Malang, Dianns.org – Kuliah tamu bertema Melawan Lupa! Wirausaha dan Garda Depan Ekonomi Bangsa diadakan di GOR Pertamina Universitas Brawijaya (UB), Senin (23/04/2012). Founder Medco Group, Dr. (HC) Arifin Panigoro, merupakan pembicara dalam acara ini. Turut hadir pula Dirut Medco Group, Pimpinan BPR Nusuma, Pimpinan Bank Saudara, Pimpinan GKSI, mahasiswa, dan tidak ketinggalan Prof.Dr.Ir. Yogi Sugito selaku Rektor UB. Dari tamu undangan tampak hadir Rosi Silalahi yang merupakan presenter kondang salah satu stasiun televisi swasta Tanah Air.

Kuliah tamu kali ini berbeda dengan kuliah tamu biasanya, karena pada saat yang bersamaan dilakukan penandatangan MoU antara UB dengan Medco Group, BPR Nusuma, Bank Saudara, dan GKSI (Gabungan Koperasi Susu Indonesia). Acara yang dijadwalkan berlangsung mulai jam setengah sembilan mengalami keterlambatan sekitar setengah jam. Begitu undangan yang ditunggu – tunggu hadir, acara langsung dibuka oleh pembawa acara. Kemudian dilanjutkan sambutan oleh Rektor Universitas Brawijaya. Setelah itu dilakukan penandatangan MoU disaksikan oleh Arifin Panigoro, selaku founder Medco Group.

Materi kuliah tamu antara lain berisi tentang Belajar Sejarah Masyarakat Jawa Timur. Pembicara, Arifin Panigoro, mengajak peserta menengok kembali peran yang sangat besar dari masyarakat Jawa Timur dalam membangun Indonesia. Misalnya sekitar 718 tahun yang lalu, di bumi Jawa Timur, Raden Wijaya mendirikan kerajaan Majapahit. Kemudian Raja Hayam Wuruk dengan Maha Patih Gajah Mada, Majapahit berhasil menyatukan kepulauan Nusantara di bawah kekuasaannya. Sejarah ini memberikan keyakinan kepada para pendiri bansa bahwa kita mampu membangun sebuah negara besar. Kemudian pada masa penyebaran agama Islam kita mengenal Wali Sanga, di mana lima diantaranya berasal berbasis di Jawa Timur. Selanjutnya masih banyak lagi tokoh bangsa yang berasal dari Jawa Timur.

Kemudian Arifin juga menyampaikan Tantangan Bagi Generasi Sekarang. Tantangan yang disampaikan di sini yaitu bahwa menjaga kemerdekaan dan membangun bangsa sesudah proklamasi tidak kalah beratnya dari memperjuangkan kemerdekaan. Dia memberikan contoh Majapahit yang berdiri selama 186 tahun akhirnya bisa runtuh. Kerajaan Demak, yang berdiri sesudah Majapahit namun dengan luas wilayah jauh lebih kecil juga hanya bertahan selama 68 tahun. Kerajaan Pajang yang berdiri setelah runtuhnya kerajaan Demak hanya bertahan selama 40 tahun. Sesudah Pajang berdirilah kerajaan Mataram yang bertahan hampir selama seratus tahun sampai raja “ rajanya kemudian tunduk pada pemerintah kolonial Belanda. Dilihat dari sejarah perjalanan ini kita bisa belajar bahwa negara,“ negara bisa bubar, suatu bangsa bisa kehilangan kedaulatannya. Umur NKRI tahun ini baru 67 tahun, bagaimana kita bersama,“ sama menjaga agar NKRI menjadi negara yang berjaya selamanya.

Selain itu, Arifin juga menyajikan catatan Keadaan Kita Sekarang yang dikelompokkan menjadi rapor biru dan rapor merah. Rapor biru merupakan catatan hal “ hal yang membuat kita gembira. Sedangkan rapor merah merupakan catatan hal “ hal yang membuat kita prihatin. Rapor biru mencatat bahwa negara kita menjadi inspirasi perjuangan kemerdekaan bangsa “ bangsa Asia“ Afrika. Selanjutnya Indonesia yang berbentuk kepulauan tetap tegak sebagai Negara Kesatuan. Dalam situasi global yang choatic akibat krisis Amerika sejak tahun 2008, ternyata pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai angka 6 persen per tahun. Indonesia juga tercatat sebagai salah satu negara demokrasi terbesar. Sedangkan yang tercatat dalam rapor merah antara lain Indonesia ketergantungan dalam bidang pangan, dalam bidang energi, kerusakan lingkungan, rendahnya human development index, serta masalah korupsi.

Mengingat kembali tema acara ini, Melawan Lupa, jadi apa saja yang sebenarnya telah kita lupakan? Arifin menerangkan bahwa kita telah melupakan pengorbanan para pejuang kemerdekaan, lupa pentingnya karakter, lupa menjaga kedaulatan, lupa menghayati kebhinekaan, lupa peran kecerdasan, dan lupa tanggung jawab terhadap sosial. Dia mengatakan bahwa untuk menjalankan tanggung jawab kita sebagai warga negara, kita harus memerangi penyakit lupa tersebut. Ada berbagai cara untuk melawan lupa, salah satunya adalah bela negara dengan kewirausahaan. Selain itu kita harus menjadi wirausaha yang membawa berkah. Dia mengatakan bahwa untuk mencapai itu tidak ada teori yang abstrak, hanya saja dia bersedia berbagi langkah yang telah ia pelajari dari praktik kehidupan selama ini. Langkah itu ia sebut sebagai 6B. 6B itu antara lain berpikir, bekerjasama, berbuat, berprinsip, belajar, dan berbagi.

Setelah materi kuliah disampaikan, moderator memanggil Rosi Silalahi ke atas panggung untuk memandu sesi tanya jawab. Mahasiswa pun terlihat sangat antusias untuk bertanya. Dalam kesempatan ini Arifin mengungkapkan idenya agar kita sebagai generasi penerus memikirkan mobil listrik dan mobil kecil. Hal ini dikarenakan terjadi macet di berbagai wilayah di Indonesia, kalau mobilnya itu “ itu saja maka macet ini akan terus terjadi. BBM juga semakin langka, jadi kita harus mencari alternatif salah satunya dengan mobil listrik. Arifin juga mengatakan bahwa bakat wirausaha itu perlu dan selanjutnya agar dibentuk supaya kita memiliki nilai “ nilai dalam berwirausaha sehingga dalam perjalanan membangun usaha menjadi mudah.

Reporter : Armelia