Pengamanan dari Polsek Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang, Jawat timur pada  (30/9) sore hari. Fotografer: Clara Dilas PR

Malang, DIANNS.org – Tragedi berdarah tambang pasir besi Watu Pecak menyebabkan melayangnya nyawa seorang petani bernama Salim, atau yang kerap disapa Kancil (52). Selain Salim, korban lainnya adalah Tosan (51) yang menjadi sasaran tindak penganiayaan hingga akhirnya harus dilarikan ke Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Kota Malang. Kejadiaan ini menambah daftar hitam tingkat konflik yang terjadi di antara pemerintah dan rakyatnya dalam hal kepemilikan tanah. Tosan yang kini tengah mendapatkan perawatan intensif pasca penganiayaan tersebut pada Rabu (30/09) telah sadarkan diri.

Sebelumnya, Tosan dan Salim merupakan petani-petani yang secara kritis menolak aktivitas tambang pasir besi di pesisir Pantai Watu Pecak. Adapun kronologis tragedi berdarah tersebut, dilansir melalui situs Tempochannel.com (30/9), pada tanggal 26 September 2015 sekitar pukul 08:00 WIB pagi hari, Tosan didatangi oleh segerombolan massa sebanyak empat puluh orang dengan membawa; pentungan kayu, pacul, celurit, dan batu. Kemudian, Tosan dihajar di depan rumahnya. Pada saat ingin melarikan diri menggunakan sepeda motor, gerombolan massa tersebut berhasil menangkap Tosan. Ia lantas ditelentangkan di jalan, kemudian dilindasi dengan sepeda motor selama beberapa kali. Tak sampai disitu, ia juga dihujani bogem mentah oleh massa tersebut. Aksi itu berhenti ketika Tosan mendapatkan pertolongan dari salah seorang warga sekitar.

Setelah menghabisi Tosan, gerombolan massa alih-alih bergerak menuju rumah Salim. Salim yang pada saat itu tengah menggendong cucunya yang berusia lima tahun, dengan cekatan mengamankan cucunya ke dalam rumah. Sebab, Ia melihat gerombolan massa yang datang dengan menunjukkan gelagat yang tak wajar. Gerombolan yang datang kemudian, mengikat kedua tangan dan menyeret tubuh Salim menuju balai desa Selok Awar-Awar. Sepanjang perjalanan, Salim dihajar dengan alat-alat yang dibawa oleh gerombolan massa. Di dalam balai desa, Salim di setrum berkali-kali kemudian diseret ke arah makam, dan di tempat itulah sang kakek meregang nyawa dengan darah segar terluap dari kepala.

Kini, kondisi Tosan sudah mulai pulih dan sudah dapat berbicara. Ia mendapat perawatan medis di RSSA Kota Malang, Jawa Timur sejak 27 September 2015 lalu. Sebelumnya, pada hari minggu (27/9) korban sempat mengalami operasi akibat menderita luka robek pada bagian lambung. “Alhamdulillah, setelah operasi kemarin, keadaannya sudah membaik. Cuman menurut dokter di dalam lambungnya mengalami infeksi dan sobek,” jawab Abdul Rosyid salah satu kerabat yang menemani korban, ketika ditemui awak LPM DIANNS di rumah sakit Saiful Anwar (30/9) sore hari.

Sebelum, mendapat perawatan medis di rumah sakit Saiful Anwar, korban sempat mengalami empat kali perpindahan rumah sakit. Hal ini dikarenakan ketiga rumah sakit yang dirujuk tidak mampu untuk memberikan penanganan medis. “Pada setelah kejadian itu, kami membawa Pak Tosan ke puskesmas Pasirian, setelah itu dirujuk ke Rumah Sakit Dr Haryoto, Lumajang, kemudian dirujuk ke rumah sakit Bhayangkara, Lumajang, dan terakhir ke sini rumah sakit Saiful Anwar.” imbuh Abdul Rosyid.

Selama empat hari Tosan mendapat perawatan medis secara intensif di RSSA. Namun, pihak kepolisian baru hadir memberikan pengamanan pada Rabu (30/9) pagi sekitar pukul 09:00 WIB. Hingga kini menurut Abdul, pihak kepolisian belum memintai keterangan ikhwal tragedi tambang berdarah itu. “Kalau untuk dimintai keterangan memang belum, tapi pada waktu itu sempat ada Tim Reserse datang ke sini untuk memintai keterangan. Tapi, karena pak Tosan belum siap, hanya istrinya yang dimintai keterangan pada Senin malam (28/9),” ujar Abdul Rosyid.

Lebih lanjut, sejauh ini Abdul menilai bantuan yang diberikan untuk biaya pengobatan korban telah didapatkan dari beberapa sumber. “Alhamdulillah beberapa bantuan telah datang, sebelumnya pada hari Minggu sampai hari Senin kami mengalami kesulitan. Terus juga Alhamdulillah kemarin itu (29/9) kartu BPJSnya Pak Tosan sudah bisa digunakan. Terus teman-teman dari Gusdurian, dari Walhi, dan juga teman-teman dari Kota Batu juga sudah dateng,” tutur Abdul Rosyid.

Ia juga menyebutkan nominal biaya pengobatan medis sebesar sebelas juta rupiah. Abdul mengatakan, “Biaya pengobatanya sebelas juta, Mas. Ya, mau gak mau kita sanggupi aja karena keadaan mendesak,” ucapnya. Abdul menambahkan bahwa hingga sampai operasi usai, biaya pengobatan belum mampu dibayarkan.

Reporter: Syaukani Ichsan dan Clara Dilasanti