Kategori: Opini

Demi Swasembada Pangan, Petani Dikorbankan

Penulis: Jo Cigo Bertani merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pangan negeri ini. Tak terbayang apa jadinya bila seluruh petani di Indonesia berhenti mencangkul sawahnya, bisa saja Indonesia akan mengalami krisis pangan yang parah. Tetapi kejadian ini mungkin saja terjadi apabila hak petani direnggut, seperti yang tengah terjadi di Padang. Melalui Surat Edaran (SE) bernomor 521.1/1984/Distanhorbun/2017 Tentang Dukungan Gerakan Percepatan Tanam Padi tertanggal 6 Maret 2017 oleh gubernur setempat, publik dibuat terkejut. Itu dikarenakan SE resmi tersebut mengandung poin yang memerintahkan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) dan UPT Pertanian Kecamatan untuk ikut “membantu” program...

Read More

Komersialisasi Pendidikan: Berdagang Ilmu demi Pasar

Penulis: Jo Cigo Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan dasar di era globalisasi dan juga sebagai indikator maju tidaknya suatu negara. Dengan pendidikan pula kita dapat mengetahui peradaban suatu bangsa, karena berhasil atau tidaknya pendidikan di sebuah negara dapat mempengaruhi negara tersebut di kemudian hari. Demi terwujudnya kehidupan yang berperadaban, maka pendidikan haruslah memanusiakan manusia. Sebagaimana pendapat salah satu tokoh pendidikan Paulo Freire, ia mengatakan, “Orang yang buta huruf adalah manusia kosong dan itu adalah awal dari penindasan.” Sedangkan pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara merupakan proses pembudayaan yakni suatu usaha memberikan nilai-nilai luhur kepada generasi baru dalam masyarakat yang tidak hanya bersifat pemeliharaan tetapi juga dengan maksud memajukan. Upaya kebudayaan (pendidikan) dapat ditempuh dengan sikap (laku) yang dikenal dengan Teori Trikon, yakni kontinu, konsentris, dan konvergen. Dengan kata lain, tugas pendidikan adalah sebagai proses dialektika yang memanusiakan manusia dan juga mengembalikan sifat hakikat manusia tersebut seoptimal mungkin. Pendidikan yang humanis menekankan pentingnya pelestarian eksistensi manusia. Dalam arti membantu manusia lebih manusiawi, lebih berbudaya, sebagai manusia yang utuh berkembang seperti yang diungkapkan Ki Hajar Dewantara menyangkut daya cipta (kognitif), daya rasa (afektif), dan daya karsa (konatif). Namun belakangan ini kita kerap mendengar kalimat-kalimat “komersialiasasi pendidikan merupakan salah satu cara kapitalis”, “pendidikan sekarang mendehumanisasi manusia”, atau “pendidikan sekarang diciptakan untuk mencetak manusia yang dapat memenuhi kebutuhan pasar”. Kemudian apabila kita rangkum dari beberapa kalimat tersebut, maka akan timbul suatu pertanyaan, “Untuk apa...

Read More

Cerita yang Masih Terpinggirkan

Penulis: Iko Dian Wiratama   “Workin’ nine to five, what a way to make a livin’. Barely gettin’ by, it’s all takin’ and no givin’. They just use your mind and you never get the credit. It’s enough to drive you crazy if you let it. Nine to five, yeah they got you where they want you. There’s a better life, and you dream about it, don’t you? It’s a rich man’s game no matter what they call it and you spend your life puttin’ money in his wallet.” Cuplikan lirik dari Dolly Parton yang berjudul “9 to 5” tersebut, secara eksplisit menggambarkan kegundahan pekerja. Mengingatkan tentang perjuangan kaum buruh yang panjang, tiada henti sampai saat ini, hingga menyejarah. Persoalan buruh yang tidak sederhana, meskipun sebetulnya cenderung sama. Persoalan mengenai buruh di Indonesia masih menjelma tema pinggiran dalam laporan media arus utama, meskipun pemberitaan mengenai buruh tak luput menghiasi media massa. Pelbagai permasalahan tiada henti. Masalah yang satu belum selesai, sudah muncul kembali masalah yang kedua, dan berlanjut pada masalah-masalah lain yang tak kunjung menemukan titik temu.   Cara produksi kapitalis yang memiliki efek mendalam pada masyarakat telah menciptakan suatu kelas manusia yang baru, yaitu kelas buruh. Kelas sosial yang seharusnya ditempatkan sebagai kelas maha penting ini acap kali dimunculkan dalam potretnya yang nestapa. Pemunculan potretnya kerap dari kedip kamera yang menangkap pemandangan lorong-lorong sempit di sudut kota, asap...

