Kategori: Opini

UAS = Ukuran Angka Semu

Penulis: Helmi Naufal Ujian Akhir Semester (UAS) dijadikan salah satu cara untuk mengukur pemahaman materi yang telah diajarkan dalam bangku perkuliahan. Suatu metode pengulangan materi-materi perkuliahan berbentuk butir-butir soal yang ditata rapi, hitam di atas putih. Hampir semua perguruan tinggi di Indonesia menggunakan metode tersebut sebagai sumbangan nilai, selain dari nilai tugas terstruktur, kuis, Ujian Tengah Semester (UTS), dan praktikum. Sumbangan angka-angka dari hasil UAS tersebut, berpengaruh banyak dalam penentuan Indeks Prestasi (IP) mahasiswa. Selama ini mahasiswa menjadikan IP sebagai acuan dalam keberhasilannya menyelesaikan proses pendidikannya. Nahas, ketika nilai UAS dijadikan indikator terbesar dalam penghitungan IP. Ribuan bahkan jutaan...

Read More

Pemilihan Mahasiswa Fakultas Ilmu Administrasi (Pemilwa FIA) sedang berlangsung pada Senin, 21 November 2016. Pemilihan elite mahasiswa tahunan yang didanai oleh Dekanat ini selalu menimbulkan konflik horizontal antar mahasiswa. Alih-alih melahirkan pemimpin, Pemilwa justru memicu perpecahan dengan intrik-intrik politik. Pada tahun ini, Pemilwa diikuti oleh dua pasang Calon Presiden dan Wakil Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (Capres Cawapres BEM) yang merebutkan satu posisi di lembaga elite tersebut. Sedangkan sembilan kursi Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) direbutkan oleh sepuluh orang calon anggota DPM. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, intrik politik tidak pernah lepas dari agenda tahunan ini. Pada tahun ini, intrik dimulai saat panitia bersitegang perihal mekanisme pemilihan. Satu kubu dalam panitia menginginkan mekanisme pemungutan suara menggunakan e-vote, namun di lain kubu tetap menginginkan mekanisme secara konvensional. Pertentangan ini pun berakhir dengan keputusan pemungutan suara secara konvensional. Hal ini dikarenakan belum adanya dasar yang kuat untuk melaksanakan e-vote. Menjelang penyelenggaraan Pemilwa, intrik antar kubu semakin terasa. Dari data yang dihimpun LPM DIANNS, pelbagai masalah terjadi mendekati hari-H. Mulai dari penyebaran video melalui akun anonim yang menuduh Koordinator Panitia Pengawas (Co Panwas) mengampanyekan salah satu capres cawapres. Kemudian terkuak, perekam video tersebut adalah anggota Panwas sendiri. Bahkan permasalahan ini berujung pada segerombolan mahasiswa dari satu golongan menyatroni sidang Panwas di FIA pada Rabu, 16 November 2016 malam lalu. Aksi saling menjatuhkan antar kubu dalam Pemilwa dan kampanye gelap juga tak luput dari agenda tahun...

Read More

Menggugat Sejarah

Penulis: Hendra Kristopel Komunis adalah musuh kita. PKI adalah pengkhianat bangsa. Seperti itulah guru kita dulu menjelaskan sejarah bangsa ini. Bahkan di ranah perguruan tinggi pun demikian. Seolah tak mau tahu apa yang selama ini dibungkam. Setiap mendengar istilah Partai Komunis Indonesia, maka pikiran langsung mengarah ke peristiwa pengkhianatannya, terutama Gerakan 30 September 1965 (G30S). Ada yang benci dengannya, tanpa sebab sekalipun. Ada juga yang membuka pikiran tentang yang sebenarnya terjadi. Secara mendasar, G30S terletak dalam ruang konstelasi politik global, yakni perang dingin. Semakin naik kekuatan Amerika Serikat (AS), akan menggeser percaturan politik dunia. Kemajuan negaranya akan ditentukan oleh bagaimana mengatur peta politik di setiap negara yang akan menjadi bahan eksploitasinya. Hingga akhirnya, ia harus membasmi lawan politiknya sampai habis. Dan hal itu terjadi di Indonesia. Propaganda Palsu G30S Orde Baru melakukan pelbagai langkah terstruktur untuk menguatkan argumen: PKI bersalah dalam G30S. Salah satunya adalah mendongengkan sebuah narasi ke dalam film bertajuk ‘Pengkhianatan G30S/PKI’. Karya tersebut mencoba menampilkan ulang peristiwa G30S. Padahal, apa yang terjadi di malam itu masih menjadi tanda tanya besar. Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) sebagai organisasi perempuan onderbouw PKI, diceritakan menyilet kemaluan tujuh jenderal yang terbunuh malam itu, kemudian menarikan tarian Harum Bunga. Skenario sejarah buatan Orba ini amat berlebihan. Sang produser berkhayal terlalu liar, sampai-sampai kejadian yang ingin ia anggap realistis menjadi semacam film horor. Padahal, hasil visum dokter (yang pada masa Orba tidak pernah...

Read More

Menanti Gerakan Petani

Penulis: Satria Utama Perjalanan petani di Indonesia dalam sejarahnya lebih banyak diwarnai oleh konflik sosial keagrarian daripada oleh praktek kehidupan yang berlandaskan demokrasi. Petani selalu saja dalam posisi yang kalah; dalam kondisi yang selalu terpinggirkan dan perannya sekadar menjadi pelengkap dari sebuah komunitas masyarakat. Dalam sejarah dunia maupun Indonesia, gerakan petani yang menuntut hak-haknya kerap kali mengalami kekalahan. Ciri yang menonjol dalam setiap gerakan petani adalah mudahnya gerakan itu dipatahkan oleh penguasa yang kerap kali memihak pada kepentingan pemodal. Kekalahan yang biasanya diawali dari penangkapan para pemimpin gerakan petani dan kebetulan pemimpin itu tidak banyak menularkan kesadaran kelas maupun...

Read More

Birokrasi Kusut Koelasi Sistem Pemerintahan

Penulis :  Syaukani Ichsan *Mahasiswa Program Studi Bisnis Internasional 2012 dan Anggota LPM DIANNS FIA UB Pergerakan Mahasiswa Saya rindu ketika sejarah pernah menorehkan pada kertas-kertas kusam tentang mahasiswa sebagai kontrol pemerintah dan agen perubah bangsa. Teringat ketika tahun 1998 mahasiswa berkumpul dalam kerangka berpikir yang sama dan melakukan perlawanan terhadap rezim yang represif. Para mahasiswa saling berkonsolidasi merancang pergerakan masif. Semua mahasiswa yang berkumpul dalam Forkot (Forum Kota), Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) bertindak secara konfrontatif. Pada masa itu musuh begitu jelas dan kawan bisa saja menjadi musuh. Tetapi, semua saling bergerak dan menggerakkan, melawan sistem fasisme yang...

Read More