Fotografer: Asti Faizati

Malang, dianns.org – Semakin berkembangnya zaman, semakin banyak fenomena sosial yang terjadi di Indonesia. Salah satunya adalah fenomena wanita yang menjadi perokok aktif. Menurut Yoyon Supriyono, Ketua Jurusan Psikologi Universitas Brawijaya, fenomena wanita yang memutuskan untuk menjadi perokok aktif dipandang wajar, mengingat di Indonesia tidak ada hukum tertulis yang melarang seorang wanita untuk merokok. Namun juga harus melihat kembali kepada budaya dari negara di mana ia akan merokok. Misalkan saja budaya di Indonesia memandang tabu terhadap wanita yang merokok, berbeda dengan budaya di luar Indonesia yang memandang biasa saja.

Pandangan miring dan cemoohan yang kerap diterima wanita perokok merupakan bentuk sanksi moral, yang menunjukan budaya Indonesia yang masih memandang tabu wanita yang merokok. Menurut Yoyon, akan sangat baik bila sanksi moral tersebut dapat merubah wanita perokok untuk tidak merokok lagi. Akan tetapi sangat jarang sebuah sanksi moral yang didapatkan oleh perokok dapat membuat perokok itu untuk berhenti merokok. Karena merokok merupakan hak setiap orang selama tidak ada larangan tertulis terkait hal tersebut. Namun kembali lagi kepada si perokok tersebut. Dia harus sadar dan mengetahui sisi positif dan negatif dari apa yang dilakukannya. Dengan melihat budaya dari tempat dimana dia akan merokok, maka dia dapat menyesuaikan kebiasaan merokoknya dengan budaya setempat. Contohnya saja seperti pemilihan tempat yang tepat untuk merokok.

Yoyok menjelaskan bahwa hal yang menyebabkan seorang wanita memutuskan untuk menjadi perokok aktif selain karena ingin mendapatkan rasa nikmat dari merokok adalah karena wanita tersebut ingin mendapatkan nilai dengan merokok. Mengingat saat ini sedang gancar isu emansipasi wanita, di mana wanita ingin kedudukannya disetarakan dengan kedudukan pria. Dengan merokok, kebanyakan wanita berfikir akan mendapatkan nilai seperti kedewasaan, kekuatan, berbeda, unik daripada wanita yang tidak merokok, dan kedudukannya dirasa sama seperti dengan pria.

Sebenarnya wanita yang merokok berarti sedang mengalami regresi (kemunduran) kembali ke umur 0-2 tahun. Menurut Yoyok, pernyataan tersebut dikuatkan dengan salah satu teori Freud yang menjelaskan tentang fase oral. Fase oral adalah fase di mana seseorang mendapatkan kenikmatan di dalam mulut dengan salah satu caranya adalah memasukkan benda ke dalam mulut. Sama sepert balita yang sangat senang memasukkan benda ke dalam mulutnya. “Misalkan saja dia punya banyak masalah dan ternyata untuk menemukan jalan keluarnya, dia harus kembali ke masa kecilnya, yaitu dengan merokok. Itulah yang dinamakan regresi,” tambah Yoyon.

Selain teori Freud, ada pula teori Biofioral yang menyatakan bahwa seorang wanita memutuskan untuk menjadi perokok aktif dapat berawal dari kebiasaan lingkungannya atau dari informasi yang didapat dari lingkungannya. “Ketika lingkungan dari seorang wanita dipenuhi oleh perokok aktif dan wanita itu memutuskan untuk mencoba merokok secara berulang-ulang, maka merokok dapat menjadi kebiasaan wanita tersebut dan akhirnya wanita tersebut menjadi perokok aktif,” ujar Yoyon. Selain itu, apabila seorang wanita mendapatkan informasi dari lingkungannya, misalkan merokok dapat memberikan rasa nikmat dan akhirnya wanita tersebut memutuskan untuk mencoba merokok. Maka hal itu pula yang dapat mendorong wanita untuk memutuskan menjadi seorang perokok aktif.

Salah satu wanita perokok yang sempat diwawancarai DIANNS, mengaku bahwa faktor pemicu yang membuat dia memutuskan untuk menjadi perokok aktif berawal dari coba-coba saja. Wanita yang enggan disebut namanya ini, bercerita bahawa dirinya mendengar dari banyak perokok lain yang mengatakan bahwa merokok dapat membantu untuk membuat diri menjadi lebih tenang dan dapat membuat diri kita berfikir lebih kreatif. Sehingga yang awalnya hanya sekedar coba-coba, kemudian sekarang menjadi sesuatu yang layaknya seperti sebuah keharusan. Menurutnya, dari kebiasaan merokok tersebut muncul perasaan tenang dan mampu mendatangkan inspirasi baru. Selain itu alasan nyata yang paling sering dicari adalah sebuah kepercayaan diri dari sang pelaku. Terlebih ketika wanita sedang merokok dan banyak mata yang tertuju padanya. Pandangan banyak pasang mata tersebutlah yang justru mampu membuat kepercayaan diri seorang wanita perokok menjadi tinggi. Karena mereka merasa telah mampu menunjukkan jati diri mereka, juga merasa lebih bebas dalam berekspresi.

Terkait kebiasaan merokoknya, pandangan miring dan cemoohan sudah sering diterimanya. Meski sesekali menjadi beban psikis, namun hal tersebut tidak begitu dia pedulikan. Baginya, selagi rokok yang dihisapnya bukanlah hasil meminta atau mencuri, jadi tidak ada sesuatu yang perlu menjadi masalah. “Dicemooh itu memang sudah menjadi hal biasa bagi saya, yang penting rokok ini bukan hasil meminta atau mencuri. So what? Meski terkadang sejenak terpikir saat dicela orang lain saat asap yang saya keluarkan mengganggu, tapi ya sudahlah. Terserah mereka saja. Toh belum ada larangan merokok,” ujarnya.

Dia menambahkan bahwa tempat dan waktu khusus untuk merokok jarang sekali ia temukan. Selama ruangan tersebut merupakan ruang terbuka dan bukan di ruangan ber-AC, merokok akan tetap dilakukannya, baik pagi, sore, ataupun malam. Orientasi mereka hanyalah semata untuk mendapatkan kenikmatan dan ketenangan diri. Bahkan berapa banyak pasang mata yang memandang aneh dan tidak suka pun bukan sebuah masalah yang perlu dipikirkan.

Reporter: Asti Faizati dan Nuris Azizah