Kategori: Laporan Utama

Festival Mata Air 2015: Melindungi Mata Air dan Menjaga Lingkungan

Batu, dianns.org – Warga Desa Bulukerto, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, Jawa Timur kembali menggelar Festival Mata Air untuk yang keempat kalinya pada tanggal 23 hingga 25 Oktober 2015. Kegiatan yang sudah diadakan selama empat tahun berturut-turut ini merupakan inisiatif warga terhadap kondisi mata air Gemulo yang terus berkurang. Padahal mata air Gemulo ini sangat membantu para warga dalam memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Selain keadaan mata air Gemulo yang terus berkurang di setiap tahunnya. Pada tahun 2012 area mata air Gemulo terancam akan dibangun hotel. Selain krisis mata air Gemulo yang mendasari terjadinya Festival Mata Air. Keadaan mata air yang ada di Jawa Timur yang terus berkurang pun mendasari acara ini. Pihak penyelenggara ingin sama-sama masyarakat Kota Batu melestarikan dan melindungi mata airnya. Sayangnya Festival Mata Air yang cukup sukses dan sangat bermanfaat ini tidak mendapatkan dukungan dari pemerintah. Padahal dampak dari acara ini pun juga cukup besar terhadap kelestarian mata air dan juga lingkungan. Rere dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) ditemui wartawan DIANNS 24/20/2015 mengatakan, “Bahwa Dewan Kesenian Kota Batu itu turut mendukung, iya. Tapi itu sebagai bagian usaha pendekatan kesenian kepada warga saja. Sedangkan ide, gagasan, dan semangat itu benar-benar dari warga Gemulo.” Menurut Keputusan Presiden No. 32 Tahun 1990, “Bahwa ruang selain merupakan sumber alam yang penting artinya bagi kehidupan dan perencanaan serta pelaksanaan pembangunan yang berkelanjutan juga mengandung fungsi pelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumber alam, sumber...

Read More

Salatiga Kota Merah: Upaya Rekonsiliasi Sejarah Berujung Penarikan Paksa

Halaman depan majalah Salatiga Kota Merah yang ditarik paksa oleh Polres Salatiga pada 16 Oktober 2015 lalu. Sumber: Dokumen LPM Lentera. Malang, dianns.org – Lima puluh tahun sudah berlalu, pasca pembantaian yang menyebabkan ratusan bahkan hingga jutaan nyawa manusia tak berdosa melayang. Mereka dibantai secara biadab akibat dituduh menjadi simpatisan partai berlambang palu arit tahun 1965. Seolah menjadi kabut tebal, tragedi berdarah itu tak kunjung terkuak. Hingga era Reformasi, siapa dalang di balik aksi pembantaian massal tersebut masih menjadi suatu misteri. Rezim Orde Baru memang telah tumbang, namun upaya untuk mengungkap fakta atas tragedi kemanusiaan itu belum juga menemukan titik terang. Stigma ateis yang ditanamkan rezim Orde Baru pada para korban pembantaian massal 1965 masih melekat hingga era pemerintahan Jokowi saat ini. Sehingga, pengungkapan kisah para korban yang sebenarnya terjadi dianggap sebagai bagian dari upaya penyebaran paham komunisme. Begitu juga dengan kasus yang dialami oleh Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Lentera. Majalah bertajuk Salatiga Kota Merah yang mereka terbitkan berakhir pada penarikan secara paksa oleh Polres Salatiga, Jawa Tengah pada Jumat, 16 Oktober 2015 lalu. Dilansir dari press release Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Lentera, majalah tersebut harus dibawa ke kepolisian untuk dibakar. Salah satu alasan penarikan majalah adalah judul sampul dinilai dapat menimbulkan persepsi bahwa Salatiga adalah kota Partai Komunis Indonesia (PKI). Namun, Muhammad Rofiuddin melalui pernyataan pers Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Semarang tertanggal 18 Oktober 2015, menganggap tindakan penarikan...

Read More

Diduga Menggelapkan Dana Sosial Serikat Pekerja, 77 buruh Gelar Aksi Solidaritas di Depan Polres Kota Malang

