itu adalah hari lahir sosok maestro sastra nusantara, Pramoedya Ananta Toer, jika tidak membuka laman Google. Entah saya yang salah atau ekspansi budaya pop yang menggema dalam beberapa dekade ini. Ya, budaya pop memang sangat menenggelamkan nama besar beliau. Tetapi dalam tulisan ini, saya tidak akan membahas tentang Kakek Pram dan karya-karyanya. Karena pastinya telah banyak tulisan atau artikel tentang beliau yang telah dirilis bertepatan dengan haulnya. Bukan berarti saya tidak mengagumi...

Read More

UAS = Ukuran Angka Semu

Penulis: Helmi Naufal Ujian Akhir Semester (UAS) dijadikan salah satu cara untuk mengukur pemahaman materi yang telah diajarkan dalam bangku perkuliahan. Suatu metode pengulangan materi-materi perkuliahan berbentuk butir-butir soal yang ditata rapi, hitam di atas putih. Hampir semua perguruan tinggi di Indonesia menggunakan metode tersebut sebagai sumbangan nilai, selain dari nilai tugas terstruktur, kuis, Ujian Tengah Semester (UTS), dan praktikum. Sumbangan angka-angka dari hasil UAS tersebut, berpengaruh banyak dalam penentuan Indeks Prestasi (IP) mahasiswa. Selama ini mahasiswa menjadikan IP sebagai acuan dalam keberhasilannya menyelesaikan proses pendidikannya. Nahas, ketika nilai UAS dijadikan indikator terbesar dalam penghitungan IP. Ribuan bahkan jutaan...

Read More

Pemilihan Mahasiswa Fakultas Ilmu Administrasi (Pemilwa FIA) sedang berlangsung pada Senin, 21 November 2016. Pemilihan elite mahasiswa tahunan yang didanai oleh Dekanat ini selalu menimbulkan konflik horizontal antar mahasiswa. Alih-alih melahirkan pemimpin, Pemilwa justru memicu perpecahan dengan intrik-intrik politik. Pada tahun ini, Pemilwa diikuti oleh dua pasang Calon Presiden dan Wakil Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (Capres Cawapres BEM) yang merebutkan satu posisi di lembaga elite tersebut. Sedangkan sembilan kursi Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) direbutkan oleh sepuluh orang calon anggota DPM. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, intrik politik tidak pernah lepas dari agenda tahunan ini. Pada tahun ini, intrik dimulai saat panitia bersitegang perihal mekanisme pemilihan. Satu kubu dalam panitia menginginkan mekanisme pemungutan suara menggunakan e-vote, namun di lain kubu tetap menginginkan mekanisme secara konvensional. Pertentangan ini pun berakhir dengan keputusan pemungutan suara secara konvensional. Hal ini dikarenakan belum adanya dasar yang kuat untuk melaksanakan e-vote. Menjelang penyelenggaraan Pemilwa, intrik antar kubu semakin terasa. Dari data yang dihimpun LPM DIANNS, pelbagai masalah terjadi mendekati hari-H. Mulai dari penyebaran video melalui akun anonim yang menuduh Koordinator Panitia Pengawas (Co Panwas) mengampanyekan salah satu capres cawapres. Kemudian terkuak, perekam video tersebut adalah anggota Panwas sendiri. Bahkan permasalahan ini berujung pada segerombolan mahasiswa dari satu golongan menyatroni sidang Panwas di FIA pada Rabu, 16 November 2016 malam lalu. Aksi saling menjatuhkan antar kubu dalam Pemilwa dan kampanye gelap juga tak luput dari agenda tahun...

Read More

Menggugat Sejarah

Penulis: Hendra Kristopel Komunis adalah musuh kita. PKI adalah pengkhianat bangsa. Seperti itulah guru kita dulu menjelaskan sejarah bangsa ini. Bahkan di ranah perguruan tinggi pun demikian. Seolah tak mau tahu apa yang selama ini dibungkam. Setiap mendengar istilah Partai Komunis Indonesia, maka pikiran langsung mengarah ke peristiwa pengkhianatannya, terutama Gerakan 30 September 1965 (G30S). Ada yang benci dengannya, tanpa sebab sekalipun. Ada juga yang membuka pikiran tentang yang sebenarnya terjadi. Secara mendasar, G30S terletak dalam ruang konstelasi politik global, yakni perang dingin. Semakin naik kekuatan Amerika Serikat (AS), akan menggeser percaturan politik dunia. Kemajuan negaranya akan ditentukan oleh bagaimana mengatur peta politik di setiap negara yang akan menjadi bahan eksploitasinya. Hingga akhirnya, ia harus membasmi lawan politiknya sampai habis. Dan hal itu terjadi di Indonesia. Propaganda Palsu G30S Orde Baru melakukan pelbagai langkah terstruktur untuk menguatkan argumen: PKI bersalah dalam G30S. Salah satunya adalah mendongengkan sebuah narasi ke dalam film bertajuk ‘Pengkhianatan G30S/PKI’. Karya tersebut mencoba menampilkan ulang peristiwa G30S. Padahal, apa yang terjadi di malam itu masih menjadi tanda tanya besar. Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) sebagai organisasi perempuan onderbouw PKI, diceritakan menyilet kemaluan tujuh jenderal yang terbunuh malam itu, kemudian menarikan tarian Harum Bunga. Skenario sejarah buatan Orba ini amat berlebihan. Sang produser berkhayal terlalu liar, sampai-sampai kejadian yang ingin ia anggap realistis menjadi semacam film horor. Padahal, hasil visum dokter (yang pada masa Orba tidak pernah...

Read More