Kategori: Opini

Realitas Mode Membuka Jejak Pribadi Kaum Hawa

Pakaian atau busana bukan lagi menjadi fungsi penutup bagian tubuh manusia, melainkan beralih menjadi kebutuhan sosial yang harus dipenuhi setiap orang, khususnya kaum hawa atau perempuan. Pakaian juga merupakan salah satu identitas diri dalam hal bersosialisasi dengan masyarakat luas. Perkembangan trend mode berbusana pun nampaknya selalu tak luput dari sorotan kaum yang satu ini. Dinilai wajar, memang seharusnya. Namun di sisi lain,pencitraan akan diri mereka pun akan lahir seiring pertumbuhan gaya berpakaian dari masa ke masa. Tentunya kondisi ini memberikan suatu pemikiran kritis untuk kehidupan sosial yang dilakukan oleh kita semua. Yaitu Karakter seseorang dibentuk dari sepotong pakaianĀ. Miris memang, namun itulah fakta sebenarnya yang terjadi di lingkungan sekitar kita. Dewasa ini telah menyorot bahwa prioritas masyarakat dalam hal berpakaian akan sangat tergantung pada keadaan sosial lingkungan sekitar. Segmentasi pasar bukan lagi mementingkan kebutuhan namun lebih kepada trend berbusana pada setiap era. Pribadi atau karakter seorang wanita seolah dibentuk melalui trend berbusana yang sedang menjadi top ranking dalam kehidupan sosial mereka, terutama para perempuan remaja yang masih terbilang cukup labil. Mereka inilah makanan empuk bagi para kompetitor pakaian untuk menjual produknya ke pasaran. Keterasingan. Itulah kata yang pas diperuntukkan bagi mereka yang mempunyai selera mode rendah. Demi mendapat perhatian dari sesamanya maupun lawan jenis atau bahkan suatu kelompok sosial, mereka akan berupaya semaksimal mungkin untuk melakukan suatu perubahan di dalam dirinya dalam hal mengikuti gaya berbusana maupun berpakaian. Jelas...

Read More

Sebatas IPK Cum Laude

Cum Laude adalah kata yang mampu mengepreksikan sebuah pencapaian terbaik bagi seorang mahasiswa dalam menempuh gelar pendidikannya sebagai seorang sarjana. Hal itu berarti secara tidak langsung mahasiswa terobsesi penuh pada sebuah lambang huruf yang tercetak pada lembar hasil studi mereka. Tetapi cukup kompetenkah hasil yang didapat dengan proses belajar yang dilakukan mahasiswa tersebut?. Terkadang pertanyaan tersebut muncul dengan proyeksi bahwa hanya sebatas Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) Cum Laude mampu menggambarkan secara keseluruhan potensi akademik yang dimiliki oleh seorang mahasiswa. Pengenalan akan dunia pendidikan Perguruan Tinggi memaksa kita untuk selalu bersaing dalam bidang kompetensi apapun demi mendapatkan sebuah predikat yang mumpuni antara satu sama lain. Tak jarang perburuan katacumlaude membuat sebagian mahasiswa berupaya penuh dengan cara mendidik dirinya sendiri untuk tetap fokus di bidang akademiknya. IPK Cum Laude secara tegas mengandalkan sisi pemikiran setiap mahasiswa dengan target mutlakcum laude harus direbut. Sampai batas itukah seorang mahasiswa akan mencapai kesuksesannya? Tentu bukan hal yang mudah untuk merefleksikan pertanyaan tersebut, bahwasanya dasar potensi akademik yang kuat harus mampu mengimbangi kemampuan atau bakat yang kita miliki. Tujuan yang benar akan potensi dasar kita sebagai seorang mahasiswa sebagai agen perubahan bangsa tentu bukan diukur melalui deretan huruf yang berjejal di lembar demi lembar hasil studi setiap semesternya. Namun, soft skill yang dimiliki akan mendukung kinerja kompentensi kita secara praktik bukan teoritis. Pemahaman yang baik akan sebuah nilai cumĀ laude sewajarnya dimulai dari diri setiap mahasiswa....

Read More