Category: Opini

CEDAW: Senjata Pelindung Perempuan

Sumber : ohionow.org Berbicara mengenai hak asasi manusia, semua insan semenjak dalam kandungan pun telah memilikinya. Universalisasi dari sebuah hak asasi berlaku di seluruh negara walaupun mungkin bertentangan dengan aturan/norma di suatu negara. Lalu, bagaimana jika hak asasi itu harus berbenturan dengan peraturan atau budaya yang membuat jurang diskriminasi terhadap perempuan semakin dalam? Pemberitaan di berbagai media senantiasa tak pernah berhenti setiap harinya membahas kasus diskriminasi terhadap perempuan bahkan hingga kasus pelanggaran HAM yang selalu membombardir citra demokrasi dan kepatenan hak asasi. Upaya perlindungan terhadap hak asasi dan pemusnahan diksriminasi terus dilakukan selain bantuan dari berbagai LSM, salah satunya dengan Konvensi CEDAW. Penjelasan lebih lanjut yang didapatkan dari berbagai sumber, Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan atau Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan atau Konvensi CEDAW (Convention On The Elimination of All Forms Discrimination Against Women) merupakan  suatu instrumen standar  internasional  yang  diadopsi  oleh  Perserikatan  Bangsa-Bangsa  pada tahun  1979 dan mulai berlaku pada tanggal 3 Desember 1981. Pada tanggal 18 Maret 2005, 180 negara, lebih dari sembilan puluh persen negara-negara anggota PBB, merupakan Negara Peserta Konvensi. Sementara itu, pada abad ke-20, Amerika Serikat memegang peran utama dalam pendirian Perserikatan Bangsa-Bangsa dan penyusunan Pernyataan Umum tentang Hak-Hak Asasi Manusia. CEDAW merupakan perjanjian internasional yang paling komprehensif tentang HAM perempuan, di mana ditetapkan kewajiban yang mengikat Negara Pihak secara hukum untuk mengakhiri diskriminasi terhadap perempuan. Konvensi CEDAW sendiri telah...

Read More

Jejak Klasik

Penulis :  Hesti Rahmadhani Membaca novel adalah aktivitas yang menyenangkan bagi saya. Melalui novel, saya bisa mengembangkan daya imajinasi saya. Tapi tidak semua genre novel saya suka. Ya, karena saya lebih memilih membaca novel dengan gaya bahasa yang gampang dicerna. Seperti TeenLit misalnya. Meskipun begitu, novel-novel terjemahan pun tak luput dari bacaan saya. Libur kuliah yang cukup panjang memberikan waktu luang yang begitu panjang pula untuk aktivitas membaca saya. Kali ini saya melangkahkan kaki saya menuju sebuah toko buku. Mata saya tertuju pada tumpukan buku sastra di depan pintu utama. Sebelum libur kuliah, saya pernah berdiskusi dengan teman saya mengenai sastra dan bahasa Indonesia. Dimana sastra Indonesia mulai pudar dimakan zaman. Saat itu kami berdiskusi tentang perdebatan novel TeenLit dan novel-novel karya sesepuh Indonesia. Menurut saya membaca novel TeenLit itu sah-sah saja, bahkan saya tidak heran banyak novel TeenLit atau novel sejenisnya mendapatkan label best seller. Karena bagi saya novel sejenis itu memang asik. Salah satu teman saya berpendapat lain tentang hal itu, kalau belum membaca novel sastra Indonesia klasik, pasti nggak akan tahu perbedaan yang luar biasa jauhnya dengan novel TeenLit bahkan TeenLit berlabel best seller sekalipun, dan kini kita kehilangan itu. Hal yang pertama kali terlintas dipikiran saya adalah letak perbedaan itu pasti ada pada gaya bahasa dan kosa kata yang digunakan. Ketika saya melihat-lihat novel, saya menemukan sebuah novel karya penulis terkenal di Indonesia. Marah Rusli....

Read More

Kesejahteraan Buruh Ala Robert Owen

Setiap tanggal 1 mei kita memperingati Hari Buruh Sedunia. Jutaan kaum buruh di seluruh dunia memperingati dengan turun ke jalan meneriakkan tuntutan-tuntutan mereka kepada pemerintah. Berbagai macam tuntutan yang kesemuanya bermuara menuju satu titik yakni kesejahteraan. Berbicara mengenai kesejahteraan buruh, bolehlah kita menengok ke masa lampau di saat revolusi industri dimulai. Dimulainya penggunaan mesin-mesin untuk menggantikan peran tenaga manusia. Pada saat itu muncullah seorang tokoh bernama Robert Owen dengan gagasannya yang menurut saya sangat relevan dan layak untuk dijadikan model bagi hubungan antara buruh dan pengusaha dewasa ini. Robert Owen di dalam karyanya A new view of society, or essays on the formation of the human character (1813) membantah pendapat umum pada waktu itu yang seakan-akan mengatakan watak pribadi manusia itu hanya dibentuk oleh pembawaan keturunan dan kemauan saja. Robert Owen menekankan, bahwa masih ada faktor lain yang membentuk watak manusia, yaitu keadaan sosial. Malahan beliau menandaskan bahwa pengaruh social environment manusia, yaitu pengaruh lingkungan sosial, adalah faktor pokok yang membentuk watak pribadi manusia, tidak hanya sewaktu manusia itu dalam zaman kekanak-kanakan, tetapi juga ketika bertumbuh menuju kedewasaan. Karena itu untuk membentuk watak yang baik, perlu diperbaiki lebih dulu lingkungan sosial manusia. Berdasarkan teori tersebut, maka Owen secara aktif menciptakan lingkungan sosial seperti itu bagi kaum buruh. Kaum buruh akan berwatak baik dan bekerja keras, apabila lingkungan pekerjaan dan lingkungan rumah tangga dalam keadaan baik. Sebaliknya kaum buruh akan berwatak busuk dan bekerja...

