Kategori: Liputan Khusus

Sekolah Perempuan Tumbuhkan Daya Kritis Perempuan Kota Batu

Reporter : Fadhilla Isniana dan Rahma Agustina Malang, dianns.org – Perempuan-perempuan Desa Giripurno Kota Batu mendatangi Balai Desa Giripurno Sabtu, 12 Maret 2016 untuk mengikuti kegiatan Sekolah Perempuan. Umur mereka berkisar antara 30 hingga 40 tahun. Sebagian besar peserta Sekolah Perempuan berprofesi sebagai petani sayur, petani bunga, dan pengrajin handycraft.  Seperti yang diungkapkan oleh Salma Safitri, aktivis perempuan sekaligus ketua  Suara Perempuan Desa (SPD-Rural Women Voices), Sekolah Perempuan merupakan wadah bagi para perempuan pedesaan di Kota Batu untuk menumbuhkan daya kritis. Hal ini diwujudkan dengan cara bertukar pengetahuan dan pengalaman. Mereka juga diajak untuk menemukan dan mengenal kebutuhan dan kepentingan perempuan. Pada tahun 2013, bersama dengan Suara Perempuan Desa (SPD-Rural Women Voices) dan Karya BundaCommunity (KBC) Kota Batu, Salma mulai menggagas dan menyelenggarakan Sekolah Perempuan. Hingga saat ini, peserta dari Sekolah Perempuan mencapai 112 orang dari 7 desa di Kota Batu. Pada awal berdiri, Sekolah Perempuan memiliki anggota sebanyak 275 orang. Meskipun jumlahnya menurun, permintaan untuk membuka Sekolah Perempuan di desa-desa lain cukup banyak. Sayangnya, karena keterbatasanvolunteer dan dana, Salma masih belum mampu membuka kelas di desa lain. Untuk memenuhi kebutuhan operasional, Sekolah Perempuan memperoleh dana dari swadaya SPD dan KBC. Selain mengambil dana dari kedua institusi tersebut, Sekolah Perempuan juga berkerja sama dengan institusi pemerintah, swasta, maupun lembaga dana di dalam dan luar negeri yang setuju dengan visi dan misi sekolah tersebut.Setiap kelas dalam Sekolah Perempuan terdiri dari...

Read More

Profesi Sederhana, Semangat Luar Biasa

Reporter : Athiyyah Rahma “Mengapa harus takut miskin jika Allah itu Maha Kaya? Miskin harta belum tentu miskin semuanya.” Menyisir senja di pinggiran kota Malang tepatnya di Jalan Gajayana, di tengah hiruk pikuk kota yang katanya terpelajar  namun masih saja ada yang belum bisa mendapatkan makna dari kata belajar itu. Penjual Buah, pofesi yang hanya dipandang sebelah mata dan rendah oleh sebagian orang. Namun, tak berlaku untuk lelaki yang selalu berbaju safari berwarna coklat pudar dilengkapi empat kantong dengan topi bundar berwarna hitam. Sudarsono, begitu ia akrab disapa. Di usianya yang sudah mulai menginjak 80 tahun, ia masih saja gigih dengan profesi yang sudah dijalaninya selama 22 tahun. Pekerjaan kecil yang sehari-hari dijalani dengan penuh rasa tanggung jawab yang besar tidak membuat Sudarsono berkecil hati. Lelaki kelahiran Bangil ini  setiap bulannya mendapatkan penghasilan sekitar 700.000 dengan berjualan sebanyak 12 kali tiap pukul 15.00 hingga malam. Walau dengan gaji yang dibilang kecil itu, Sudarsono tak pernah berkecil hati, ia tetap menerimanya dengan penuh rasa syukur. “Hidup itu harus ikhlas. Jangan pernah mengeluh. Sing penting halal,” ujarnya. Sudarsono memiliki tiga orang anak yang semuanya adalah perempuan. Anak yang pertama dan kedua sudah menikah dan tinggal bersama suaminya, sementara anak yang ketiga memiliki kelainan cacat mental yang membuatnya selalu bergantung pada Sudarsono. Jika ditanya soal istri, Sudarsono tidak tahu kemana istrinya pergi semenjak anak yang ketiga lahir. Itulah yang membuatnya tidak maksimal...

Read More

Merajut Asa, Melewati Keterbatasan

Reporter: Debby Yuliana W. dan Fadhi la Isniana Langkah kaki tak pernah lelah untuk menyusuri setiap jalan yang terbentang di hadapannya. Tidak mampu melihat seperti manusia pada umumnya, tidak berkuil hati untuk merawat dunia. Berasal dari sudut kota Garut, gadis yang sering disapa Giska ini, berlayar untuk mendapatkan ilmu ke kota Malang. Tentu bukan sesuatu yang mudah untuk memilih Malang sebagai kota perantauanya. Menjadi seorang anak yang bisa dibilang menyandang disabilitas, Giska tertarik memilih Universitas Brawijaya karena ingin mendalami dunia bisnis. Kecintaannya pada bisnis inilah yang menjadi salah satu penyambung hidup di kota perantauan. Tanpa mengenal malu, dia menyalurkan kemampuannya dengan berjualan di kampus. Toxoplasma Tuhan selalu punya rencana yang tak pernah diketahui umat manusia, begitu pun yang terjadi pada Giska. Dia tak pernah sama rencana rencana Tuhan. Pada tahun dua ribu sepuluh, Giska harus menerima nuansa pahit dalam hidup. Dua bola kedua tak bisa lagi berfungsi normal, ada bintik seperti noda yang bener penglihatannya. Giska tak pernah berpikir, apa yang terjadi pada kedua bola mata adalah penyakit yang serius. Tapi takdir kata lain, anggapannya yang hanya bisa mata minus belaka ditepis oleh dokter. Saat Giska mengunjugi salah satu rumah sakit di Garut untuk memeriksakan mata, dokter mengatakan bola kedua mata Giska terserang Toxoplasma. Toxoplasma adalah penyakit yang disebabkan oleh virus yang ada pada hewan seperti kucing dan anjing. Toxoplasma ini bisa menyebabkan. Cacat dan berbagai macam gangguan syaraf seperti buta dan lain – lain. Toxoplasma sudah menyerang syaraf mata Giska hingga mengalami peradangan. Karena hal...

Read More
  • 1
  • 2