Read More

Ekspresi, Imaji, dan Seni Pembebasan

Penulis: Satria Utama “Pramoedya Ananta Toer’s 92nd Birthday”. Begitulah doodle yang diangkat oleh Google pada hari Senin, 6 Februari 2017. Saya pun tidak akan tahu bahwa hari itu adalah hari lahir sosok maestro sastra nusantara, Pramoedya Ananta Toer, jika tidak membuka laman Google. Entah saya yang salah atau ekspansi budaya pop yang menggema dalam beberapa dekade ini. Ya, budaya pop memang sangat menenggelamkan nama besar beliau. Tetapi dalam tulisan ini, saya tidak akan membahas tentang Kakek Pram dan karya-karyanya. Karena pastinya telah banyak tulisan atau artikel tentang beliau yang telah dirilis bertepatan dengan haulnya. Bukan berarti saya tidak mengagumi sastrawan yang karya-karyanya mirip dengan Maxim Gorky ini. Juga bukan berarti saya mengagumi sosoknya agar dianggap heroik, jika mengingat perkataan salah satu kawan saya. Tetapi karena ada sosok pekerja seni lain yang amat saya kagumi, yang juga berulang tahun pada tanggal tersebut. Beberapa tahun setelah Eyang Pram lahir. Pada tanggal yang sama, tepatnya 6 Februari 1945, lahirlah seorang seniman besar lain bernama Robert Nesta Marley. Atau yang biasa kita kenal dengan sapaan Bob Marley. Sosok yang bukan hanya sekadar pecandu mariyuana, tetapi lebih dari itu. The Prophet, begitulah sebutan para rastafari untuk ikon “The Song of Freedom” ini. Sosok yang lahir dari seorang budak kulit hitam dari kawasan kumuh di Jamaika. Seperti Nelson Mandela, Bob Marley sangat menentang penjajahan, penindasan, ketidakadilan dan yang paling penting ia sangat menentang salah satu...

Read More

Persimpangan Harapan Negeriku

Oleh: Muhammad Nuril Mubin/Ilmu Administrasi Publik Ketika negeriku bergejolak Dengan hamburan opini yang berdampak Membuat tatanan sosial membengkak Dan membawa gelombang problema menyentak Ketika negeri subur dibuat hancur Oleh kekuasaan yang penuh lumpur Pemimpinnya tidur tersungkur Hingga masyarakatnya tak pernah akur Ketika negeri kaya terasa miskin Tanah ibu pertiwi hanya dibuat main Sementara teori dijadikan agenda berangin Akhirnya negeri yang kaya dikuasai orang lain Kekuasaan dijadikan penindasan Tapi hukum negeriku belum tegak tanpa landasan Sehingga kaum berada semakin banyak berlian Kaum tak punya hanya penuh dengan titipan Saat ini negeriku gersang dan memudar Mengikis jiwa yang telah hidup mengakar Sumber kedaulatan hidup berkeadilan telah pudar Oleh ketimpangan dan kicauan yang membongkar Seakan kata-kata menjelma jadi senjata sakti Yang membentuk doktrinasi untuk membenci Padahal Pancasila telah menjadi bukti Yang menyatukan nusantara di tanah ibu pertiwi Negeriku.. masihkah kau punya harapan? Harapan yang menyatukan meski banyak persimpangan Harapan yang mensejahterakan meski banyak penderitaan Dan harapan yang membuat mesra perbedaan Ketika kegelisahan bertumpuk dalam ingatan Hanya harapan yang mendorong tindakan perubahan Semua itu bukan mimpi dalam angan Tapi wujudkan dalam kenyataan yang mensejahterakan Aku teringat ketika reformasi bergelora Kaum muda menggebu bersuara Menyuarakan tatanan sosial tanpa sandiwara Mereka gandrung pergerakan yang sejahtera Aku berharap semua elemen bangsa Sadar dan bergerak merubah tatanan yang ada Dengan kemurnian dasar negara tercinta Untuk bersama mewujudkan harapan bangsa Negeriku.. Harapan adalah ketika kita melakukan sesuatu Maka...

Read More