Semua tulisan dari abdillah akbar

Brawijaya Jazz Festival XVII Hadir Dengan Konsep Baru

Malang, Dianns.org – Acara tahunan Brawijaya Jazz Festival XVII kembali digelar oleh Unit Aktivitas Band Universitas Brawijaya (Homeband UB) pada tanggal 4-5 April 2012. Mengambil tempat di Samantha Krida UB, acara Brawijaya Jazz Festival tahun ini menghadirkan sesuatu yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Dimulai dari acara Road to Kharisma yang diadakan di salah satu cafe di kota Malang, hingga masuk kepada konsep acara yang dibuat lebih menarik dan meriah yang akan memanjakan para pencinta musik Jazz di lingkungan UB. Lanjutkan membaca Brawijaya Jazz Festival XVII Hadir Dengan Konsep Baru

Bolehkah?

Penulis : Valentinez Hemanona

Black coffee”, kataku setelah membolak-balikkan menu.
Pelayan itu tersenyum ramah. “Pencinta kopi?” Tanyanya sambil mencatat pesanan. Aku tersenyum menggelengkan kepala. Tiba-tiba mataku terpaku pada laki-laki yang baru saja memasuki cafe ini. Dengan cepat aku menambahkan machiatto ke dalam pesanan.
“Aha, pesanan pacar rupanya”, ujar pelayan mengambil menu dan berlalu sambil tersenyum.

“Ada apa kamu sama pelayan itu?” Tanyamu sambil menarik kursi di hadapanku.

“Biasa, pencitraan cafe baru”

“Citra, you really don’t know how beautiful you are, do you?”

“Tapi dia tahu pesanan black coffee-ku untuk kamu”, dan kamu tersenyum malu. Memikat. Seperti biasa.

Ada Dia Di Matamu

Penulis : Valentinez Hemanona
“Jadi, sampai kapan kita harus menyimpan ini?” Tanyaku.

“Entahlah, aku tak tega dengan Tari. Anak-anakku juga..”

“Katakan saja! Kalian menikah karena keluarga, lalu mengapa khawatir? Apa kau cinta istrimu?”

“Kami menikah memang karena keluarga, tapi Tari orang baik. Dia tidak pernah meminta sepeser pun dari ku”.

“Baguslah, dia bisa mandiri tanpa kau..”
Kuhisap rokok ku dalam-dalam, Nendra menatapku sinis.

“Ada apa? Kau marah padaku? Benar kan kau cinta istrimu itu? Kau cinta pun aku tak apa. Apa peduli ku!” Ujarku risih.

Suara Kecil Pekerja Pena

Penulis : Anita Aprilia

Derap langkahnya terkesan arogan dan dibuat-buat.  Aku hanya sebagai anak dari induk semang yang tunduk dalam setiap arahan dari mulutnya. Selepas ini bicaraku pasti mendapat cibiran dari orang-orang penting ujung sana. Belum lagi tugasku selesai aku hanya dapat bersimpuh lekang di kaki orang-orang itu. Mulutku ditutup, tanganku dibiarkan dalam ikatan teramat kuat. Dipaksa untuk berbicara dalam rekayasa cerita yang dibuat dalam mata obyektifitas sang induk semang. Aku hanya tertunduk menunggu saat yang tepat untuk menghakiminya. Menghakimi lewat goresan-goresan tinta hitam yang aku buat untuk menyadarkan mereka bahwa aku dan kami adalah bagian dari mereka.

Lanjutkan membaca Suara Kecil Pekerja Pena