Read More

Pendidikan vs Biaya

Sebelum mendalami masalah pendidikan, terlebih dahulu kita harus mengetahui sedikit tentang bagaimana sejarah lahirnya pendidikan yang kemudian mengerti mengenai apa itu pendidikan, untuk siapa pendidikan, dan bagaimana sebaiknya pendidikan diijalankan. Sekilas mengenai sejarah persamaan antara fungsi pendidikan zaman kolonialisme dan era globalisasi yang selama ini terus dipertahankan adalah pada zaman kolonialisme pendidikan hanya diperuntukan bagi kaum yang memiliki kekuasaan dan umumnya diperuntukkan bagi kaum adam saja. Kaum hawa tidak boleh mengenyam pendidikan lebih tinggi daripada kaum adam, pendidikan pada zaman itu juga sangat terbatas, bahkan pemerintah Hindia-Belanda melarang adanya pendidikan yang tinggi untuk kaum pribumi. Pada zaman kolonialisme, pendidikan untuk kaum pribumi hanya sebatas pendidikan tingkat rendah yang dimungkinkan untuk dipekerjakan di kantor pemerintah Hindia-Belanda. Lembaga pendidikan untuk kaum pribumi ditutup, serta akses memperoleh pendidikan dihalangi dengan tujuan untuk membodohi rakyat Indonesia supaya pemerintahan Hindia-Belanda tetap bisa berjalan di Indonesia. Namun, pendidikan tetap diperjuangkan oleh tokoh-tokoh pendidikan seperti, Ki Hadjar Dewantara, R.A. Kartini, dll. Mereka mendirikan berbagai sekolah secara liar tanpa sepengetahuan pemerintah Belanda. Pendidikan pada zaman kolonial diutamakan untuk merebut kembali kemerdekaan, sehingga pendidikan pada zaman itu hanya digunakan sebagai alat politik untuk merebut kembali kemerdekaan. Hampir sama dengan era globalisasi dimana setiap orang wajib mengenyam pendidikan untuk memajukan Indonesia dan menjadikan manusia yang mandiri. Pendidikan pada saat ini menuntut semua orang untuk bisa tampil baik didalam maupun luar negeri, dengan satu tujuan mengangkat harkat dan martabat Indonesia...

Read More

Gandhi

“Cinta tidak pernah meminta, ia sentiasa memberi, cinta membawa penderitaan, tetapi tidak pernah berdendam, tak pernah membalas dendam. Di mana ada cinta di situ ada kehidupan; manakala kebencian membawa kepada kemusnahan” (Gandhi) Mohandas Karamchand Gandhi, lahir pada 2-10-1869, di Porbandar, Gujarat, India. Tokoh yang luar biasa memimpin pergerakan untuk kemerdekaan India, dengan gerakan Ahimsa-nya (tanpa kekerasan), Gandhi merangkul semua kelompok lintas agama di India, untuk menyatukan pikir dan langkah, fokus, demi kemerdekaan hakiki sebuah bangsa bernama India. Laju sejarah India pada waktu itu, berada pada titik nadir perubahan. Setiap saat dijumpai kabar adanya benturan antara para pemeluk agama. Masing-masing kelompok agama, pada waktu itu menginginkan, terbentuknya negara yang didasari oleh nafas agama tertentu. Akibatnya, India sebagai sebuah negara, terancam mengalami perpecahan. Gandhi, seorang pemeluk Hindu, namun dia pun berusaha memahami perjalanan serta arah ajaran agama lainnya. Karena dia berkeyakinan, bahwa, agama apapun yang ada di India, berhak hidup, dan tumbuh nyaman serta damai berdampingan dengan agama-agama lain yang berbeda. Tentu keyakinan Gandhi ini tidak datang begitu saja, pengala man saat dia berpraktik sebagai pengacara di Afrika Selatan, yang pada saat itu masih berselimut kelam politik Apartheid, membulatkan tekad dan energinya untuk mengubah undang-undang ataupun peraturan yang diskriminatif itu. Gerakan politik tanpa kekerasan akhirnya dia pilih. Sebagai sebuah rasionalisasi dari ajaran Hindu sederhana yang dia anut, yakni Satya (kebenaran) dan Ahimsa (hampa kekerasan). Betapapun luasnya dukungan gerakan tanpa kekerasan, namun...

Read More