Malang, DIANNS.org Sebanyak 77 mantan buruh PT. Indonesian Tobaco gelar aksi solidaritas di depan Polres Kota Malang. Aksi yang di mulai pada pukul 13:28 WIB merupakan respon atas penetapan Saiful sebagai tersangka dengan tuduhan penggelapan dana sosial organisasi serikat pekerja pada (28/9) lalu. Atas status tersangka itu, Ipul yang merupakan pimpinan gerakan buruh dipanggil ke Polres Kota Malang untuk menjalani proses penyidikan tahap awal pada hari Senin (7/9). Selama proses penyidikan, Saiful didampingi oleh empat kuasa hukumnya. Ketika diwawancari, Abdul Rohman sebagai salah satu tim kuasa hukum mengatakan ihwal laporan tuduhan atas penggelapan dana bantuan sosial telah di laporankan oleh perusahaan kepada Polres Kota Malang sejak tahun 2014 lalu. “Status tersangka Saiful merupakan laporan perusahaan yang dilaporkan satu tahun sebelumnya,” tutur Rohman. Ia juga menambahkan, bahwa dana sosial yang diberikan oleh PT. Indonesian Tobaco kepada Perwakilan Unit Kerja (PUK), merupakan dana untuk biaya operasional kegiatan organisasi serikat pekerja, yang segala bentuk penggunaannya diketahui oleh seluruh anggota serikat pekerja. “Uang itu adalah dana sosial yang diberikan kepada pengurus turun temurun, itu tidak dipakai oleh Saiful sendiri, tetapi dipakai untuk kerja organisasi,” imbuh Rohman. Adapun jumlah nominal dana bantuan sosial yang diberikan perusahaan kepada PUK sebesar Rp660.000 per bulan. “Setiap bulan uang yang diberikan 660 ribu rupiah, kalau dihitung selama satu tahun 20 juta. Itu adalah dana pemberiaan cuma-cuma oleh perusahaan,” tukas Rohman. Di sisi lain, Al-Machi yang juga merupakan anggota tim...

Read More

Pasca Penganiayaan, Tosan Sudah Sadarkan Diri

          Pengamanan dari Polsek Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang, Jawat timur pada  (30/9) sore hari. Fotografer: Clara Dilas PR Malang, DIANNS.org – Tragedi berdarah tambang pasir besi Watu Pecak menyebabkan melayangnya nyawa seorang petani bernama Salim, atau yang kerap disapa Kancil (52). Selain Salim, korban lainnya adalah Tosan (51) yang menjadi sasaran tindak penganiayaan hingga akhirnya harus dilarikan ke Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Kota Malang. Kejadiaan ini menambah daftar hitam tingkat konflik yang terjadi di antara pemerintah dan rakyatnya dalam hal kepemilikan tanah. Tosan yang kini tengah mendapatkan perawatan intensif pasca penganiayaan tersebut pada Rabu (30/09) telah sadarkan diri. Sebelumnya, Tosan dan Salim merupakan petani-petani yang secara kritis menolak aktivitas tambang pasir besi di pesisir Pantai Watu Pecak. Adapun kronologis tragedi berdarah tersebut, dilansir melalui situs Tempochannel.com (30/9), pada tanggal 26 September 2015 sekitar pukul 08:00 WIB pagi hari, Tosan didatangi oleh segerombolan massa sebanyak empat puluh orang dengan membawa; pentungan kayu, pacul, celurit, dan batu. Kemudian, Tosan dihajar di depan rumahnya. Pada saat ingin melarikan diri menggunakan sepeda motor, gerombolan massa tersebut berhasil menangkap Tosan. Ia lantas ditelentangkan di jalan, kemudian dilindasi dengan sepeda motor selama beberapa kali. Tak sampai disitu, ia juga dihujani bogem mentah oleh massa tersebut. Aksi itu berhenti ketika Tosan mendapatkan pertolongan dari salah seorang warga sekitar. Setelah menghabisi Tosan, gerombolan massa alih-alih bergerak menuju rumah Salim. Salim yang pada saat itu tengah...

Read More

‘Sedulur Tunggal Roso’ Kecam Tindakan Pembunuhan dan Penganiayaan Dua Petani Lumajang

Massa aksi yang menggelar unjukrasa di depan gedung Dewan Perwakilan Daerah (DPRD) Kota Malang, Senin (28/9). Aksi ini merupakan bentuk solidaritas pasca pembunuhan dan penganiayaan dua petani Kabupaten Lumajang, yakni Salim alias Kancil (52) dan Tosan (51). Fotografer: Clara Dilasanti PR. Abddurahman Sofyan: “Polisi dan Gubernur Jawa Timur harus mampu membongkar aktor intelektual di balik kejadian ini” Malang, dianns.org – Insiden pembunuhan dan penganiayaan dua petani Desa Selok Awar-Awar, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur pada (26/9) lalu, menuai kecaman dari kalangan aktivis di Kota Malang. Masa aksi yang tergabung dalam aliansi Sedulur Tunggal Roso, mengutuk keras pemerintah Jawa Timur dan kepolisian untuk mampu membongkar dalang di balik kematian dan penganiayaan dua petani yang menolak aktivitas tambang di pesisir Watu Pecak. Aksi yang digelar di depan gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Malang, pukul 10:34 WIB merupakan aksi gabungan solidaritas organisasi dan masyarakat Kota Malang. Aksi demonstrasi ini merupakan respon atas kasus dua petani Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang yang dibunuh dan dianiaya. Sebelumnya, kedua korban tersebut adalah petani yang secara terbuka menolak aktivitas tambang di pesisir Pantai Watu Pecak, Kabupaten Lumajang. Kedua korban tersebut, yakni Salim atau kerap disapa Kanci (52) dan Tosan (51). Salim ditemukan tewas mengenaskan dengan luka hantaman benda keras di kepala. Jasad korban ditemukan terkapar di pinggir jalan dekat balai desa, dalam kondisi tertelungkup dengan tangan terikat ke belakang. Sedangkan, kondisi Tosan (51) memerlukan penanganan...

Read More