tumblr_inline_mm7tplSUn61qz4rgp

Fotografer: Siska Wahyu

Malang, LPMDIANNS.COM – Jum’at (03/05/2013) Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Malang, dan Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) Kota Malang melakukan demonstrasi damai di Balai Kota Malang. Aksi ini mengangkat tema Stop Kekerasan Press Fredom Is Your Freedom. Demontstrasi dimulai sejak pukul 9 pagi di depan Balai Kota Malang. Dalam demonstrasi ini, demonstran memakai atribut dari koran dan membawa bunga mawar yang dibagi – bagikan kepada pengguna jalan. Bunga mawar tersebut juga diberikan kepada walikota Malang ketika walikota memasuki Balai Kota. Setelah demonstrasi di depan Balai Kota Malang demonstran meneruskan aksi dengan longmarch menuju Makodim 083 Kota Malang.

Demonstrasi ini menyuarakan suara jurnalis mengenai kasus-kasus kekerasan mengenai  para jurnalis  Salah satu yang mereka teriakkan dan mereka lontarkan adalah kasus jurnalis Malang Ira Ravika yang mengalami patah tulang tertutup di lengan kanan. Mereka juga menuntut tentang kasus-kasus tindak kekerasan yang menimpa para jurnalis diusut secara tuntas. “Kasus yang selama ini diselidiki oleh polisi sejauh ini belum ada perkembangan,” ujar  Eko Widianto, selaku ketua AJI Malang. Mereka mengecam setiap tindakan kekerasan kepada jurnalis karena dalam menjalankan tugas jurnalistiknya jurnalis dilindungi konstitusi, undang-undang Nomor 40 Tahun 1999 secara tegas menyatakan bahwa wartawan tidak boleh dihalang-halangi ketika melakukan tugas jurnalistik. Barang siapa yang bertindak semena-mena dengan menghalangi tugas wartawan, apalagi menganiaya, tentu harus berhadapan dengan hukum.

Dalam press realase, atas kekerasan yang dialami jurnalis selama ini, Aliansi Jurnalis Anti kekerasan menyerukan :

1. Hentikan segala bentuk kekerasan terhadap jurnalis

2. Mengajak masyarakat yang dirugikan pemberitaan untuk menggunakan mekanisme hak jawab dan hak koreksi atau menyelesaikan melalui mediasi Dewan Pers

3. Menuntut aparat penengak hukum untuk  mengusut tuntas kasus kekerasan yang dialami jurnalis saat menjalankan kerja jurnalistik.

Reporter: Debby Lian